Dari Takir Plontang hingga Ayam Hidup, Ini Momen Paling Ditunggu di Ngitung Batih Tradisi di Trenggalek
Tradisi Ngitung Batih di Dongko Trenggalek kembali menyedot ribuan warga. Rebutan takir plontang dan ayam hidup menjadi momen paling ditunggu.
17 Jun 2026 • 16:00 WIB
Adat ngetung batih trenggalek yang masih lestari. KBRT/Zamz
Ringkasan
- Ribuan warga memadati Ngitung Batih 2026 di Lapangan Budaya Dongko.
- Rebutan takir plontang dan ayam hidup menjadi momen yang paling dinanti pengunjung.
- Tradisi Ngitung Batih telah berstatus Warisan Budaya Tak Benda Indonesia sejak 2023.
TRENGGALEK – Suasana Lapangan Budaya Dongko mendadak riuh sesaat setelah doa adat selesai dipanjatkan. Ribuan warga yang sejak pagi memadati lokasi langsung bergerak menuju pusat acara. Sebagian berebut takir plontang, sementara lainnya berlari mengejar ayam hidup yang dilepas dari atas panggung.
Momen itu menjadi puncak kemeriahan Upacara Adat Ngitung Batih 2026, tradisi khas Kecamatan Dongko yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.
Bagi masyarakat setempat, isi takir plontang maupun ayam yang diperebutkan bukan sekadar barang biasa. Keduanya dipercaya menjadi simbol keberkahan, harapan panen melimpah, serta rezeki yang lebih baik di masa mendatang.
Advertisement
Sebelum prosesi rebutan berlangsung, warga terlebih dahulu mengikuti kirab budaya yang menjadi pembuka rangkaian acara. Ratusan peserta berjalan mengarak takir plontang melewati jalan utama Kecamatan Dongko menuju Lapangan Budaya.
Takir plontang merupakan wadah tradisional berbahan daun pisang yang berisi aneka makanan dan sesaji khas masyarakat setempat. Dalam tradisi Ngitung Batih, benda sederhana ini memiliki makna yang sangat penting.
Ketua Panitia Upacara Adat Ngitung Batih, Didit Sasongko, menjelaskan bahwa takir plontang menjadi simbol persatuan masyarakat yang berasal dari berbagai latar belakang.
"Pada tahun 2026 ini, kami benar-benar merangkul dan melibatkan seluruh elemen masyarakat Kecamatan Dongko. Mulai dari tokoh agama, perguruan pencak silat, komunitas pemuda, hingga masyarakat umum. Kami menyatukan semuanya, persis seperti filosofi takir plontang yang menyatukan berbagai unsur dalam satu wadah," ujar Didit Sasongko.
Ngitung Batih berakar dari tradisi lama masyarakat Dongko yang menghitung jumlah anggota keluarga atau batih menjelang datangnya Tahun Baru Jawa.
Setiap keluarga menyiapkan takir nasi sesuai jumlah anggota keluarga. Selain itu, dibuat pula satu takir khusus yang dihias janur dan dikenal sebagai takir plontang.
Seiring waktu, tradisi yang awalnya berlangsung sederhana berkembang menjadi perayaan budaya yang melibatkan seluruh masyarakat.
"Takir plontang inilah yang menjadi simbol utama dalam tradisi Ngitung Batih. Melalui wadah sederhana ini, masyarakat mewujudkan nilai kebersamaan dan rasa syukur kepada Sang Pencipta," kata Didit.
Tahun ini panitia mengusung tema "Raket Rukun Raharjo" yang menggambarkan harapan agar budaya tetap menjadi perekat persatuan sekaligus membawa kesejahteraan bagi masyarakat.
"Makna tema tahun ini sangat mendalam. Budaya merekatkan kita, budaya merukunkan kita, dan harapannya budaya pula yang akan menyejahterakan kita semua," ujarnya.
Selain membawa takir plontang, masyarakat juga mengarak berbagai hasil bumi dan ternak sebagai bagian dari tradisi sedekah bumi.
Gunungan jagung, padi, aneka hasil panen, hingga ayam kampung hidup dibawa ke lokasi acara sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil pertanian selama setahun terakhir.
Usai doa bersama dipimpin tokoh adat, seluruh simbol hasil bumi tersebut kemudian dibagikan kepada masyarakat.
"Harapan kami tentu saja agar hasil pertanian semakin bagus, panen melimpah, hewan ternak berkembang biak lebih banyak, dan Tuhan memberikan keberkahan untuk seluruh masyarakat," tutur Didit.
Perjalanan Ngitung Batih hingga dikenal luas tidak terjadi dalam waktu singkat. Masyarakat Dongko mulai menggelar tradisi ini secara terbuka sejak 2015.
Upaya pelestarian tersebut membuahkan hasil ketika pemerintah menetapkan Ngitung Batih sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 2023.
Setahun kemudian, Dongko kembali menarik perhatian nasional setelah mencatatkan rekor MURI melalui pementasan Tari Turonggo Yakso dengan jumlah penari terbanyak secara serentak.
"Alhamdulillah, kami bersyukur acara ini terus berkembang setiap tahunnya. Kami berharap ke depan semakin banyak pihak yang ikut menyokong agar tradisi luhur ini tetap lestari," harap Didit.
Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Trenggalek, Tony Widianto, menilai Ngitung Batih telah menjadi salah satu identitas budaya terkuat yang dimiliki Kabupaten Trenggalek.
"Ngitung Batih ini sudah menjadi urat nadi masyarakat selama puluhan tahun dan kini telah mendapat pengakuan negara sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Dari tahun ke tahun, saya melihat kreativitas kemasannya semakin menarik, rangkaian acaranya semakin padat, dan partisipasi masyarakat juga semakin besar," puji Tony.
Menurutnya, tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan bahwa tradisi leluhur masih memiliki tempat penting di tengah perkembangan zaman.
"Ini merupakan salah satu upacara adat paling meriah di Kabupaten Trenggalek. Kami memandangnya sebagai aset budaya yang sangat berharga dan harus kita jaga bersama," ujarnya.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
TAGS
Advertisement
Artikel Terkait
Mengenal Tradisi Nyadran Tirtha Wening Belik Sumbergedong Trenggalek
Tradisi Trenggalek yang Masih Eksis, Penarik Wisatawan Hingga Kekayaan Budaya
Merawat Tradisi Ucul-Ucul Panggul Trenggalek sebagai Upaya Pelestarian Penyu
Gencarkan Kinerja, Aplikasi Cek Datamu KPU Trenggalek Tembus 6.000 Kunjungan Masyarakat
Tradisi Ngitung Batih Trenggalek Jadi Warisan Budaya Tak Benda Nasional 2023