Menghindari Stereotip tentang 'Wartawan Bodrek'
Profesi wartawan itu mulia, sama mulianya dengan profesi sebagai Polisi atau Bupati atau Anggota DPR. Tapi, jika kemudian muncul sebutan wartawan bodrek, itu tak lebih bisa diartikan sebagai anomali. Ya, wartawan bodrek adalah anomali. Jamak diketahui, pilar demokrasi ada 4, yakni Eksekutif (presiden, gubernur, walikota, dan bupati beserta perangkatnya). Legislatif (MPR RI, DPR RI, DPD RI, dan...
T
Trigus D Susilo
12 Jul 2023 • 23:56 WIB
Profesi wartawan itu mulia, sama mulianya dengan profesi sebagai Polisi atau Bupati atau Anggota DPR. Tapi, jika kemudian muncul sebutan wartawan bodrek, itu tak lebih bisa diartikan sebagai anomali. Ya, wartawan bodrek adalah anomali.
Jamak diketahui, pilar demokrasi ada 4, yakni Eksekutif (presiden, gubernur, walikota, dan bupati beserta perangkatnya). Legislatif (MPR RI, DPR RI, DPD RI, dan DPRD). Yudikatif yaitu Mahkamah Agung (MA), Mahkamah Konstitusi (MK), dan Komisi Yudisial (KY) dan yang ke 4 adalah Pers yaitu media massa. Pers merupakan pilar demokrasi ke-4.
Namun, munculnya anggapan dari masyarakat bahwa insan pers (wartawan) adalah "orang yang cari-cari masalah untuk mencari uang" tidak terlepas dari adanya wartawan yang menanggalkan kemewahan idealisme pers demi kemewahan penghasilan. Anggapan masyarakat semacam itu tidak sepenuhnya salah, karena faktanya memang ada.
Namun anggapan demikian tidak bisa di-gebyah uyah (digeneralisir) sehingga menganggap semua wartawan sebagai biang masalah. Sebagaimana kita ketahui, di pilar demokrasi lainnya juga ada kasus serupa, misalnya beberapa polisi yang melakukan kejahatan–ingat kasus Sambo–, bupati yang korupsi –ingat kasus bupati Tulungagung, Syahri Mulyo–, atau Sekretaris Mahkamah Agung yang terjerat kasus suap – ingat Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Hasbi Hasan–. Seluruh pilar-pilar demokrasi tidak bisa terlepas dari sebuah kasus.
Namun dari adanya kasus-kasus tersebut, kita harus meyakini bahwa masih banyak orang baik yang tetap menjalankan tugasnya sesuai amanah undang-undang. Berarti masih ada polisi baik, bupati baik, hakim baik dan tentu wartawan baik. Lantas bagaimana membedakan mana wartawan gadungan (lazim disebut wartawan bodrek) dan mana wartawan baik.
Ciri-Ciri Wartawan Bodrek alias Wartawan Abal-Abal
Wartawan bodrek atau abal-abal seringkali melakukan pemberitaan yang tidak dapat dipercaya dan merugikan masyarakat. Berikut adalah beberapa ciri-ciri wartawan bodrex saat melaksanakan liputan di masyarakat:- Tidak berbadan hukum perusahaan pers
- Alamat redaksi tidak jelas
- Tidak mencantumkan nama penanggungjawab dalam boks redaksi
- Terbit temporer
- Berpenampilan sok jago dan tidak tahu etika
- Mengaku anggota organisasi wartawan tapi tidak jelas
- Mengenakan atribut aneh dan pertanyaan yang diajukan hanya tendensius
- Tidak juga bertatakrama jurnalis
- Meremehkan bahkan kadang mengancam dan memeras narasumber
- Tidak memiliki sertifikat kompetensi (kecuali magang)
- Memiliki kartu Pers
- Memahami cara kerja jurnalis
- Membuat berita sesuai kaidah jurnalis
- Berbadan hukum perusahaan pers
- Alamat redaksi jelas
- Mencantumkan nama penanggungjawab dalam boks redaksi
- Terbit secara berkala
- Bertindak profesional dan etis
- Tidak memeras narasumber
- Memiliki sertifikat kompetensi
- Menunjukkan identitas diri kepada narasumber
- Menghormati hak privasi
- Tidak menyuap dan tidak menerima suap
- Melayani hak jawab dan mencabut serta meralat kekeliruan dalam pemberitaan
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!