Sawah di Trenggalek Diuji Full Mekanisasi, Target Panen Capai 10 Ton per Hektare

Program PM-AAS Kementan mulai diterapkan di Trenggalek. Pertanian berbasis mekanisasi ini menargetkan hasil panen padi minimal 10 ton per hektare.

Sawah di Trenggalek Diuji Full Mekanisasi, Target Panen Capai 10 Ton per Hektare

Petani Trenggalek ditarget panen yang cukup signifikan. KBRT/Zamz

Ringkasan

  • PM-AAS menargetkan panen 10 ton per hektare.
  • Program sudah berjalan di Pogalan dan Durenan.
  • Sekitar 60 hektare sawah telah ditanami.

TRENGGALEKTarget panen padi di Kabupaten Trenggalek dipasang lebih tinggi dari biasanya. Melalui program Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS), Kementerian Pertanian (Kementan) membidik produktivitas minimal 10 ton gabah per hektare dengan memanfaatkan sistem budidaya berbasis mekanisasi.

Program yang digagas Kementerian Pertanian itu mulai diterapkan di sejumlah lahan sawah di Trenggalek sebagai bagian dari upaya menjaga swasembada pangan nasional pada 2026.

Koordinator Teknis Program PM-AAS Trenggalek, Ajun Prayitno, mengatakan konsep utama program ini adalah menerapkan teknologi pada seluruh tahapan budidaya padi, mulai dari tanam hingga panen, sehingga pekerjaan petani menjadi lebih efisien.

Advertisement

"Melalui program PM-AAS ini, diharapkan untuk tahun 2026 swasembada pangan akan tercapai seperti yang sudah dicapai pada tahun 2025. Intinya, program ini adalah teknologi dengan full mekanisasi," ujar Ajun usai berkoordinasi dengan penyuluh pertanian di Desa Karanganom, Jumat (10/7/2026).

Menurutnya, efisiensi tersebut diharapkan berdampak langsung pada peningkatan hasil panen.

"Harapannya nanti semua tahapan budidaya padi ini lebih efisien dan di akhir mendapatkan hasil minimal 10 ton per hektare," katanya.

Di Trenggalek, PM-AAS diawali melalui demonstration farm (demfarm) seluas 100 hektare. Hingga saat ini, sekitar 60 hektare sudah ditanami dan tersebar di Kecamatan Pogalan serta Durenan.

Ajun menjelaskan umur tanaman yang telah ditanam berkisar 30 hingga 40 hari setelah tanam benih langsung (tabela).

Ia optimistis target produksi dapat dicapai karena metode tabela mampu meningkatkan populasi tanaman dibanding pola tanam konvensional. Selain itu, kebutuhan sarana produksi pertanian juga dipastikan tersedia.

"Alhamdulillah berkat kerja sama kita dengan dinas, dengan penyuluh, dengan kelompok tani, perangkat desa, sampai saat ini dan mudah-mudahan sampai nanti panen kegiatannya berjalan dengan lancar," ujarnya.

Meski demikian, tantangan musim kemarau tetap menjadi perhatian. Menurut Ajun, ketersediaan air menjadi faktor paling penting agar pertumbuhan tanaman tetap optimal.

Karena itu, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum untuk memastikan pasokan air, sekaligus memanfaatkan pompa irigasi yang telah tersedia di lapangan.

Dukungan terhadap program tersebut juga datang dari pemerintah desa. Kepala Desa Karanganom, Muntingah, mengatakan seluruh anggota Kelompok Tani Sumber Rejeki 2 yang mengelola lahan seluas 27 hektare mengikuti program PM-AAS.

"Untuk program PM-AAS dari pemerintah ini, untuk petani Karanganom, saya mewakili 100 persen ikut, luasnya 27 hektare," katanya.

Menurut Muntingah, keberhasilan program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga berdampak pada kesejahteraan petani.

"Harapan kami untuk memaksimalkan hasil panen nanti bisa maksimal per hektarenya mendapatkan satu rit (10 ton). Akhirnya petani merasa sejahtera dan bahagia dengan adanya program PM-AAS ini," ujarnya.

Ikuti WhatsApp Channel

Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!

Join Channel

Advertisement

Artikel Terkait