DBD Masih Renggut Nyawa, Trenggalek Catat Dua Kematian di 2025
Meski kasus menurun, Dinkes Trenggalek mencatat demam berdarah tetap menyebabkan kematian pada 2025.
28 Dec 2025 • 08:00 WIB
Dua warga trenggalek meninggal karena demam berdarah di tahun 2025. KBRT/Zamz
Ringkasan
- DBD menyebabkan dua kematian di Trenggalek sepanjang 2025
- Jumlah kematian sama seperti tahun 2024
- Dinkes mengingatkan bahaya DBD jika terlambat ditangani
KBRT – Meski jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Trenggalek mengalami penurunan sepanjang 2025, penyakit ini tetap menimbulkan korban jiwa.
Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes Dalduk KB) Trenggalek mencatat dua pasien meninggal dunia akibat DBD selama tahun 2025.
Jumlah kematian tersebut sama dengan angka kematian akibat DBD pada tahun 2024, meskipun secara total kasus pada 2025 turun cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa DBD masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.
Advertisement
Kepala Dinkes Dalduk KB Trenggalek, Sunarto, mengatakan kematian akibat DBD umumnya berkaitan dengan keterlambatan penanganan medis dan rendahnya kewaspadaan terhadap gejala awal penyakit.
“Walaupun jumlah kasus menurun, kami tetap mencatat ada dua pasien meninggal dunia di tahun 2025. Ini menunjukkan DBD masih berpotensi fatal jika terlambat ditangani,” ujar Sunarto.
Ia menjelaskan, gejala awal DBD sering kali dianggap sebagai demam biasa. Padahal, apabila tidak segera ditangani, kondisi pasien bisa memburuk dalam waktu singkat dan berujung pada komplikasi serius.
Sunarto menekankan pentingnya peran keluarga dalam mendeteksi gejala awal DBD, seperti demam tinggi mendadak, nyeri sendi, sakit kepala, dan tanda perdarahan ringan. Jika muncul gejala tersebut, masyarakat diminta segera membawa pasien ke fasilitas kesehatan terdekat.
Selain aspek penanganan medis, Dinkes Dalduk KB Trenggalek juga menyoroti pentingnya pencegahan sebagai upaya menekan angka kematian.
Pencegahan dilakukan melalui kampanye Gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, mengubur barang bekas, serta langkah tambahan seperti penggunaan lotion anti-nyamuk, pemasangan kelambu, dan menjaga kebersihan lingkungan.
"Kami juga terus membagikan larvasida kepada warga dan melakukan fogging fokus di daerah endemis sebagai langkah pengendalian vektor penyakit. Namun demikian, bahwa fogging bukan solusi utama, melainkan langkah pendukung yang harus dibarengi dengan perubahan perilaku masyarakat," papar dia.
Dengan masih adanya korban jiwa akibat DBD, Dinkes Dalduk KB Trenggalek mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak mengabaikan potensi bahaya penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk tersebut.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
Advertisement
Artikel Terkait
Kasus DBD di Trenggalek Awal 2026 Tembus 18, Kecamatan Bendungan dan Dongko Tertinggi
Kasus DBD di Trenggalek Turun Tajam, Tapi Gejalanya Kini Makin Sulit Ditebak
Dinkes Ungkap Trenggalek dan Bendungan Jadi Kecamatan Penyumbang DBD Terbanyak 2025
Kasus Demam Berdarah di Trenggalek 2025 Turun Lebih dari Separuh, Dinkes Catat 525 Kasus
Waspada Demam Berdarah di Trenggalek, Ada Temuan 40 Kasus pada Awal Musim Hujan