Kasus DBD di Trenggalek Turun, Dinkes Ingatkan Warga Jangan Terlena Siklus Tiga Tahunan
Kasus Demam Berdarah Dengue di Trenggalek turun menjadi 54 kasus pada semester pertama 2026. Dinkes mengingatkan DBD memiliki siklus tiga hingga empat tahunan.
07 Jul 2026 • 12:00 WIB
Demam Berdarah di Trenggalek masih melandai. KBRT/Zamz
Ringkasan
- Semester I 2026 tercatat 54 kasus DBD di Trenggalek.
- DBD memiliki siklus peningkatan setiap tiga hingga empat tahun.
- Dinkes mengajak masyarakat mengaktifkan gerakan satu rumah satu jumantik.
TRENGGALEK – Jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Trenggalek menunjukkan tren menggembirakan pada semester pertama 2026. Namun, Dinas Kesehatan (Dinkes) mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap ancaman penyakit ini telah berakhir. Sebab, DBD memiliki pola siklus yang dapat kembali meningkat setiap tiga hingga empat tahun.
Berdasarkan data Dinkes Trenggalek, sejak Januari hingga Juni 2026 tercatat 54 kasus DBD. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan tren pada tahun-tahun sebelumnya.
"Jadi untuk kondisi terkait demam berdarah dengue di Kabupaten Trenggalek, di awal tahun 2026 data Januari sampai dengan bulan Juni, di semester I kalau dibandingkan dengan tahun sebelumnya mengalami penurunan," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Trenggalek, Andiek Muarifin.
Advertisement
Andiek menjelaskan, penurunan kasus tersebut masih sejalan dengan pola penyebaran DBD yang selama ini dikenal memiliki siklus tiga hingga empat tahunan.
Pada 2023, jumlah penderita DBD di Trenggalek tercatat sebanyak 129 kasus. Angka itu melonjak drastis pada 2024 hingga mencapai 1.070 kasus. Memasuki 2025, kasus mulai turun menjadi 539, sedangkan pada semester pertama 2026 tercatat 54 kasus.
"Jadi kalau kami jumlah penyakit DBD mulai semester I ini sebesar 54. Jadi DBD ini mengenal dengan siklus tiga sampai empat tahun. Kami ambil saja data mulai tahun 2023 kami ada kasus 129 selama setahun, kemudian tahun 2024 itu yang banyak ada kenaikan yang lumayan 1.070 penderita," jelas Andiek.
"Di tahun 2025 ini mulai menurun sebanyak 539. Kalau kami lihat tren ini ada siklus tiga tahunan dari mulai 2023 dengan awal 2026 ini linier mulai agak sama polanya, alhamdulillah semakin menurun," terangnya.
Meski angka kasus menurun, Dinkes memastikan upaya pencegahan tetap menjadi prioritas. Edukasi kepada masyarakat dan kolaborasi lintas sektor terus dilakukan agar tren positif ini bisa dipertahankan.
"Kami tetap meningkatkan kewaspadaan, promosi kesehatan, kerja sama antar pihak, kami tetap tingkatkan," tegasnya.
Menurut Andiek, pencegahan DBD paling efektif justru dimulai dari lingkungan rumah masing-masing. Karena itu, masyarakat didorong mengaktifkan gerakan Satu Rumah Satu Jumantik atau juru pemantau jentik.
Setiap anggota keluarga diharapkan rutin memeriksa tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, seperti bak mandi, selokan, ember, maupun wadah penampungan air lainnya, minimal sekali dalam sepekan.
"Jadi masyarakat ini tetap waspada dimulai dari lingkungannya masing-masing, mulai di rumahnya masing-masing ada jumantik. Apa itu jumantik? Juru pemantau jentik, satu rumah satu jumantik, setiap seminggu sekali cek bak kamar mandi, selokan," imbau Andiek.
Selain itu, masyarakat juga diminta konsisten menerapkan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup atau mengubur barang bekas yang berpotensi menampung air, serta menghilangkan berbagai genangan yang dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Langkah "Plus" juga mencakup kebiasaan sederhana seperti tidak membiarkan pakaian menumpuk di gantungan, membersihkan pot bunga, hingga meniadakan cekungan yang bisa menampung air hujan.
"Pemberantasan sarang nyamuk ini harus ditingkatkan dengan 3M Plus. 3M mengubur, menguras, menimbun, plus baju banyak di gantungan dicuci, pot bunga, dan cekungan air harus ditiadakan," pesannya.
Andiek menjelaskan, perkembangan nyamuk penyebab DBD sangat dipengaruhi kondisi cuaca. Saat curah hujan tinggi, genangan air lebih banyak terbentuk sehingga populasi nyamuk berpotensi meningkat.
Sebaliknya, musim kemarau seperti saat ini ikut berkontribusi terhadap penurunan jumlah kasus.
"Nyamuk ini biasanya di genangan air, biasanya saat curah hujan tinggi, itu hujan terus menerus. Ini musim kemarau korelasi dengan jumlah kasus yang mengalami penurunan," paparnya.
Meski begitu, kewaspadaan tetap diperlukan di seluruh wilayah Trenggalek. Berdasarkan riwayat kasus beberapa tahun terakhir, penyebaran DBD paling banyak ditemukan di kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi, khususnya wilayah perkotaan.
Sementara itu, daerah pegunungan juga tetap memiliki potensi menjadi habitat nyamuk apabila terdapat genangan air di kawasan hutan, kebun, maupun tempat penampungan getah.
"Secara umum semua tetap waspada melihat riwayat sebelumnya angka DBD tinggi itu wilayah padat penduduk di wilayah kecamatan kota, karena di pegunungan banyak hutan, kemudian ada tempat getah ada genangan air bisa jadi sebagai tempat berkembangnya nyamuk," ujarnya.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
Advertisement
Artikel Terkait
Kasus DBD di Trenggalek Awal 2026 Tembus 18, Kecamatan Bendungan dan Dongko Tertinggi
DBD Masih Renggut Nyawa, Trenggalek Catat Dua Kematian di 2025
Kasus Demam Berdarah di Trenggalek 2025 Turun Lebih dari Separuh, Dinkes Catat 525 Kasus
Warga Terkena Demam Berdarah di Trenggalek Naik, 1 Pasien Meninggal
Masuki Tahap Uji Coba, Dinkes PPKB Pastikan Kualitas Program Makan Siang Gratis