PMII Trenggalek Resmi Dilantik, Beni Bawa Semangat “Menjalar dan Mengakar” untuk Kawal Isu Rakyat

Ketua PC PMII Trenggalek Beni Kusuma Wardani menegaskan PMII akan lebih kritis terhadap kebijakan publik dan dekat dengan persoalan masyarakat.

PMII Trenggalek Resmi Dilantik, Beni Bawa Semangat “Menjalar dan Mengakar” untuk Kawal Isu Rakyat

Pelantikan PC PMII Trenggalek membawa semangat baru. KBRT/Zamz

Ringkasan

  • PMII Trenggalek usung tema “Menjalar dan Mengakar” saat pelantikan pengurus baru
  • Soroti proyek KDMP dan Bendungan Bagong yang dinilai menyisakan persoalan
  • PMII ingin fokus pada kaderisasi, kajian kritis, dan pendampingan masyarakat rentan

TRENGGALEK - Pelantikan Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Trenggalek tak sekadar seremoni pergantian kepengurusan. Di bawah kepemimpinan baru Beni Kusuma Wardani, PMII Trenggalek membawa arah gerakan yang ingin lebih dekat dengan masyarakat sekaligus lebih tegas mengawal kebijakan publik.

Tajuk “Menjalar dan Mengakar” dipilih sebagai semangat utama dalam pelantikan tersebut. Bagi Beni, PMII harus tetap berpijak pada nilai dasar organisasi, namun juga mampu memperluas jejaring gerakan agar dampaknya bisa dirasakan masyarakat luas.

“Pelantikan ini kami kemas dalam satu tajuk menjalar dan mengakar, kami perlu mengakar pada nilai identitas atau nilai dasar pergerakan kami agar arah pergerakan PC PMII Trenggalek bisa lebih konsisten, berdampak dan lebih punya keberpihakan kepada masyarakat terutama di masyarakat Trenggalek,” ujar Beni.

Advertisement

Menurutnya, makna “menjalar” bukan hanya soal memperluas organisasi, tetapi membangun kolaborasi lintas kelompok. PMII disebut tidak ingin berjalan sendiri dalam mengawal persoalan daerah.

“Kemudian menjalar ini harapan kami pergerakan kami bisa menjalar kemana-mana artinya kami tidak ingin berdiri sendiri sebagai organisasi di Trenggalek, namun kami ingin menggandeng sesama organisasi bahkan yang non organisasi untuk bergandeng tangan untuk dalam sebuah pergerakan,” lanjutnya.

Di internal organisasi, Beni menargetkan penguatan kultur diskusi dan kajian di tingkat cabang maupun komisariat. Ia juga ingin membagikan kemampuan menulis dan sinematografi kepada kader agar kegiatan organisasi tidak selalu bergantung pada pendanaan eksternal.

“Untuk mempercepat hal ini terutama kajian, kemudian diskusi di cabang dan komisariat, kemudian saya sendiri punya basic sebagai penulis dan sinematografi itu yang bisa saya bagikan ke kader-kader, sehingga program kerja ini tidak menunggu pendanaan atau narasumber dari eksternal untuk berkegiatan,” katanya.

Pendampingan kader di tingkat komisariat juga menjadi fokus utama kepengurusan baru. PC PMII Trenggalek ingin memperkuat sinergi dengan komisariat agar gerakan organisasi tetap konsisten.

“Selain itu yang paling penting pendampingan di tingkat komisariat, di komisariat Sunan Giri Trenggalek dan komisariat Bumi Sopal Dewantara, dengan demikian sahabat-sahabat merawat dirinya semakin berkolaborasi dengan cabang agar PMII Trenggalek semakin konsisten dan semakin punya nilai ketegasan,” imbuhnya.

Tak hanya bicara kaderisasi, PMII Trenggalek juga menyiapkan agenda kajian kritis terhadap sejumlah kebijakan pemerintah. Salah satu yang disorot ialah pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang disebut berjalan sebelum izin penggunaan kawasan hutan terbit.

“Paling kelihatan untuk kajian kritis kepada kebijakan pemerintah yang saya kantongi adalah Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), yang dibangun sebelum ada perizinan resmi penggunaan kawasan hutan, itu sangat aneh sekali,” tegas Beni.

“Karena negara ini sudah punya banyak peraturan mengapa mereka itu tidak punya political will, ghirah politik untuk menjalankan aturan tersebut malah yang terjadi melanggar peraturannya sendiri,” sambungnya.

Selain KDMP, proyek Bendungan Bagong juga menjadi perhatian PMII Trenggalek. Beni menilai proyek strategis tersebut perlu mendapat pengawasan karena dampaknya mulai dirasakan masyarakat sekitar.

“Ada juga proyek Bendungan Bagong yang mohon maaf mungkin anggaran cukup besar bukan berarti negara harus menganaktirikan proyek tersebut, sudah terlanjur dibangun namun prosesnya tidak kunjung selesai, sehingga dampaknya cukup panjang,” katanya.

PMII Trenggalek mengaku menemukan dugaan dampak lingkungan dari proyek tersebut berdasarkan riset awal kader di lapangan. Salah satunya berkaitan dengan erosi di aliran Sungai Temon yang disebut menghilangkan lahan pertanian warga.

“Karena yang kami temukan dan ada kader kami yang melakukan riset, itu ada sawah yang hilang karena erosi dari Sungai Temon, yang ternyata di daerah pegunungan resapan hilang, sehingga air itu mengalir ke sungai dan bantaran sungai tererosi,” jelasnya.

Meski demikian, PMII menegaskan temuan tersebut masih akan diteliti lebih lanjut melalui riset kolaboratif agar memiliki dasar data yang lebih kuat dan faktual.

Di akhir, Beni menegaskan arah gerakan PMII Trenggalek akan dimulai dari persoalan paling dekat dengan masyarakat rentan, termasuk para alumni PMII sendiri yang terdampak kebijakan negara.

“Masyarakat rentan tentu akan memulai hal yang terdekat bisa jadi dari tetangga kami, alumni PMII juga, ternyata waktu kemarin keliling silaturahmi ada sambat, ada yang menjadi guru itu mengeluhkan sistem pendidikan dan akreditasinya cukup panjang juga selain itu pengangkatan guru honorer ke PNS itu tidak ada kejelasan sama sekali,” ujarnya.

“Ada alumni PMII sendiri menjadi korban kebijakan negara yang kurang baik, nah makanya kami akan memulai dari situ, karena kaum Mustad'afin ternyata ada orang-orang PMII sendiri."

Ikuti WhatsApp Channel

Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!

Join Channel

Advertisement

Artikel Terkait