Panggul dan Gandusari Jadi Penyumbang Siswa Terbanyak Sekolah Rakyat Trenggalek
Panggul dan Gandusari menjadi wilayah penyumbang siswa terbanyak Sekolah Rakyat Trenggalek. Sebanyak 94 persen calon siswa berasal dari warga lokal.
03 Aug 2026 • 10:00 WIB
Siswa sekolah rakyat trenggalek banyak yang dari panggul dan gandusari. KBRT/Zamz
Ringkasan
- Panggul-Gandusari terbanyak
- 94 persen warga Trenggalek
- Sekolah berbasis asrama
TRENGGALEK - Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Trenggalek mulai bersiap memasuki tahap pembelajaran perdana. Dari ratusan calon peserta didik yang telah terdata, Kecamatan Panggul dan Gandusari tercatat menjadi wilayah dengan jumlah siswa terbanyak.
Sekolah berbasis asrama tersebut akan mulai menjalankan rangkaian kegiatan pengenalan lingkungan sekolah bagi peserta didik baru pada 1 hingga 15 Agustus 2026. Setelah itu, siswa akan mengikuti program matrikulasi hingga akhir September sebelum masuk pembelajaran penuh.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Trenggalek, Yogyantoro mengatakan mayoritas calon peserta didik berasal dari Kabupaten Trenggalek. Dari data yang masuk, sekitar 94 persen calon siswa merupakan warga lokal.
Advertisement
Sementara sekitar 6 persen lainnya berasal dari luar daerah dan masih menjalani proses penyesuaian administrasi kependudukan, baik untuk perpindahan domisili maupun penetapan wali di Kabupaten Trenggalek.
"Sebanyak 94 persen berasal dari Kabupaten Trenggalek, sementara 6 persen masih proses transisi administrasi kependudukan dari luar Kabupaten Trenggalek agar bisa berdomisili atau perwaliannya di Kabupaten Trenggalek," kata Yogyantoro.
Dari sebaran wilayah tersebut, Kecamatan Panggul dan Gandusari menjadi dua daerah yang paling banyak menyumbang calon peserta didik.
Data itu berasal dari pendataan yang dilakukan melalui PIC Kementerian Sosial sebelum peserta didik masuk ke Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Trenggalek.
Sekolah Rakyat sendiri hadir dengan konsep pendidikan berbeda dibanding sekolah umum. Selain menerapkan kurikulum nasional, sekolah ini juga menggabungkan sistem pembelajaran berbasis asrama.
Seluruh siswa nantinya akan tinggal selama 24 jam di lingkungan sekolah dengan pendampingan wali asuh dan wali asrama.
"Kami menggunakan kurikulum nasional dan kurikulum plus keasramaan. Mereka tinggal 24 jam di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Trenggalek dengan penanganan wali asuh dan wali asrama yang menghandle kegiatan kokurikuler maupun ekstrakurikuler pada sore hingga malam hari," jelasnya.
Saat ini, Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Trenggalek telah memiliki tiga rombongan belajar (rombel). Rinciannya, satu rombel jenjang SMP dengan 25 siswa serta dua rombel jenjang SD yang masing-masing berisi 25 siswa.
Selain siswa yang sudah masuk dalam rombel awal, terdapat sekitar 240 calon peserta didik baru yang masih dalam proses pendataan.
Meski kegiatan belajar mulai berjalan, sekolah masih membuka kesempatan pendaftaran sepanjang tahun ajaran 2026/2027 melalui sistem entry multi exit.
Melalui sistem tersebut, masyarakat masih dapat mendaftarkan anaknya kapan saja selama tahun ajaran berlangsung.
"Kami akan terus membuka karena memiliki entry multi exit. Sepanjang tahun ajaran ini mereka masih bisa bersekolah di Sekolah Rakyat dan mendaftar pada bulan apa pun," ungkap Yogyantoro.
Dari sisi daya tampung, Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Trenggalek memiliki kapasitas yang jauh lebih besar dibanding jumlah siswa saat ini. Sekolah tersebut diproyeksikan mampu menampung lebih dari 1.000 peserta didik.
Namun, penerimaan siswa akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan kesiapan fasilitas dan kebutuhan pembelajaran.
"Kapasitas kami sebetulnya lebih dari 1.000 siswa. Kami akan terus merekrut calon siswa secara bertahap dari tahun ke tahun dengan membuka kuota yang lebih banyak," pungkasnya.
Sementara itu, untuk tenaga pendamping, beberapa wali asuh dan wali asrama masih menunggu Surat Keputusan (SK) dari Kementerian Sosial.
Sambil menunggu penetapan tersebut, pihak sekolah sementara memberdayakan personel Taruna Siaga Bencana (Tagana) yang telah masuk dalam rancangan SK untuk mendampingi aktivitas siswa.
"Beberapa wali asuh dan wali asrama masih menunggu SK dari Kementerian Sosial. Sementara ini kami memberdayakan kawan-kawan Tagana yang sudah ada draft SK-nya, sehingga tenaga yang sebelumnya bertugas sebagai juru masak maupun cleaning service kami alihkan sementara menjadi wali asuh dan wali asrama sambil menunggu PPPK definitif bertugas," paparnya.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
Advertisement
Artikel Terkait
Tak Lagi di BLK, Siswa Sekolah Rakyat Trenggalek Mulai Tempati Kompleks Baru
Sekolah Rakyat Trenggalek Bersiap Tinggalkan Kampus Rintisan, Siswa Pindah Akhir Juli
Sekolah Rakyat Trenggalek Siap Dibuka, 270 Siswa Jalani MPLS Mulai 1 Agustus
229 Anak Sudah Masuk Sekolah Rakyat Trenggalek, MPLS Tunggu Kelayakan Gedung
Verifikasi Ungkap Ketidaksesuaian Data Desil, 46 Anak Trenggalek Tetap Bisa Masuk Sekolah Rakyat