TRENGGALEK - Antrean poli jantung di RSUD Trenggalek lagi jadi sorotan. Bukan cuma karena pasiennya membludak, tapi juga karena satu dokter spesialis disebut harus menangani lebih dari 200 pasien dalam sehari.
Kondisi itu mendapat perhatian dari Ketua Komisi IV DPRD Trenggalek, Sukarodin. Menurutnya, beban pelayanan sebesar itu sudah jauh dari batas ideal dan berpotensi memengaruhi kualitas pemeriksaan pasien.
“Ini luar biasa sampai 200 lebih pasiennya. Didagnosa oleh satu dokter waktunya sore hari pisan,” ujar Sukarodin.
Ia mengungkapkan, dokter spesialis jantung tersebut tidak hanya bertugas di Trenggalek. Sebelum praktik di RSUD Trenggalek, dokter itu lebih dulu melayani pasien di Ponorogo sejak pagi.
Setelah itu, pelayanan dilanjutkan lagi di Trenggalek hingga larut malam.
“Paginya di Ponorogo sekitar jam 07.00 lebih sampai jam 08.00 baru dimulai pelayanan sampai jam 01.00 malam bahkan,” ungkapnya.
Menurut Sukarodin, situasi seperti ini tidak bisa dianggap normal. DPRD menilai jumlah pasien yang terlalu banyak untuk satu dokter bisa berdampak pada ketelitian diagnosis.
“Ini memprihatinkan saya kira dan ini ndak boleh terjadi tentunya karena seorang dokter itu kalau mendiagnosa 200 lebih ini ndak masuk akal. Bagi kami ini ndak masuk akal,” tegasnya.
Komisi IV DPRD Trenggalek menilai idealnya satu dokter spesialis menangani maksimal sekitar 40 pasien per hari agar pelayanan tetap optimal.
Dengan jumlah pasien yang mencapai ratusan orang, Sukarodin memperkirakan setidaknya dibutuhkan empat dokter spesialis jantung untuk menyeimbangkan pelayanan di poli tersebut.
“Kalau tadi ada yang sampai sehari 200 berarti mestinya spesialisnya empat dokter, satu poli saja,” imbuhnya.
Karena itu, DPRD meminta manajemen RSUD segera mencari solusi agar pelayanan tidak terus menumpuk pada satu dokter.
Jika belum memungkinkan menambah dokter ASN, rumah sakit diminta membuka kerja sama dengan dokter spesialis dari luar daerah melalui skema MoU yang dibiayai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
“Kalau belum bisa cari ASN ya tentu MOU. Dengan cara itu kemudian dibiayai oleh BLUD,” jelas Sukarodin.
Selain penambahan tenaga dokter, DPRD juga meminta adanya koordinasi antara RSUD, Dinas Kesehatan, dan BPJS Kesehatan supaya distribusi pasien bisa lebih merata.
“Itu kemudian berikut untuk pasien spesialis yang pasiennya banyak ini mesti berbagi,” ujarnya.
Sukarodin menilai penambahan dokter spesialis menjadi langkah penting agar kualitas layanan kesehatan tetap terjaga dan pasien tidak harus menunggu terlalu lama untuk mendapatkan pemeriksaan.
“Kalau pasiennya itu di atas 40, dokter spesialisnya ya maju dua. Kalau lebih dari 90, ya maju tiga,” ucapnya.
Ia juga mendorong RSUD Trenggalek lebih serius menarik dokter spesialis agar mau bertugas di daerah, termasuk lewat peningkatan insentif.
“Untuk dokter spesialis jantung dengan bahasa ekstremnya berapapun monggo. Karena kita ada istilah ada gula ada semut,” kata dia.
Kabar Trenggalek - Advertorial
Editor: Zamz




















