Berawal dari Kelas 1 SD, Ghaisan Antar SD Inovatif Trenggalek Raih Harapan 1 FLS3N Jatim Lewat Seni Mendongeng
Bermodal latihan sejak kelas 1 SD dan dukungan penuh sekolah serta orang tua, Ghaisan Nobel Al Farabi mengukir prestasi di FLS3N Jawa Timur melalui cabang lomba mendongeng.
31 Jul 2026 • 08:00 WIB
Nobel Siswa SD Inovatif Trenggalek yang meraih prestasi juara tingkat provinsi. KBRT/Zamz
Ringkasan
- Ghaisan Nobel Al Farabi meraih Harapan 1 FLS3N Jawa Timur 2026 cabang mendongeng setelah lolos seleksi berjenjang dari tingkat kecamatan hingga provinsi.
- SD Inovatif Trenggalek membina Ghaisan melalui pendampingan intensif bersama ahli dongeng dengan dukungan penuh dari orang tua.
- Selain mendongeng, Ghaisan juga berprestasi di bidang pidato dan OSN IPA, serta dikenal sebagai siswa yang berprestasi akademik, ramah, dan rendah hati.
TRENGGALEK – Di balik suara lantang dan ekspresi yang memikat saat mendongeng, tersimpan perjalanan panjang seorang bocah asal Desa Sumberingin, Kecamatan Karangan. Bagi Ghaisan Nobel Al Farabi S (11), panggung bukan sekadar tempat bercerita, tetapi ruang untuk membuktikan bahwa ketekunan mampu mengantarkan mimpi menjadi kenyataan.
Siswa kelas VI A SD Inovatif Trenggalek atau SD Muhammadiyah 1 Trenggalek itu baru saja mengharumkan nama sekolah dan Kabupaten Trenggalek setelah meraih Harapan 1 Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Tingkat Provinsi Jawa Timur cabang mendongeng.
Prestasi itu bukan diraih dalam semalam. Sebelum melangkah ke tingkat provinsi, Ghaisan harus melewati seleksi berjenjang mulai tingkat kecamatan hingga kabupaten.
Advertisement
Kepala SD Inovatif Trenggalek, Ikhsan Nur Wahyudi, mengatakan capaian tersebut menjadi buah dari proses pembinaan yang dilakukan secara konsisten oleh sekolah bersama orang tua.
"Alhamdulillah tahun ini FLS3N cabang mendongeng mendapatkan Harapan 1 tingkat Provinsi Jawa Timur. Sebelumnya Ghaisan mengikuti seleksi mulai tingkat kecamatan, kabupaten, hingga akhirnya diumumkan meraih Harapan 1 di tingkat provinsi," ujar Ikhsan.
Menurutnya, keberhasilan Ghaisan tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak. Sekolah menyiapkan pendampingan khusus, sementara orang tua memberikan dukungan penuh selama proses latihan.
"Proses pembelajarannya ada pendampingan sendiri dari sekolah. Kami juga bekerja sama dengan ahli dongeng dan wali murid sangat mendukung apa yang dilakukan sekolah," katanya.
Ikhsan menuturkan, bakat Ghaisan sebenarnya sudah terlihat sejak duduk di bangku sekolah dasar. Namun, sekolah memilih tidak hanya mengandalkan bakat, melainkan terus mengasah kemampuan tersebut melalui latihan yang terarah.
Hasilnya, mendongeng bukan satu-satunya prestasi yang berhasil diraih. Ghaisan juga beberapa kali menorehkan prestasi di bidang pidato hingga Olimpiade Sains Nasional (OSN).
"Anaknya memang sering berprestasi. Tidak hanya mendongeng, pidato juga pernah juara tingkat provinsi. Kalau di Trenggalek sudah sering menjadi juara. Di OSN IPA tingkat kabupaten juga berprestasi," ungkapnya.
Di balik sederet penghargaan itu, Ikhsan menyebut Ghaisan tetap dikenal sebagai siswa yang rendah hati dan tekun belajar.
"Prestasi akademiknya juga bagus. Anaknya rajin, humble, ramah, dan mudah bergaul dengan teman-temannya," imbuhnya.
Sementara itu, bagi Ghaisan, kemenangan bukanlah garis akhir. Ia justru menganggap setiap perlombaan sebagai proses belajar yang harus dijalani dengan sungguh-sungguh.
"Prosesnya begitu panjang karena sebuah prestasi tidak bisa diraih dengan instan. Yang pertama tentu terus beribadah kepada Allah SWT, meminta restu kepada orang tua, kemudian terus belajar. Dalam proses belajar itu saya selalu didukung sekolah, mulai latihan, biaya, sampai kebutuhan lainnya," tutur Ghaisan.
Kepercayaan diri menjadi modal penting saat berdiri di atas panggung. Meski telah belajar mendongeng sejak kelas 1 SD, ia mengaku masih harus berjuang mengatasi berbagai tantangan saat tampil.
"Harus tetap percaya diri dan menikmati saat mendongeng. Basic mendongeng saya memang sudah sejak kelas 1 SD. Kesulitannya biasanya mengatur ekspresi, mengejar waktu, dan sebagainya," ujarnya.
Ia pun membagikan pesan sederhana kepada teman-teman seusianya yang ingin berprestasi.
"Terus berjuang, jangan mudah menyerah. Kalau terus berusaha nanti pasti ada hasilnya," katanya.
Prestasi yang diraih Ghaisan menjadi bukti bahwa kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan kemauan belajar dari seorang anak mampu melahirkan pencapaian membanggakan. Dari sebuah ruang kelas di Trenggalek, cerita yang ia bawakan kini telah mengantarkannya dikenal di panggung tingkat Jawa Timur.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
TAGS
Advertisement
Artikel Terkait
Bangku SD Inovatif Trenggalek Mulai Dipesan hingga 2030, Minat Orang Tua Terus Naik
Keluar dari MBG, SD Inovatif Trenggalek Usul Anggaran Dialihkan ke Pendidikan Murah dan Gratis