Metri Bumi Trenggalek, Cara Memberikan Pesan Jaga Alam dan Sumber Mata Air
Metri Bumi di Kedungdowo menjadi bagian peringatan Hari Jadi ke-832 Trenggalek sekaligus pesan menjaga alam dan sumber air.
21 Aug 2026 • 14:00 WIB
Trenggalek punya tradisi metri bumi untuk menjaga sumber mata air dan lingkungan. KBRT/Zamz
Ringkasan
- Bupati Trenggalek melaksanakan Metri Bumi di sumber air Kedungdowo, Panggul.
- Metri Bumi menjadi bagian peringatan Hari Jadi ke-832 Trenggalek.
- Bupati menilai kehidupan dan ekonomi Trenggalek sangat bergantung pada kelestarian alam.
TRENGGALEK - Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin melaksanakan tradisi Metri Bumi di sumber air Kedungdowo, Dusun Bendogolor, Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, Jumat (21/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-832 Trenggalek. Metri Bumi digagas sebagai upaya menjaga kelestarian alam sekaligus sumber air yang menjadi bagian penting bagi kehidupan masyarakat.
Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mengatakan, manusia dapat hidup karena bumi masih memberikan kehidupan. Karena itu, menjaga kelestarian alam menjadi bagian penting dalam peringatan Hari Jadi Trenggalek.
Advertisement
"Namanya memetri bumi. Sebenarnya kan merawat bumi ini menjadi bagian dari bagian rutin dari gelaran Hari Jadi Trenggalek. Perlu diingat bahwa masyarakat bisa hidup karena buminya masih memberikan kehidupan. Ini sebenarnya pesan pentingnya," tuturnya.
Menurut Arifin, ketergantungan masyarakat Trenggalek terhadap alam juga terlihat dari struktur perekonomian daerah. Sebagian besar aktivitas ekonomi masih berkaitan dengan sumber daya alam, mulai dari pertanian, peternakan hingga perikanan.
"Kalau kita lihat dari potensi PDRB kita, hampir semua pendapatan atau dari sisi ekonomi kita itu didapatkan dari basis alam. Contoh kita masih berpihak kepada pertanian, peternak dan juga perikanan. Tidak ada ikan kalau tidak ada laut yang masih terjaga. Kemudian tidak ada sawah yang baik kalau tidak ada air. Tidak ada air kalau tidak ada kawasan Karst atau kawasan hutan yang terjaga, maka itu menjadi satu rangkaian," imbuhnya.
Ia menjelaskan, ketergantungan terhadap alam tidak berhenti pada sektor hulu. Hasil pertanian, peternakan, dan perikanan kemudian menjadi bahan bagi industri pengolahan.
"Step kedua adalah industri pengolahan. Industri pengolahan pun industri pengolahan dari hasil yang hulu. Kemudian yang ketiga dari hasil akomodasi pariwisata hiburan. Pariwisata kita semua berbasis alam. Kalau alamnya rusak maka Trenggalek juga akan rusak. Maka pendapatan Trenggalek, ekonomi Trenggalek juga akan rusak di situ," ujarnya.
Karena itu, Arifin menilai peringatan Hari Jadi Trenggalek tidak hanya menjadi momentum untuk merayakan bertambahnya usia daerah, tetapi juga mengingatkan kembali hubungan masyarakat dengan lingkungan.
"Jadi bisa saya simpulkan bahwa rakyat Trenggalek hidup tergantung dengan alam. Maka kalau kita ingin merayakan hari jadi kita, ya yang kita rayakan adalah kebersamaan kita bersama alam," tandasnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Brawijaya Prof. Widodo yang hadir bersama Bupati Trenggalek menilai tradisi Metri Bumi memiliki pesan penting dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap kelestarian lingkungan.
"Ini salah satu tradisi, salah satu budaya, yang mana budaya ini diperuntukkan bagaimana kita ingat, sadar bahwa hidup kita itu sangat tergantung dari kelestarian bumi itu sendiri. Ini hal yang sangat bagus dan banyak hal program-program kelestarian alam dan seterusnya itu tidak berjalan dengan baik kalau tidak diikuti dengan budaya," katanya.
Menurut Prof. Widodo, pelestarian lingkungan akan lebih kuat apabila menjadi bagian dari budaya masyarakat. Ia melihat tradisi tersebut menunjukkan adanya kesadaran masyarakat untuk menjaga alam.
"Dan saya melihat dengan budaya ini menunjukkan bahwa mindset dan juga tentu perilaku yang menyebabkan sebuah tradisi dan budaya ini sudah melekat di tengah masyarakat Trenggalek, yang mana dia paham, peduli untuk melestarikan alam."
Ia menambahkan, upaya menjaga kelestarian alam di Trenggalek tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat setempat, tetapi juga memiliki dampak yang lebih luas.
"Ini tentu menguntungkan tidak hanya di Trenggalek, tetapi tradisi ini menguntungkan manusia secara umum di dunia ini. Karena apa yang dilakukan Trenggalek dirasakan manfaatnya oleh seluruh umat manusia," jelas Prof. Widodo.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
Advertisement
Artikel Terkait
Biodiversitas Trenggalek: Mas Ipin Ingatkan Alam Bukan Cuma Latar Hidup, Tapi Penentu Masa Depan
Film Tambang Emas Ra Ritek Warnai Malam Tahun Baru, Komitmen Jaga Lingkungan Trenggalek Dipertegas
Tekan Emisi Karbon, Pemkab Trenggalek Luncurkan Program Sangu Sampah di Sekolah
Trenggalek Borong Penghargaan Proklim 2025, Komunitas Lingkungan Makin Bergerak
Bupati Trenggalek Tanam 25 Ribu Vetiver untuk Mitigasi Longsor di Bendoroto Munjungan