Korelasi Pasca Pandemi dengan Pembiasaan Baru dalam Pendidikan
Oleh: Yuli Sunaslikah Belakangan ini, permasalahan baru yang muncul dalam aspek pendidikan semakin bertambah dari berbagai penjuru arah. Di antaranya berkaitan dengan problematika yang dialami pendidik di era pasca pandemi Covid-19. Sejatinya kita patut bersyukur karena masa pandemic telah berlalu, namun bagaimanakah dengan dampak yang kita peroleh sebagai palaku pendidikan? Peserta didik di...
T
Tim Redaksi
09 Oct 2022 • 01:28 WIB
Oleh: Yuli Sunaslikah
Belakangan ini, permasalahan baru yang muncul dalam aspek pendidikan semakin bertambah dari berbagai penjuru arah. Di antaranya berkaitan dengan problematika yang dialami pendidik di era pasca pandemi Covid-19.
Sejatinya kita patut bersyukur karena masa pandemic telah berlalu, namun bagaimanakah dengan dampak yang kita peroleh sebagai palaku pendidikan? Peserta didik dituntut untuk mengikuti pembelajaran berbasis daring yang mana erat kaitanya dengan teknologi. Di mana, peserta didik yang semula awam dengan pembiasaan baru berupaya semaksimal mungkin untuk bisa mendapatkan pendidikan selayaknya.
Bahkan dengan keterlibatan orang tua sebagai supporter dan penyedia prasarana menimbulkan berbagai masalah yang cukup memprihatinkan, belum lagi persoalan peningkatan kemampuan guru untuk memanfaatkan teknologi dalam kegiatan belajar dan mengajar.
Keterbatasan infrastruktur jaringan internet, ketiadaan peralatan komputer, guru yang gagap teknologi informatika, pendampingan kepada peserta didik selama belajar di rumah menjadi tantangan yang tidak kalah peliknya. Kini pembiasaan tersebut berimbas pada proses pembelajaran selanjutnya dalam perspektif guru.
Faktanya, kebiasaan ketergantungan peserta didik dalam penggunaan teknologi terutama gadjet memberikan PR berkelanjutan. Bagaimana tidak? Dapat dilihat dari cara peserta didik memecahkan masalah, mereka cenderung langsung berfokus pada gadjet dan menjadikan google sebagai sumber pemecah masalah.
Sama halnya selama pembelajaran daring mereka lakukan di rumah, disebabkan kurangnya informasi yang mereka terima dari penjelasan guru peserta didik tidak lagi mengajak diskusi dan menyampaikan pendapatnya. Sehingga, pembiasaan critical thingking menjadi samar
Bahkan, tak sedikit dari peserta didik menginginkan kembali menerapkan pembelajaran daring, mereka berasumsi hal itu lebih mudah dilakukan daripada belajar menentukan masalah, mengidentifikasi, dan mengeksplorasi masalah sampai pada menemukan sendiri dari pemecahan masalah itu.
Menurut pengamatan saya sejauh ini, indikator pencapaian belajar yang mereka inginkan justru lebih rendah dari sebelum pandemi. Meskipun tidak kita pungkiri, kemajuan dalam mengenal teknologi mereka berkemajuan pesat hal ini tentunya menambah beban pelaku pendidikan untuk lebih exstra lagi dalam membangun karakter anak bangsa.
Karena sejatinya, sebagaimana petuah Ki Hadjar Dewantara, setiap orang adalah guru, setiap rumah adalah sekolah. Oleh karena itu, saya berharap gagasan mengenai "Merdeka Belajar" selayaknya diterjemahkan secara mendetail dengan tidak memerdekakan segala tindakan guna pencapaian yang diinginkan bisa terwujud.
Yuli Sunaslikah adalah Guru SMK Muhammadiyah 2 Tulungagung
*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi kabartrenggalek.com.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
Advertisement
Artikel Terkait
Pendidikan
25 Jul 2024
Alasan Sekolah Banyak, Pemerintah Tak Kunjung Bangun SMPN 1 Suruh
Pendidikan
25 Jul 2024
Toilet dan Ruang Guru SMPN 1 Suruh Rusak Parah, Pemerintah Cuma Cuek
Opini
26 Jun 2024
Kesulitan Belajar pada Anak: Mengatasi Tantangan dalam Pendidikan
Pendidikan
22 Feb 2024
Akademisi Universitas Indonesia Ungkap 5 Masalah Baru dari Sistem PPDB di Sekolah
Nasional
03 Nov 2022
Dana BOS Tahap II Rp1,166 Triliun Cair untuk 48.660 Madrasah
Pendidikan
01 Nov 2022