CFD Trenggalek Catat Omzet UMKM Rp130 Juta per Event, Tertinggi Rp157 Juta

CFD Trenggalek telah digelar sekitar 15 kali dan mencatat rata-rata omzet UMKM Rp130 juta per event, dengan omzet tertinggi mencapai Rp157 juta.

CFD Trenggalek Catat Omzet UMKM Rp130 Juta per Event, Tertinggi Rp157 Juta

Car Free Day mendatangkan pendapatan kepada UMKM. KBRT/Zamz

Ringkasan

  • Rata-rata omzet UMKM dalam CFD Trenggalek mencapai Rp130 ​​setiap juta acara.
  • Sebanyak 148 UMKM tercatat mengikuti CFD, namun masih ada pedagang yang mengantre karena keterbatasan ruang.
  • Jumlah pengunjung CFD berkisar 1.000-3.000 orang, sedangkan di Pasar Pon mencapai sekitar 4.000 orang.

TRENGGALEK - Pelaksanaan Car Free Day (CFD) di Kabupaten Trenggalek terus mendapat respon positif dari masyarakat. Kegiatan yang digelar sekitar 15 kali tersebut juga dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan (Komindag) Trenggalek, Saniran, mengatakan berdasarkan data yang dimilikinya, rata-rata omzet seluruh pelaksana CFD mencapai sekitar Rp130 ​​juta setiap event.

Bahkan, omzet tertinggi yang tercatat mencapai sekitar Rp157 juta dalam satu kali pelaksanaan CFD, baik yang digelar di Jalan Sudirman maupun kawasan Pasar Pon.

Advertisement

“Alhamdulillah sampai saat ini dari sekitar 15 kali pelaksanaannya lumayan. Jadi respon masyarakat masih bagus dan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi UMKM itu juga bagus. Terbukti dari data kami itu rata-rata Rp 130 juta omzet setiap acara, sampai mencapai Rp 157 juta acara,” ujar Saniran.

Menurutnya, perputaran uang tersebut menunjukkan CFD turut menjadi salah satu penggerak aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya melalui belanja di sektor UMKM.

“Jadi itu pertumbuhan ekonomi. Jadi termasuk penggerak pertumbuhan ekonomi. Itu dari sektor belanja masyarakat terutama di sektor kami,” jelasnya.

Saniran menyebut saat ini terdapat 148 UMKM yang tercatat mengikuti kegiatan CFD.

Jumlah tersebut disesuaikan dengan kapasitas ruang yang tersedia. Karena keterbatasan tempat, belum semua UMKM yang berminat dapat masuk secara bersamaan.

“Yang tercatat di kami 148,” katanya.

Ia menjelaskan, jika ada pedagang yang tidak hadir dalam pelaksanaan CFD, tempat tersebut dapat diisi oleh pedagang lain yang sebelumnya mengantre.

Pedagang yang tidak dapat berjualan juga diminta memberitahukan kepada panitia sehingga tempatnya dapat dialihkan kepada UMKM lain yang ingin berjualan.

“Memang sesuai dengan kapasitas space-nya, tapi ketika ada yang tidak hadir maka harus memberitahu panitia dan akan diisi oleh kejadian tadi,” ujar Saniran.

Saniran mengakui sebenarnya ingin menambah jumlah UMKM yang berjualan dalam CFD. Namun, rencana tersebut masih terkendala keterbatasan ruang.

“Sebenarnya kami pengin menambah, cuma space-nya yang terbatas karena sementara kan masih dibatasi antara Tugu Garuda itu sampai depan PTSP,” jelasnya.

Menurutnya, area tersebut telah dibagi berdasarkan ukuran tempat yang tersedia. Kondisi itu membuat masih terdapat UMKM yang harus mengantre untuk mendapatkan kesempatan berjualan.

"Memang banyak yang masih antre dan lain-lain. Ketika yang antre maka kami karena sudah ada, hanya ngisi ketika ada yang tidak jualan," katanya.

Dari sisi jumlah pengunjung, CFD juga mampu menarik masyarakat dalam jumlah cukup besar.

Saniran menyebut jumlah pengunjung pada setiap acara bervariasi. Pada pelaksanaan di kawasan Pasar Pon, jumlah pengunjung diperkirakan mencapai sekitar 4.000 orang.

“Kalau kemarin yang di Pasar Pon itu sekitar 4.000-an,” ungkapnya.

Sementara secara umum, jumlah pengunjung berada di kisaran 1.000 hingga 3.000 orang dalam satu kali pelaksanaan.

Saniran mengatakan sektor makanan dan minuman atau mamin menjadi jenis usaha yang paling banyak mengikuti CFD.

Bahkan, omzet salah satu pedagang mamin disebut dapat mencapai sekitar Rp4 juta hingga Rp5 juta dalam satu kali acara.

“Mamin. Memang mamin. Itu satu pedagang,” ujarnya.

Ia menegaskan angka tersebut merupakan omzet atau pendapatan kotor, bukan keuntungan bersih pedagang.

"Omzet itu bisa, bisa. Omzet itu pendapatan yang didapat. Untung keuntungannya kami enggak menanyakan karena itu rahasia," katanya.

Saniran juga memastikan pelaku UMKM tidak dikenakan biaya sewa tempat olehnya.

Pembayaran retribusi terkait tempat atau lahan, jika ada, dilakukan melalui mekanisme tersendiri dan bukan kepada pihak Komindag.

“Enggak ada sewa. Enggak ada sewa,” tegasnya.

Dalam pengelolaan peserta CFD, Komindag memprioritaskan pelaku UMKM lokal Kabupaten Trenggalek.

Saniran mengatakan pendaftaran awal diperuntukkan bagi warga yang memiliki KTP Trenggalek. Pihaknya juga membentuk paguyuban untuk memfasilitasi para pedagang yang mengikuti kegiatan tersebut.

"Jadi yang daftar itu KTP Trenggalek. Jadi memang kita ada tim kita mendaftar. Jadi mereka yang awal masuk, kan kita bentuk paguyuban juga," jelasnya.

Pihaknya melakukan verifikasi identitas peserta melalui KTP untuk memastikan pedagang yang terdaftar merupakan warga Trenggalek.

Pedagang dari luar daerah masih dapat mengisi tempat yang kosong apabila terdapat peserta lokal yang tidak hadir, dengan catatan terlebih dahulu melalui koordinasi dengan panitia.

"Kecuali yang insidental, tempat kosong kemudian ada pedagang dari luar dan tidak ditempati, ya daripada tidak dimanfaatkan. Tapi harus beritahu kami," kata dia. 

Ikuti WhatsApp Channel

Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!

Join Channel

Advertisement

Artikel Terkait