Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini

Press ESC / Click X icon to close

Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini
LoginKirim Artikel

Kapasitas Dipangkas, Program MBG di Trenggalek Belum Jangkau Semua Penerima

Pengurangan kapasitas dapur MBG di Trenggalek dilakukan demi kualitas, tapi berdampak pada belum meratanya layanan ke masyarakat.

Poin Penting

  • Kapasitas dapur MBG dipangkas demi menjaga kualitas makanan
  • Baru 66 dari 71 SPPG yang beroperasi di Trenggalek
  • Kebutuhan dapur diperkirakan masih kurang sekitar 100 unit

TRENGGALEK - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Trenggalek masih belum sepenuhnya menjangkau seluruh penerima manfaat. Salah satu penyebabnya adalah kebijakan pengurangan kapasitas produksi di tiap dapur layanan atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang diterapkan untuk menjaga kualitas makanan.

Kebijakan ini membuat jumlah porsi yang dilayani menurun, meski jumlah dapur terus bertambah.

Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, Sunarto, menyebut saat ini terdapat 71 SPPG yang tersedia. Namun, baru 66 unit yang sudah beroperasi, sementara sisanya masih dalam tahap persiapan.

“Yang operasional saat ini 66, sementara sisanya masih dalam proses,” ujarnya.

Ia merinci, lima SPPG yang belum berjalan terdiri dari tiga unit mitra dan dua dari pemerintah pusat. Beberapa dapur yang sudah aktif dari unsur Suspen berada di wilayah Ngetal, Kecamatan Pogalan, dan Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek.

Sementara itu, dua lokasi lain yang direncanakan di Serabah, Kecamatan Bendungan, serta Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, masih belum beroperasi hingga kini.

Sunarto menjelaskan, meski jumlah dapur bertambah, daya jangkau layanan belum maksimal karena adanya pembatasan produksi per SPPG. Saat ini, setiap dapur hanya melayani sekitar 2.500 penerima manfaat, turun dari sebelumnya yang bisa lebih dari 3.000 porsi.

ADVERTISEMENT

“Sekarang tiap SPPG hanya melayani sekitar 2.500 penerima manfaat, sebelumnya bisa lebih dari 3.000 porsi,” jelas Sunarto.

Menurutnya, langkah ini diambil untuk menekan risiko dalam pengolahan makanan sekaligus memastikan standar gizi tetap terjaga.

“Kalau terlalu banyak, tentu ada risiko dalam pengelolaan. Dengan pengurangan ini, kualitas bisa lebih terjaga,” imbuhnya.

Kebijakan yang mulai diterapkan dalam satu hingga dua bulan terakhir ini juga dinilai memudahkan pengawasan di lapangan.

Meski begitu, konsekuensinya kebutuhan dapur tambahan semakin besar. Saat ini, Trenggalek diperkirakan masih memerlukan sekitar 100 SPPG agar seluruh target penerima program bisa terlayani secara merata.

Pemerintah daerah bersama Satgas MBG masih terus melakukan evaluasi untuk menyeimbangkan antara perluasan cakupan layanan dan kualitas makanan yang diberikan.

Kabar Trenggalek - Peristiwa

Editor: Zamz