Rutin Setiap HUT RI, 6 Pemanjat Terlatih Bentangkan Bendera 30 Meter di Tebing Sepikul Watulimo Trenggalek
FPTI Jatim kembali menggelar tradisi pembentangan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Sepikul Trenggalek untuk HUT ke-81 RI.
17 Aug 2026 • 08:00 WIB
Peringatan HUT ke 80 RI Trenggalek ada bendera raksaksa terbentang di gunung sepikul. KBRT/Zamz
Ringkasan
- Bendera Merah Putih 30 x 20 meter dibentangkan di Tebing Sepikul.
- Enam pemanjat pelajar dan mahasiswa terlibat dalam pembentangan.
- FPTI Jatim akan mengganti bendera dan lokasi pembentangan tahun depan.
TRENGGALEK - Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Pengurus Provinsi Jawa Timur kembali melaksanakan kegiatan rutin pembentangan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Sepikul, Desa Watuagung, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek.
Bendera berukuran 30 x 20 meter itu akan dibentangkan oleh enam pemanjat terlatih yang berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada Senin (17/8/2026).
Bidang Organisasi FPTI Jatim, Aries Setiawan, mengatakan persiapan pembentangan tahun ini relatif lebih singkat karena teknis pelaksanaan tidak banyak berubah dari tahun sebelumnya.
Advertisement
"Meski persiapannya lebih singkat, kami memastikan pembentangan bendera berjalan lancar. Ini sudah menjadi program rutin tahunan yang sudah berjalan sejak beberapa tahun terakhir," terang Pengurus Daerah (Pengda) FPTI Jatim Bidang Organisasi Aries Setiawan melalui sambungan telepon, Selasa (11/08/2026).
Lokasi pembentangan masih berada di titik yang sama seperti tahun sebelumnya. Bendera akan dibentangkan pada ketinggian sekitar 250–270 meter di atas permukaan laut (MDPL), tepatnya di antara pitch 6 dan pitch 7 Tebing Sepikul.
Jalur pemanjatan yang digunakan juga telah tersedia dari pelaksanaan sebelumnya. Leader tim akan mengawali pemanjatan sekaligus memasang pengaman, kemudian anggota tim menggunakan metode ascending untuk menarik bendera dari pos panjat menuju titik pembentangan.
Enam pemanjat yang terlibat berasal dari sejumlah daerah di Jawa Timur. Mereka yakni Okandra Jodie, pelajar kelas XI SMA Negeri Olahraga (Smanor) Sidoarjo; Abiyyu Naufadhil, pelajar SMP Muhammadiyah 2 Surabaya; Agung Cahyo Utomo dari Sispala Kompasneda SMK Negeri 2 Trenggalek; Dwi Ratna Sari dan Novia Rahmawati dari Mahasiswa Islam Pecinta Alam (Mahipa) Universitas Muhammadiyah Ponorogo; serta Dhea Putri Kurnalita, pelajar kelas XII dari FPTI Trenggalek.
Untuk memastikan pelaksanaan berjalan aman, tim prosesi telah berada di kawasan Tebing Sepikul sejak Jumat (14/8/2026). Persiapan meliputi pemeriksaan peralatan, logistik, bendera, hingga pemasangan jalur pemanjatan.
"Ada delapan orang tim prosesi pelaksanaan pengibaran, merapat ke lokasi yaitu area kegiatan tebing Spikul mulai Jumat 14 Agustus 2026, pukul 08.00 WIB check list alat, habis jumatan pasang jalur pemanjatan," terang Aries.
Pada Sabtu (15/8/2026), tim melanjutkan persiapan dengan pemanjatan sekaligus pemasangan sistem pengaman di jalur pembentangan.
"Mengawali persiapan pengibaran, pemanjat akan melakukan instalasi peralatan di Tebing Sepikul," terang Aries.
Sehari sebelum pelaksanaan utama, yakni Minggu (16/8/2026), dilakukan prosesi pembentangan sekaligus pemantapan jalur pemanjatan.
Sementara pada Senin (17/8/2026), prosesi pembentangan bendera dilaksanakan bersamaan dengan upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan detik-detik Proklamasi.
"Jadi Senin (17/08/2026) pelaksanaan upacara dan pembentangan. Pagi sebelum upacara bendera diturunkan di pos panjat, kemudian dilaksanakan upacara pembentangan bendera dengan cara di tarik ke atas oleh tim pengibar, dan diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya dari peserta upacara," terang Aries.
Setelah prosesi selesai, penurunan bendera dan pembersihan jalur dijadwalkan berlangsung pada pukul 13.00 WIB hingga 17.00 WIB.
"Sementara penurunan bendera dan pembersihan jalur dilakukan pada Senin (17/08/2026) mulai pukul 13.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB," sambung Aries.
Aries mengatakan kondisi cuaca selama persiapan cukup mendukung dan belum terdapat kendala berarti di lapangan. FPTI Jatim berharap kondisi tersebut bertahan hingga hari pelaksanaan.
"Kami bersyukur kondisi cuaca cerah, tidak ada kendala berarti di lapangan. Dan semoga semua berjalan sesuai rencana," terang Aries.
FPTI Jatim berencana melakukan pembaruan pada tradisi pembentangan bendera Merah Putih di Tebing Sepikul pada tahun depan.
Bendera yang saat ini digunakan akan diganti karena warnanya mulai memudar dan kondisinya dinilai lebih rentan sobek akibat usia serta frekuensi penggunaan.
Selain bendera, titik pembentangan juga akan dipindahkan. Lokasi baru direncanakan berada di bagian tengah antara dua tebing dan tidak jauh dari lokasi pembentangan saat ini.
"Lokasi tersebut lebih memudahkan mengibarkan dari tim pemanjat, meminimalisir angin dan tingkat sobek bendera merah putih," terang Aries.
Selain menjadi lokasi tradisi pembentangan bendera, Tebing Sepikul dikenal sebagai salah satu kawasan panjat tebing yang memiliki potensi wisata alam. Tebing dengan struktur batuan andesit tersebut memiliki dinding batu yang luas dan tinggi.
Aries menyebut Tebing Sepikul dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata alam sekaligus olahraga panjat tebing.
"Tebing Spikul adalah aset wisata alam yang harus dijaga. Konturnya bersahabat, bisa digunakan untuk berbagai sistem panjat tebing, dan punya daya tarik bagi wisatawan domestik maupun asing," terang Aries.
Akses menuju kawasan Tebing Sepikul kini juga semakin mudah. Jalan menuju camping ground telah dipaving dan dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.
Fasilitas pendukung seperti gazebo, saluran air, MCK, dan listrik juga telah tersedia.
"Selain itu, fasilitas pendukung seperti gazebo, saluran air, MCK, dan listrik sudah tersedia," terang Aries.
Pelaksanaan kegiatan ini turut melibatkan masyarakat sekitar, Pemerintah Desa Watuagung, dan FPTI Kabupaten Trenggalek.
"Terima kasih kepada warga sekitar lokasi telah menyediakan tempat penginapan, camping ground, dan logistik bagi para pemanjat. Dan juga FPTI Trenggalek yang telah membantu komunikasi lintas instansi," terang Aries.
FPTI Jatim berharap tradisi tersebut dapat memperkuat rasa bangga terhadap kemerdekaan sekaligus mendorong masyarakat bersama-sama menjaga potensi alam di Desa Watuagung.
"Dengan potensi alam yang luar biasa di Desa Watuagung dan didukung masyarakat yang ramah, serta dukungan pemerintah desa, kabupaten, dan provinsi, kami berharap semua pihak merasa memiliki dan ikut menjaga sumber daya ini," terang Aries.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
Advertisement