5 Kecamatan di Trenggalek Alami Kekeringan, Panggul Paling Parah: 24 Ribu Liter Air Tercatat Disalurkan

Kekeringan melanda 5 kecamatan dan 9 desa di Trenggalek. BPBD kebut distribusi air bersih, Panggul jadi wilayah paling parah terdampak.

5 Kecamatan di Trenggalek Alami Kekeringan, Panggul Paling Parah: 24 Ribu Liter Air Tercatat Disalurkan

Ilustrasi foto penyaluran air bersih di trenggalek. KBRT/Arsip Lama

Ringkasan

  • Kekeringan saat ini terjadi di 5 kecamatan dan 9 desa di Trenggalek, dengan Kecamatan Panggul sebagai wilayah paling parah.
  • BPBD sudah mengirim air bersih sekitar 24.000 liter berkat dukungan Kementerian PUPR lewat BBWS Brantas.
  • BMKG memprediksi kemarau masih bisa berlanjut hingga Agustus-September meski beberapa hari terakhir sempat turun hujan.

TRENGGALEK Musim kemarau mulai menampakkan dampaknya di Trenggalek. Sedikitnya 5 kecamatan dan 9 desa saat ini dilanda kekeringan, memaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) turun tangan mendistribusikan air bersih ke wilayah-wilayah yang membutuhkan.

Kepala BPBD Trenggalek yang juga menjabat Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah, Stefanus Triadi Atmono, mengatakan angka itu bisa saja berubah; sebagian desa bahkan sudah melaporkan turun hujan di wilayahnya.

"Saat ini kekeringan di Trenggalek ada 5 kecamatan dan 9 desa, sebagaimana yang kemarin di laporkan bahkan bisa berlebih, namun demikian penyikapan kami sudah mengirimkan pendistribusian di beberapa desa yang saat ini membutuhkan pengiriman, karena sudah ada desa yang melaporkan kondisi di lapangan ada yang hujan," kata Stefanus.

Advertisement

Soal pasokan air, BPBD tidak bergerak sendirian. Bantuan datang dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) lewat Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas; dalam dua hari saja, Minggu dan Senin, sekitar 24.000 liter air bersih sudah dikirim ke lapangan.

"Sehingga berkaitan pendistribusian air bersih, kalau dengan kemarin karena kami mendapatkan dukungan dari Kementerian PUPR melalui Balai Besar Wilayah Sungai Brantas (BBWS), hari Minggu dan Senin kurang lebih 24.000 Liter yang dikirim," ujarnya.

Dari semua kecamatan yang terdampak, Panggul jadi wilayah dengan kondisi paling berat. Tujuh desa di kecamatan itu tercatat mengalami kekeringan.

"Paling parah Kecamatan Panggul ada 7 Desa yang terdampak kekeringan," kata Stefanus.

Menurutnya, prioritas penanganan saat ini diarahkan ke kebutuhan air rumah tangga warga. Ia juga mengimbau desa-desa yang sudah punya fasilitas Penyediaan Air Minum Berbasis Masyarakat (Pamsimas) untuk rutin merawat perangkatnya, termasuk pompa submersible atau yang biasa disebut warga sebagai pompa sibel, agar tidak ikut bermasalah saat kemarau puncak.

"Kalau mencermati parah ini prioritas kebutuhan rumah tangga, ini paling tidak termasuk menghimbau maintenance berkaitan dengan seperti sibel air dan sebagainya karena mendapatkan bantuan pamsimas perlu pemeliharaan yang baik," ujarnya.

Meski beberapa hari terakhir sempat diguyur hujan, Stefanus mengingatkan warga untuk tidak lengah. Menurut prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan yang turun belakangan ini hanyalah sisa dampak angin barat di penghujung musim basah, bukan tanda kemarau sudah berakhir.

"Prediksi sebagaimana laporan BMKG lebih panjang, meskipun 2 hari ini ada hujan perkiraan sisa dampak dari angin barat yang mengakibatkan sisa musim basah masih dimungkinkan hujan, tapi musim kemarau Agustus-September dimungkinkan masih terjadi," katanya.

Dengan proyeksi itu, BPBD kemungkinan masih akan terus memantau dan mengirim bantuan air bersih ke desa-desa terdampak dalam beberapa bulan ke depan, terutama bila jumlah desa yang melapor kekurangan air kembali bertambah.

Ikuti WhatsApp Channel

Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!

Join Channel

Advertisement

Artikel Terkait