Nenek 78 Tahun di Trenggalek Tetap Jualan Ikan, Lawan Usia dengan Semangat Baja
KBRT – Di tengah hiruk-pikuk pasar basah yang penuh dengan suara tawar-menawar, berdiri tegap seorang perempuan sepuh yang suaranya tak kalah lantang. Dialah Siti Fatimah (78), nenek asal Desa Salamrejo, Kecamatan Karangan, sosok tangguh yang tak sudi menyerah pada usia. Sejak tahun 1973, Fatimah setia menggelar lapak ikan, menjajakan hasil laut dan tawar dengan ketekunan yang menginspirasi.F...
08 May 2025 • 15:00 WIB
Penjual ikan di Trenggalek yang tangguh. KBRT/Nandika
KBRT – Di tengah hiruk-pikuk pasar basah yang penuh dengan suara tawar-menawar, berdiri tegap seorang perempuan sepuh yang suaranya tak kalah lantang. Dialah Siti Fatimah (78), nenek asal Desa Salamrejo, Kecamatan Karangan, sosok tangguh yang tak sudi menyerah pada usia.
Sejak tahun 1973, Fatimah setia menggelar lapak ikan, menjajakan hasil laut dan tawar dengan ketekunan yang menginspirasi.
Fatimah, yang lahir dua tahun setelah proklamasi kemerdekaan, adalah saksi hidup perjalanan bangsa. Ia pernah berjualan di Pasar Pon, bahkan sebelum pasar itu luluh lantak dilahap api. Puluhan tahun berlalu, semangatnya tak pernah padam.
Advertisement
Ketika banyak lansia memilih bersandar dan beristirahat, Fatimah justru memilih bangkit. Baginya, berdagang bukan sekadar mencari nafkah, tetapi cara menjaga raga dan jiwa agar tetap waras dan sehat.
"Sampai sekarang saya masih semangat berjualan supaya tetap mengasah otak dan badan saya agar tetap sehat," ujar Fatimah dengan mata berbinar.
Anak-anaknya sudah berkali-kali memintanya berhenti. Namun, Fatimah menolak diam di rumah. Ia justru merasa pilu saat melihat teman sebayanya terbaring karena penyakit.
Kini, dengan bantuan cucunya yang setia mengantar jemput, Fatimah tetap turun ke pasar. Ikan-ikan dagangannya, yang didapat dari pengepul atau diantar langsung ke rumah, ia tata dengan cekatan. Dengan tangan renta namun terampil, ia memotong dan melayani pembeli tanpa keluh.
"Nanti kalau dagangan tidak habis saya masukkan ke timba sendiri, ya cuma menata dagangan itu enteng," katanya, tersenyum.
Fatimah menjajakan beragam ikan laut dan tawar: tuna, tongkol, udang, cumi, gabus, lele, hingga gurame. Ikan gabus jadi primadona, dijual seharga Rp100.000 per kilogram. Menurutnya, khasiat ikan gabus dalam mempercepat penyembuhan luka membuat harganya setara dengan udang laut.
"Ikan gabus itu juga jarang bawa banyak. Hari ini saya dapat sekitar 2 kilogram hidup dari tetangga dan belum habis dalam sehari ini," tandasnya.
Siti Fatimah bukan sekadar pedagang ikan. Ia adalah potret ketangguhan perempuan desa yang menolak tunduk pada usia. Di balik kerut wajahnya, tersimpan kisah perjuangan yang patut menjadi teladan bagi generasi muda.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
TAGS
Advertisement
Artikel Terkait
PPKM Diperpanjang Lagi, Warung Makan dan Pedagang Kaki Lima Boleh Buka dengan Prokes Ketat
Pertama Digelar di Trenggalek, 13 Organisasi Merajut Indonesia dari Desa Melalui Doa Bersama