Kabar TrenggalekKabar Trenggalek
Kabar TrenggalekKabar Trenggalek

Press ESC / Click X icon to close

My Account

Tren Digitalisasi Membaca: Peralihan dari Buku Cetak ke Literatur Digital

  • 07 Mar 2025 13:00 WIB
  • Google News

    KBRT - Ketika revolusi digital melanda dunia pada periode 1980-an, kebiasaan membaca pun mengalami banyak perubahan. Jika dulu orang harus membeli media baca dalam bentuk cetak, kini hanya dengan mengunduh file dalam format digital, seseorang sudah dapat membaca di ponsel, tablet, dan komputer.

    Dilansir dari buku "Media Sosial dan Budaya Baca Kita" karya Muhammad Syarif Bando, perubahan tren membaca ini mendorong evolusi dalam dunia penerbitan. Fase pertama dimulai pada 1980-an, ketika publikasi dapat ditampilkan dan dibaca di layar komputer serta disimpan dalam bentuk file elektronik.

    Perubahan ini berlangsung bertahap seiring perkembangan teknologi komputer. Fase kedua terjadi pada 1990-an, saat internet mulai digunakan secara luas dan membuka peluang bagi industri penerbitan. Internet memungkinkan akses terhadap bacaan digital sebagai pelengkap atau pengganti bacaan fisik.

    Di sisi lain, penerbit melihat peluang ekonomi dengan menerbitkan publikasi yang dapat diakses melalui internet. Penetrasi internet memaksa industri penerbitan melakukan digitalisasi bahan bacaan, yang pada akhirnya menggeser budaya membaca.

    Digitalisasi ini mengubah preferensi membaca, mengalihkan perhatian dari buku cetak ke gawai. Dengan digitalisasi, orang memiliki lebih banyak pilihan format bacaan, baik secara konvensional maupun digital seperti e-book.

    Preferensi Membaca Daring Meningkat

    Pergeseran preferensi membaca ke literatur digital meningkat drastis seiring dengan semakin mudahnya akses internet. Inovasi digitalisasi literatur pun berkembang pesat. Masyarakat kini memiliki opsi membaca bahan bacaan dalam format digital yang bisa diakses kapan saja.

    Membaca digital merujuk pada aktivitas memahami teks dan sumber multimedia lain melalui media elektronik yang diakses dengan perangkat digital. Bacaan digital bukan sekadar versi digital dari literatur cetak, tetapi juga media yang memang lahir dalam format digital atau dikenal sebagai "digitally born."

    ADVERTISEMENT
    Migunani

    Literatur digital dan membaca digital adalah cerminan dari pergeseran paradigma membaca akibat teknologi digital. Paradigma baru ini termanifestasi dalam tren membaca daring, yang semakin prospektif dan berpotensi menggantikan literatur cetak. Apalagi di era Industri 4.0, di mana transformasi digital berlangsung secara masif dalam berbagai aspek kehidupan.

    Salah satu gejala dari tren membaca daring adalah meningkatnya permintaan terhadap bahan bacaan digital. Ini menjadi isu strategis, sebab permintaan tersebut diprediksi terus meningkat.

    Setidaknya ada empat faktor yang mendukung konsistensi tren ini. Pertama, perkembangan pesat infrastruktur informasi secara global. Kedua, peningkatan volume konten yang diterbitkan dalam format digital. Ketiga, keunggulan publikasi digital dalam menyediakan lingkungan multimedia yang kaya, tautan hypertext, serta interaktivitas. Keempat, teknologi yang memungkinkan bahan bacaan digital menjadi portabel seperti buku tradisional.

    Penetrasi teknologi dalam budaya membaca saat ini menjadi titik terang bagi dunia literasi. Media digital memudahkan pencarian informasi dengan lebih cepat dan praktis. Selain itu, media digital tidak memerlukan ruang penyimpanan fisik dan bisa diakses kapan saja tanpa batasan ruang dan waktu.

    Menurut Pew Research Center, konsumsi media baca elektronik meningkat signifikan sejak 2011. Persentase pembaca yang beralih dari format cetak ke digital melonjak dari 4 persen menjadi 15 persen.

    Pergeseran preferensi membaca ke media digital akan menjadi tren di dunia akademis maupun nonakademis. Meskipun membaca literatur cetak tetap memiliki daya tarik tersendiri, pergeseran ini tak terelakkan. Literatur digital bukan hanya lebih praktis, tetapi juga akan membentuk identitas pembacanya berdasarkan referensi yang diunduh, pilihan waktu dan tempat membaca, serta ekspresi intelektual dalam berkomunikasi.

    Kabar Trenggalek - Edukasi

    Editor:Zamz

    ADVERTISEMENT
    Lodho Ayam Pak Yusuf