Puluhan Tahun Konservasi di Kili-Kili, Kini Dikembangkan Jadi Living Laboratory

Pemkab Trenggalek dan Universitas Brawijaya meresmikan Living Life Laboratory di Pantai Kili-Kili untuk memperluas konservasi keanekaragaman hayati pesisir.

Puluhan Tahun Konservasi di Kili-Kili, Kini Dikembangkan Jadi Living Laboratory

Konservasi penyu di kili-kili kini jadi laboratorium. KBRT/Humas

Ringkasan

  • Living Life Laboratory Kili-Kili dikembangkan untuk studi keanekaragaman hayati pesisir.
  • Konservasi di Kili-Kili tidak hanya berfokus pada Penyu Hijau.
  • Bupati Arifin berharap kolaborasi UB dan Trenggalek terus berjalan setelah peresmian.

TRENGGALEK - Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin bersama Universitas Brawijaya (UB) meresmikan Living Life Laboratory di Pantai Konservasi Penyu Kili-Kili, Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, Kamis (20/8/2026).

Laboratorium alam tersebut dikembangkan untuk memperluas aktivitas konservasi yang selama ini dilakukan di kawasan Pantai Kili-Kili. Tidak hanya penyu, Living Life Laboratory nantinya menjadi ruang studi keanekaragaman hayati pesisir Trenggalek, termasuk mikrobiologi dan berbagai tanaman pesisir.

Universitas Brawijaya telah melakukan pendampingan konservasi Penyu Hijau yang dilindungi bersama kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas) setempat sejak 2020.

Advertisement

Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo mengatakan, peresmian Living Life Laboratory merupakan pengembangan dari aktivitas konservasi yang selama ini telah berjalan.

"Alhamdulillah hari ini kita bersama tim dari Universitas Brawijaya diterima dengan baik oleh Pak Bupati Trenggalek dalam rangka untuk meresmikan aktivitas yang selama ini sudah berjalan, tetapi kita akan terus tingkatkan untuk membuat Living Laboratory, khususnya adalah keanekaragaman hayati pesisir," katanya.

Menurut dia, pengembangan laboratorium tersebut tidak hanya berfokus pada konservasi penyu. Keanekaragaman hayati pesisir lainnya juga akan menjadi bagian dari aktivitas penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.

"Tidak hanya Penyu, melainkan juga keanekaragaman hayati pesisir seperti mikro biologinya dan juga produk-produk atau tanam-tanaman yang ada di pesisir di Trenggalek ini."

"Tujuan yang pertama tentu pengembangan ilmu pengetahuan. Kemudian yang kedua kita adalah bersama-sama mendukung, mensupport pak bupati dan juga warga Trenggalek yang sangat peduli melestarikan keanekaragaman hayatinya dan melestarikan alam," lanjut Rektor Universitas Brawijaya itu.

Selain penelitian, Prof. Widodo menyebut pengembangan Living Life Laboratory juga menjadi bagian dari komitmen masyarakat dalam menjaga lingkungan.

"Ini adalah salah satu kearifan budaya dan juga komitmen warga Trenggalek bagian dari Global Citizenship yang mana untuk melestarikan alam. Kemudian juga untuk melakukan perbaikan Global Warming," tandasnya.

Sementara itu, Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin menyampaikan apresiasi kepada Universitas Brawijaya yang selama ini telah mendampingi upaya konservasi di Kili-Kili.

"Tentu saya berterima kasih kepada Universitas Brawijaya karena reseter-reseter terbaiknya, seperti Cak Kandar sudah mendampingi kita sejak tahun 2010. Waktu itu atas prakarsa dari Bapak Bupati Mulyadi dan sampai sekarang semakin berkembang," ucapnya.

Arifin juga menyebut kesadaran terhadap isu lingkungan terus berkembang. Menurutnya, komitmen terhadap lingkungan saat ini tidak hanya menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat, tetapi juga dunia usaha melalui penerapan prinsip ESG atau Environmental, Social, and Governance.

"Saya juga mengucapkan terima kasih terkait dengan kesadaran lingkungan ini semakin meningkat. Diawali dari Tokyo Protokol, kemudian Paris Agreement, banyak juga perusahaan-perusahaan yang mulai berpikir tentang ESG (Environmental, Social, and Governance) nya tentang Coverage Government yang juga pembangunan atau management berkelanjutan. Sehingga juga kerja sama di sini banyak CSR atau beberapa macam lainnya."

Ia membayangkan kolaborasi antara perusahaan, akademisi dan pemerintah daerah dapat memperkuat konservasi. Perusahaan dapat mendukung pendanaan, sementara teknik konservasi didukung data berbasis sains dan pemerintah daerah memberikan dukungan dari sisi regulasi.

"Jadi bayangkan kalau didukung dana dari perusahaan, kemudian teknik-teknik konservasinya didukung oleh data berbasis sains dan pemerintah daerah dari sisi regulasi. Kan kawasan ini juga sudah masuk kawasan ekosistem esensial."

Menurut Arifin, pengelolaan kawasan juga perlu diperkuat, termasuk dalam hal tata kelola penggunaan kawasan hutan dan peran Pokmaswas.

"Kemudian nanti terkait beberapa perizinan dengan penggunaan kawasan hutan bisa tata kelolanya lebih baik oleh Pokmaswas. Dan segala macam kita upayakan dari sisi regulasi kita, kita dorong terus menerus."

Arifin berharap kolaborasi tersebut tidak berhenti setelah peresmian. Ia menilai konsep Living Life harus mencerminkan aktivitas yang terus berjalan dan berkembang.

"Saya senang semoga kerjanya ini terus berlanjut, karena tadi komitmennya seperti yang disampaikan oleh Pak Rektor dan Pak Wakil Rektor ini menjadi Living Life. Jadi yang namanya Living Life berarti harus hidup terus menerus. Tidak hanya hari ini ketika diresmikan," lanjutnya.

Menurut Arifin, peresmian Living Life Laboratory kali ini berbeda dengan pola peresmian pada umumnya. Jika biasanya peresmian menandai dimulainya suatu kegiatan, di Kili-Kili justru berbagai aktivitas konservasi telah berlangsung selama bertahun-tahun sebelum diresmikan.

"Untuk yang lain biasanya peresmian di awal baru berkegiatan. Tapi kalau ini kegiatannya puluhan tahun tapi baru mau diresmikan. Artinya ini hanya mekognisi apa yang sudah kita lakukan. Jadi peresmian atau hubungan kerja sama ini, banyak bagian dari memantau atau meneguhkan kembali apa yang sudah berjalan puluhan tahun aktivitas Universitas Brawijaya dan juga Kabupaten Trenggalek," kata dia. 

Ikuti WhatsApp Channel

Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!

Join Channel

Advertisement

Artikel Terkait