TRENGGALEK — Halaman Pondok Pesantren Al-Falah Kedunglurah, Kecamatan Pogalan, Trenggalek, mendadak ramai pada Senin (11/05/2026) malam. Bukan konser atau pengajian besar, melainkan nonton bareng film dokumenter bertajuk Pig Feast yang diikuti puluhan santri dan komunitas pecinta lingkungan.
Film berdurasi sekitar 1 jam 35 menit karya Dhandy Dwi Laksono itu diputar hingga selesai tanpa adanya pembubaran. Suasana nobar berlangsung santai namun serius karena banyak penonton menyimak isu yang diangkat dalam film tersebut.
Pengasuh Ponpes Al-Falah Kedunglurah, Agus H Muh. Izuddin Zakki, mengatakan sebelum acara berlangsung pihak keamanan sempat memberikan sejumlah imbauan terkait pemutaran film.
Namun, seluruh arahan itu diikuti sehingga kegiatan berjalan aman dan kondusif.
“Ya adalah bahwa saran imbauan seperti itu. Kita turuti apa yang diinstruksikan dari aparat. Tentunya ini untuk kebaikan kami juga,” ujar Gus Zakki.
Ia juga mengapresiasi aparat keamanan yang hadir mengawal kegiatan tersebut. Menurutnya, situasi di Trenggalek jauh lebih kondusif dibanding sejumlah daerah lain yang sebelumnya sempat ramai soal pembubaran pemutaran film serupa.
“Kita apresiasi, terima kasih bapak aparat yang sudah mengamankan jalannya nonton bareng acara ini sehingga aman dan terkendali,” lanjutnya.
Gus Zakki mengaku ide nobar muncul setelah dirinya melihat potongan ilustrasi film di media sosial. Dari situ, ia lalu mengajak sejumlah komunitas di Trenggalek yang selama ini aktif bergerak dalam isu lingkungan untuk ikut berdiskusi lewat medium film.
Menurutnya, persoalan yang terjadi di Papua bukan hanya isu masyarakat setempat, tetapi juga menyangkut kepedulian terhadap lingkungan dan keadilan sosial yang layak dipahami publik luas.
“Ketika ini ada sesuatu di Papua maka kita juga tergerak untuk bagaimana ikut mendukung gerakan yang ada di sana,” katanya.
Meski mengangkat isu sensitif, Gus Zakki menegaskan kegiatan itu tidak berkaitan dengan gerakan anti pemerintah ataupun anti aparat. Ia menilai film tersebut justru menjadi ruang refleksi agar pembangunan tetap memperhatikan sisi kemanusiaan dan kelestarian alam.
“Tidak usah khawatir. Kita tetap pada NKRI dan tetap mendukung TNI serta Polri,” tegas Ketua Gerakan Pemuda Ansor Trenggalek itu.
Ia menambahkan, pesan utama yang ingin ditanamkan kepada para santri adalah menjaga hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
“Kita menjaga hubungan kepada Allah, sesama manusia, dan yang paling penting jangan lupa menjaga hubungan kepada alam,” ujarnya.
Sementara itu, tokoh Muhammadiyah Trenggalek, Suripto, menilai film dokumenter tersebut layak menjadi bahan refleksi masyarakat.
Menurut Suripto, judul Pig Feast bersifat metaforis untuk menggambarkan perebutan sumber daya alam oleh korporasi, oligarki, dan negara yang berdampak pada masyarakat adat di Papua.
Film itu juga menyoroti konflik agraria hingga dampak proyek besar seperti food estate dan pembukaan lahan perkebunan di Papua Selatan.
“Jadi film ini layak ditonton sebagai pelajaran dan bahan refleksi untuk masyarakat Trenggalek yang juga mengalami ancaman sumber daya alam dalam konteks berbeda,” ujar dia.
Kabar Trenggalek - Mata Rakyat
Editor: Zamz





















