Jejak Gerilya Republik di Trenggalek: Menelusuri Perjalanan Mr. Susanto Tirtoprojo
Disusun oleh: Heru Dwi S. Pamong Budaya Disparbud Trenggalek
18 Aug 2026 • 08:00 WIB
Heru Dwi S Penulis Opini menelusuri jejak gerilya republik di Trenggalek. KBRT/TIm Redaksi
Menelusuri Perjalanan Bapak Susanto Tirtoprojo dari Bumi Hangus Trenggalek Hingga Rumah Demangan Karangtengah
Pada momentum perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, ada satu kisah dari Trenggalek yang rasanya layak kita ingat kembali. Bukan tentang upacara besar atau medan pertempuran yang ramai, melainkan tentang sebuah rumah di Desa Karangtengah, Kecamatan Panggul, yang pernah menjadi bagian dari perjalanan perjuangan Republik Indonesia.
Rumah itu dikenal masyarakat sebagai Rumah Demangan.
Saya pertama kali mengunjunginya pada tahun 2022, dalam rangka pendataan, pengamatan, dan dokumentasi. Saat itu saya mulai mencermati kondisi bangunan sekaligus cerita yang berkembang di masyarakat mengenai rumah tersebut.
Advertisement
Pada tahun 2023, saya kembali datang ke Rumah Demangan Karangtengah ditemani almarhum Bapak Agus Prasmono, yang saat itu menjabat sebagai Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Trenggalek, serta dua kawan dari komunitas sejarah dan cagar budaya, Mas Harmaji dan Mas Adib, yang masing-masing aktif dalam komunitas yang berbeda, namun memiliki semangat dan kepedulian yang sama terhadap perkembangan sejarah dan cagar budaya di Trenggalek.
Kunjungan pada tahun 2023 tidak sekedar melihat kembali bangunan tersebut. Kami melakukan pendataan secara lebih rinci terhadap objek, mulai dari pengukuran, observasi terhadap elemen dan karakter bangunan, analisis, hingga pengambilan gambar dan dokumentasi. Bersamaan dengan itu, kami juga menggali sumber-sumber lisan melalui wawancara dengan masyarakat sekitar.
Dari penelusuran tersebut, satu hal yang cukup menarik adalah bahwa ingatan kolektif masyarakat mengenai peristiwa sekitar tahun 1949 masih bertahan. Cerita mengenai Rumah Demangan, Demang Sarbini, orang-orang yang pernah datang, serta berbagai peristiwa yang berkembang pada masa itu masih diwariskan dalam ingatan keluarga maupun masyarakat sekitar.
Namun, dalam menyusun historiografi, cerita lisan tentu tidak dapat langsung ditempatkan sebagai fakta yang selesai. Setiap keterangan tetap perlu dibandingkan dan diuji melalui kritik sumber, baik dengan bukti lain, kondisi fisik objek, maupun sumber tertulis yang dapat memperkuat atau mengoreksinya.
Pada tahap itu, kami masih belum menemukan bukti tertulis yang cukup kuat untuk menjelaskan secara utuh apa yang sebenarnya terjadi di Rumah Demangan pada masa perjuangan tersebut. Oleh karena itu, pendataan 2023 justru menjadi bagian dari proses yang lebih panjang untuk mencari sumber-sumber lain.
Penelusuran berlanjut pada tahun 2025, ketika saya berkesempatan berbincang dengan Bapak Urip, mantan Kepala Desa Karangtengah periode 2003–2013. Dari beliau saya mendapatkan tambahan keterangan mengenai rumah dan keluarga Demang Sarbini. Melalui bantuan Pak Urip pula saya memperoleh salinan buku Nayaka Lelana, karya Pak Susanto Tirtoprojo.
Nayaka Lelana merupakan catatan pengalaman perjalanan gerilya Mr. Susanto Tirtoprojo yang ditulis dalam bahasa Jawa dengan bentuk tembang atau sekar macapat. Karya tersebut diterbitkan pada tahun 1949, tidak lama setelah masa gerilya yang dikisahkannya. Melalui pupuh-pupuh macapat, pengalaman perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, pertemuan dengan sejumlah pejabat Republik, serta berbagai peristiwa yang dialaminya selama masa perjuangan dituturkan dalam bentuk sastra Jawa tradisional.
Menariknya, pengalaman perjuangan yang begitu dekat dengan sejarah Republik justru dituturkan melalui bentuk sastra tradisional. Dari sumber inilah beberapa potongan cerita yang sebelumnya terpisah mulai dapat disusun.
Siapa Mr. Susanto Tirtoprojo?
Sebelum mengikuti perjalanan tersebut, penting untuk memahami terlebih dahulu siapa Mr. Susanto Tirtoprojo dalam struktur perjuangan dan pemerintahan Republik pada masa itu.
Susanto bukan sekadar seorang pejabat yang kebetulan ikut bergerilya. Pada masa Agresi Militer Belanda II, ia merupakan Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Kabinet Hatta.
Ketika Belanda menduduki Yogyakarta pada bulan Desember 1948 dan sejumlah pemimpin Republik ditangkap, Susanto termasuk di antara beberapa menteri yang tidak tertangkap dan kemudian tetap terlibat dalam upaya mempertahankan keberlangsungan pemerintahan Republik.
Sumber sejarah mengenai PDRI juga mencatat Susanto sebagai Wakil Ketua merangkap Menteri Kehakiman dalam susunan PDRI yang dipimpin oleh Bapak Sjafruddin Prawiranegara.
Sjafruddin Prawiranegara sendiri merupakan tokoh yang memimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang dibentuk di Sumatera setelah Yogyakarta menduduki Belanda dan para pemimpin Republik ditawan.
PDRI menjadi salah satu upaya penting untuk memastikan bahwa pemerintahan Republik tidak dianggap berhenti hanya karena ibu kota dan sebagian pemimpinnya berhasil menguasai Belanda.
Sementara itu, di Jawa, para pejabat Republik yang masih bebas bergerak melalui jaringan pemerintahan dan jalur gerilya. Dalam perkembangan berikutnya terbentuk pula jaringan pemerintahan Republik di Jawa yang berhubungan dengan PDRI di Sumatera.
Oleh karena itu, perjalanan Susanto di Jawa, termasuk ketika melewati Trenggalek, perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Ia bukan sekadar perjalanan seorang tokoh dari satu tempat ke tempat lain, tetapi bagian dari upaya mempertahankan keberlangsungan pemerintahan Republik dalam keadaan perang dan gerilya.
Perjalanan Bpk. Susanto Tirtoprojo di Trenggalek
Jika mengikuti jejak perjalanan yang dituturkan dalam Nayaka Lelana, perjalanan Susanto menuju Trenggalek merupakan bagian dari rangkaian gerilya yang panjang.
Sebelum memasuki wilayah Trenggalek, perjalanan tersebut bergerak dari kawasan Gunung Wilis, setelah sebelumnya melewati wilayah Nganjuk, Kediri, hingga Tulungagung. Setelah turun dari kawasan Gunung Wilis, Susanto kemudian memasuki wilayah Trenggalek dan sampai di Dusun Telasih, yang sekarang termasuk wilayah Desa Parakan.
Dari titik inilah jejak perjalanan Susanto di Trenggalek mulai dapat ditelusuri lebih jauh. Perjalanan itu berlangsung dalam suasana Republik yang sedang berada dalam keadaan sangat genting.
Pasukan Belanda melakukan Agresi Militer Belanda II, sementara pemerintah Republik harus tetap berjalan dengan cara bergerak dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dan Trenggalek sendiri berada dalam situasi yang tidak kalah berat.
Peristiwa Bumi Hangus Trenggalek
Salah satu bagian penting dalam narasi ini adalah gambaran mengenai kondisi Trenggalek pada masa Agresi Militer Belanda II.
Dalam situasi perang tersebut, Trenggalek mengalami bumi hangus. Bangunan dan fasilitas yang berhubungan dengan pusat pemerintahan menjadi bagian dari kehancuran.
Salah satu kawasan yang penting adalah kompleks Pendopo Trenggalek beserta Alun-alun, yang pada masa itu merupakan ruang penting dalam kehidupan pemerintahan dan kota.
Catatan Nayaka Lelana mengenai keadaan Trenggalek tersebut menjadi semakin menarik ketika dibandingkan dengan potret udara tahun 1949 dari koleksi KITLV yang menampilkan kawasan kota Trenggalek, kompleks termasuk Pendopo dan Alun-alun.
Foto tersebut saya peroleh dari seorang kawan, Mas Arie Setiabudi, yang juga aktif mengelola akun Instagram Arsip Trenggalek, sebuah akun yang memberikan informasi dan edukasi mengenai arsip serta berbagai rekaman masa lalu, khususnya yang berkaitan dengan Trenggalek.
Bagi saya, pertemuan antara catatan perjalanan di Nayaka Lelana dan arsip visual KITLV tersebut memberikan gambaran yang lebih kuat mengenai situasi Trenggalek pada masa perang.
Sumber tertulis memberikan bukti mengenai apa yang dialami dan dilalui, sementara potret udara memberikan gambaran visual mengenai ruang kota yang menjadi latar dari peristiwa tersebut.
Bumi hangus inilah yang menjadi salah satu kunci untuk memahami perjalanan gerilya para pejabat Republik.
Ketika pusat pemerintahan dan berbagai fasilitas kota tidak lagi dapat digunakan secara normal, pemerintahan Republik tidak serta-merta berhenti. Koordinasi tetap dilakukan, namun harus berlangsung secara bergerak, dari satu tempat ke tempat lain, mengikuti jalur gerilya dan memanfaatkan dukungan masyarakat di daerah-daerah yang dilalui.
Dari suasana inilah perjalanan Susanto di Trenggalek perlu dibaca!
Setelah memasuki wilayah Trenggalek, perjalanan Susanto tidak hanya berisi perpindahan tempat, tetapi juga berbagai acara dan pertemuan yang menampilkan bagaimana komunikasi pemerintahan Republik tetap berlangsung dalam keadaan gerilya.
Salah satu kisah yang menarik dalam Nayaka Lelana adalah mengenai kedatangan Bupati Ngawi yang membawa kabar mengenai keadaan pemerintahan Republik di Jawa Timur.
Dalam situasi ketika hubungan antardaerah sangat sulit dilakukan, kedatangan seorang pejabat dari wilayah lain tentu bukan sekadar kunjungan. Ia menjadi bagian dari jalur komunikasi untuk menyampaikan perkembangan keadaan Republik dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
Dalam rangkaian kabar tersebut juga disebut mengenai Gubernur Jawa Timur RMTA Murjani dan sejumlah pejabat Republik yang menghadapi situasi genting akibat ofensif Belanda.
Peristiwa tersebut menggambarkan betapa rapuhnya posisi pemerintahan Republik pada masa itu. Para pejabat tidak lagi bekerja dalam situasi pemerintahan yang normal, melainkan harus berpindah, bersembunyi, dan mempertahankan hubungan komunikasi dari satu wilayah ke wilayah lain.
Kisah mengenai Bupati Ngawi dan kabar tentang Gubernur Jawa Timur tersebut menjadi penting karena menunjukkan bahwa perjalanan gerilya Susanto bukanlah perjalanan yang berdiri sendiri.
Ia merupakan bagian dari jaringan pemerintahan yang lebih luas, yang menghubungkan satu kabupaten dengan kabupaten lain, bahkan menghubungkan para pejabat yang sedang bergerak di berbagai wilayah Jawa Timur.
Dari sinilah Nayaka Lelana menjadi sumber yang menarik. Ia tidak hanya mencatat perjalanan pribadi Susanto, namun secara tidak langsung juga merekam penggalan komunikasi pemerintahan Republik pada masa Agresi Militer Belanda II.
Perjalanan kemudian berlanjut melalui sejumlah wilayah di Trenggalek.
Di Masjid Jami Gandusari, tercatat pertemuan Susanto dengan KH Masykur dan Bapak Sunario Sastrowardoyo. Pertemuan tersebut menjadi salah satu bagian menarik dari perjalanan pemerintahan Republik di Trenggalek pada masa gerilya.
KH Masykur pada masa itu menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia, sementara Mr. Sunario Sastrowardoyo merupakan Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri. Keduanya merupakan bagian dari jaringan pemerintahan Republik yang tetap bergerak dan menjalankannya di tengah situasi Agresi Militer Belanda II.
Nama Sunario kemudian semakin dikenal dalam sejarah nasional. Ia menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia pada tahun 1953–1955 dan menjadi salah satu tokoh penting dalam diplomasi Indonesia.
Oleh karena itu, pertemuan di Gandusari tersebut menarik untuk dilihat bukan semata-mata sebagai persinggahan seorang pejabat, tetapi sebagai bagian dari pergerakan jaringan pemerintahan Republik di wilayah Trenggalek ketika pusat-pusat pemerintahan tidak lagi dapat berjalan secara normal.
Perjalanan kemudian bergerak menuju Dongko. Dalam Nayaka Lelana, perjalanan di wilayah Dongko tidak hanya ditandai dengan nama wilayah, tetapi juga oleh tempat-tempat persinggahan yang lebih spesifik.
Salah satunya adalah Rumah Mertodimedjo di Dusun Belimbing, Desa Dongko, yang termasuk dalam catatan perjalanan Susanto. Catatan mengenai rumah Mertodimedjo ini penting karena memberikan gambaran bahwa jalur gerilya tidak hanya berlangsung dari satu pusat pemerintahan menuju pusat pemerintahan lainnya.
Rumah-rumah masyarakat menjadi bagian dari ruang perjalanan, tempat beristirahat, berlindung, menerima informasi, dan melanjutkan perjalanan.
Dengan demikian, jejak gerilya di Trenggalek tidak hanya dapat dibaca melalui bangunan pemerintahan atau tempat-tempat yang secara formal berkaitan dengan sejarah politik, tetapi juga melalui rumah-rumah masyarakat yang pernah menjadi bagian dari perjalanan para tokoh Republik.
Di kawasan Dongko pula perjalanan Susanto kemudian bersinggungan dengan tokoh-tokoh penting dalam perjuangan Republik.
Terdapat catatan mengenai pertemuan dengan Jenderal Sudirman dan KH Masykur. Pertemuan ini menjadi menarik karena menampilkan persinggungan dua jalur perjuangan Republik.
Sudirman bergerak sebagai Panglima Besar dalam perjuangan militer, sementara Susanto bergerak dalam jaringan pemerintahan Republik. Keduanya memiliki tugas yang berbeda, namun sama-sama bergerak melalui jaringan masyarakat dan wilayah pedesaan selama masa gerilya.
Dari rangkaian perjalanan tersebut, Susanto kemudian bergerak menuju wilayah selatan, melalui Siki dan Sawahan, hingga akhirnya sampai di Karangtengah.
Rumah Demangan Karangtengah
Rumah ini merupakan kediaman Demang Sarbini, seorang Kepala Desa Karangtengah yang pada masanya cukup disegani oleh masyarakat. Sebutan Demangan yang masih digunakan masyarakat hingga sekarang berkaitan dengan kedudukan tersebut.
Rumahnya berbentuk rumah tradisional Jawa dan pada masa itu juga pernah digunakan sebagai tempat penyelenggaraan pemerintahan desa. Namun, pada masa Agresi Militer Belanda II, rumah ini memperoleh arti yang jauh lebih penting.
Pak Susanto Tirtoprojo pernah tinggal sementara di rumah tersebut. Dalam keadaan pemerintahan Republik yang harus bergerak secara gerilya, tempat tinggal seorang pejabat dapat sekaligus menjadi tempat berkoordinasi dan menjalankan pekerjaan pemerintahan.
Menariknya, Nayaka Lelana memberikan gambaran bahwa Rumah Demangan bukan sekadar tempat singgah Susanto. Rumah tersebut menjadi salah satu ruang tempat Susanto menerima kedatangan sejumlah tokoh dan pejabat yang datang menghadapnya.
Di antara mereka adalah Letkol Zulkifli Lubis, Sosro Hadi Sewoyo, Wedono Lorog, serta Subekti, Bupati Pacitan. Kehadiran mereka di Rumah Demangan menampilkan bahwa rumah tersebut memiliki posisi yang cukup penting dalam perjalanan Susanto.
Dalam suasana pemerintahan Republik yang berlangsung secara berpindah-pindah, pertemuan dengan pejabat dari berbagai wilayah menjadi bagian dari upaya mempertahankan komunikasi dan koordinasi pemerintahan.
Zulkifli Lubis, yang kelak dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah awal intelijen Republik dan kemudian dikenal sebagai Bapak Intelijen Indonesia (Pendiri BIN), datang menghadap Susanto dalam rangkaian perjalanan tersebut.
Demikian pula Wedono Lorog dan Subekti, Bupati Pacitan, yang datang ke Rumah Demangan.
Kehadiran pejabat-pejabat tersebut memberikan petunjuk bahwa Rumah Demangan tidak hanya memiliki fungsi sebagai tempat tinggal sementara, tetapi juga menjadi ruang pertemuan dalam jaringan pemerintahan Republik yang sedang bergerilya.
Di dalam sebuah rumah milik seorang pejabat pemerintahan lokal bertemu dengan sejarah nasional. Rumah Demangan ruang menjadi perjumpaan antara pemerintah lokal, pejabat Republik, jaringan gerilya, dan masyarakat yang menjadi penopangnya.
Yang membuat Rumah Demangan semakin menarik adalah kondisi bangunannya yang masih relatif utuh. Struktur utama rumah dan berbagai bagian bangunan lamanya masih dapat dilihat hingga sekarang.
Di dalam rumah tersebut juga masih tersimpan sebuah kasur yang dipercaya pernah digunakan oleh Susanto Tirtoprojo ketika tinggal di sana.
Namun, ada satu catatan lain dari Nayaka Lelana yang menurut saya justru menampilkan sisi manusiawi dari hubungan antara Susanto dan Demang Sarbini.
Di tengah situasi gerilya, ketika kehidupan berlangsung dalam keadaan serba terbatas, Demang Sarbini mengadakan pertunjukan wayang kulit dengan lakon Dewaruci untuk merayakan weton kelahiran Susanto Tirtoprojo.
Peristiwa ini menarik. Sebab, pertunjukan wayang tersebut bukan semata-mata-mata hiburan masyarakat di tengah perang, melainkan bentuk perhatian Demang Sarbini kepada Susanto yang saat itu sedang menjalankan tugas dalam keadaan gerilya.
Dengan demikian, Rumah Demangan bukan hanya menyimpan kisah pertemuan dan koordinasi para pejabat Republik. Rumah ini juga merekam hubungan pribadi antara seorang pejabat Republik dengan keluarga dan masyarakat yang memberikan tempat kepadanya.
Di tengah keadaan perang, masih ada ruang bagi penghormatan, persahabatan, dan kebudayaan untuk tetap hidup. Pertunjukan wayang dengan lakon Dewaruci tersebut sekaligus menjadi salah satu catatan penting mengenai kehidupan sosial masyarakat Karangtengah pada masa gerilya.
Kisah Susanto di Karangtengah semakin menarik jika dibaca menyertai jejak Jenderal Sudirman di kawasan Panggul. Di Desa Bodag terdapat rumah yang berkaitan dengan persinggahan Jenderal Sudirman dan hingga kini masih bertahan sebagai salah satu tinggalan sejarah yang telah didata sebagai ODCB.
Sementara di Karangtengah berdiri Rumah Demangan yang menyimpan jejak perjalanan Susanto. Keduanya memiliki hubungan dengan masa gerilya, tetapi melalui jalur yang berbeda. Sudirman dengan jalur perjuangan militer, sedangkan Susanto dengan jalur pemerintahan Republik. Dan keduanya sama-sama masyarakat membutuhkan serta ruang-ruang pedesaan untuk mempertahankan perjuangan.
Kisah Rumah Demangan juga tidak berhenti setelah Agresi Militer Belanda berakhir. Ada cerita menarik, setelah keadaan Republik mulai stabil, Pak Susanto Tirtoprojo masih mengingat bantuan Demang Sarbini dan keluarganya selama masa gerilya.
Sebagai ungkapan terima kasih, Susanto kemudian mengirimkan sebuah radio kayu berukuran besar dengan 90 baterai serta lampu petromax kepada Demang Sarbini.
Benda-benda tersebut menjadi bagian dari ingatan keluarga mengenai masa ketika Rumah Demangan pernah menjadi tempat tinggal, tempat pertemuan, sekaligus salah satu ruang penting dalam perjalanan perjuangan Republik.
Saat ini Rumah Demangan ditempati oleh Bapak Rudi Wibisono, pensiunan pegawai Pemerintah Kabupaten Trenggalek yang juga merupakan cucu Demang Sarbini.
Dari lingkungan keluarga inilah sebagian ingatan mengenai rumah tersebut masih bertahan. Jejak keluarga Demang Sarbini juga masih dapat ditemukan di tempat lain. Putranya, Musono Sarbini, yang juga pernah menjadi perintis sekolah SMKN 1 Pogalan, namanya kemudian diabadikan sebagai nama Gedung/Aula Musono Sarbini di sekolah tersebut hingga sekarang.
Dalam momentum suasana batin perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, kisah Rumah Demangan mengingatkan kita bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya terjadi di kota-kota besar atau dalam pertempuran yang tercatat dalam buku sejarah.
Perjuangan juga berlangsung di desa-desa, di rumah-rumah masyarakat, di masjid, dan di jalan-jalan pegunungan. Para pejabat Republik berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Informasi disampaikan dari satu wilayah ke wilayah lain. Pemerintahan tetap berupaya untuk berjalan dalam keadaan yang serba terbatas. Dan masyarakat menjadi bagian penting dari semua itu.
Rumah-rumah seperti Rumah Demangan menjadi Saksi bahwa ketika Republik berada dalam keadaan paling genting, ada masyarakat yang membuka pintunya, memberikan tempat berlindung, membantu perjalanan, dan ikut menjaga agar perjuangan tetap berjalan.
Trenggalek menjadi salah satu bagian dari perjalanan tersebut. Dan Rumah Demangan Karangtengah menjadi salah satu penghuni yang hingga kini masih memungkinkan kita melihat kembali bagian dari sejarah itu secara lebih dekat.
Bukan hanya melalui sebuah bangunan, tetapi juga melalui ingatan keluarga, bukti masyarakat, arsip, sumber tertulis, dan benda-benda yang masih tersisa.
Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia!
Mari merayakan kemerdekaan dengan terus merawat kenangan, menjaga kehidupan sejarah, dan mengenang mereka yang pernah berjuang mempertahankan Republik, baik di medan perjuangan maupun dari rumah-rumah rakyat yang menjadi sandaran mereka.
Catatan: Tulisan ini disusun berdasarkan penelusuran lapangan, pendataan objek, wawancara sumber lisan, penelusuran sumber tertulis, serta dokumentasi dan arsip yang berkaitan dengan jejak perjalanan Republik Indonesia di Trenggalek.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
Advertisement
Artikel Terkait
OPINI: Hari UMKM Nasional 2026: Ayo Beli Produk Trenggalek
Memaknai Ulang Hari Koperasi: Dari Keramaian Menuju Keberdayaan
Mengoreksi Arah Politik Hukum Raperda Pemerintahan Desa Kabupaten Trenggalek
Simpan Delapan Jilid Manuskrip Kuno, Guru SMK di Trenggalek Ini Rawat Warisan Sang Ayah
Menggugat Politik Hukum Raperda Pemerintahan Desa Kabupaten Trenggalek