Mengenal Jowo Dipo Trenggalek, Penghayat Kepercayaan yang Rutin Gelar Ritual Suroan
Penghayat kepercayaan Kaweruh Jowo Dipo tersebar di 14 kecamatan Trenggalek. Simak agenda rutin, makna bulan Suro, dan dukungan Pemkab bagi penganutnya.
06 Jul 2026 • 16:00 WIB
Sugito Wijoyokusumo, Pimpinan Jowo Dipo yang berada di Dusun Payaman, Desa Durenan, Kecamatan Durenan. KBRT/Zamz
Ringkasan
- Penghayat Kepercayaan Jowo Dipo di Trenggalek rutin menggelar pertemuan setiap malam Jumat Kliwon.
- Bulan Suro diperingati sebagai momen turunnya wahyu kepada pendiri ajaran sekaligus hari lahir Jowo Dipo.
- Penghayat tersebar di 14 kecamatan dan mendapat dukungan kegiatan dari Pemerintah Kabupaten Trenggalek.
Kabar Trenggalek - Penghayat kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa terus berkembang di Trenggalek, salah satunya penganut Kaweruh Jowo Dipo di bawah paguyuban Persatuan dan Kesatuan Nasional Kebatinan Sejati. Ajaran ini kini tersebar merata di 14 kecamatan se-Kabupaten Trenggalek.
Kaweruh Jowo Dipo didirikan oleh Ki Mangoen Taroeno, yang wafat pada 1931. Penyebaran ajarannya kemudian dilanjutkan oleh Djojo Imam Soepingi dan K. Sajekti.
Salah satu pusat paguyuban berada di Dusun Payaman, Desa Durenan, Kecamatan Durenan, dipimpin oleh Sugito Wijoyokusumo atau yang akrab disapa Mbah Gito. Ia menyebut eksistensi ajaran Jowo Dipo di Bumi Menak Sopal berjalan baik.
Advertisement
"Kawruh Jowo Dipo di Trenggalek itu selalu lancar, selalu berkembang tanpa terkendala," ujar Sugito Wijoyokusumo saat ditemui di kediamannya.
Salah satu agenda paling konsisten adalah pertemuan rutin malam Jumat Kliwon, tempat warga saling berbincang dan bertukar pemikiran seputar kaweruh Jowo Dipo.
"Soalnya itu urusannya cuma termasuk temu warga, berbicara saling mengisi antara para sesepuh pada menceritakan apa mengetahuinya. Ya cuma seperti itu bab urusan pengetahuan," jelasnya.
Mbah Gito mengaku tidak bisa memastikan jumlah pasti jemaat yang hadir dalam rutinan malam Jumat Kliwon, namun rata-rata berkisar puluhan hingga ratusan orang.
"Kalau malam Jumat Kliwon ini yang hadir tidak bisa ditentukan berapa begitu, tidak bisa. Jadi ya pokoknya sekitar paling sedikit ya 50, ada yang 30, pokoknya seperti lebih. Ya sampai ke 100 kadang-kadang seperti itu," bebernya.
Selain rutinan malam Jumat Kliwon, paguyuban Jowo Dipo juga memiliki sejumlah peringatan hari besar, di antaranya Hari Lahir Pancasila setiap 1 Juni, bulan Suro, serta Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada Agustus.
Bagi penganut Jowo Dipo, bulan Suro memiliki makna sakral sebagai tahun baru Jawa sekaligus hari lahir ajaran ini. Perayaannya jatuh pada tanggal 12 Suro.
"Kalau Suro itu ditentukan tanggal 12 Suro. Itu turunnya wahyu ketika Kanjeng Eyang Ki Ageng Mangun Taruno menerima ilham dari Gusti Allah," tuturnya.
Perayaan Suroan biasanya digelar dengan pertunjukan wayang kulit dan turut mengundang jajaran pemerintahan, mulai dari Bupati Trenggalek hingga instansi lainnya.
Menyambut Agustus mendatang, paguyuban Jowo Dipo telah merencanakan selamatan adat berupa penyediaan ayam lodho dan nasi tumpeng dalam jumlah banyak.
"Itu seperti cara ayam lodho, nasi itu, sampai ada 70 tumpeng. Pokoknya seperti 45 tumpeng pasti ada. Nah, kegiatannya kegiatan ruwatan," paparnya.
Ritual ruwatan ini ditujukan untuk meruwat sukerta atau membuang kedukaan negara, sekaligus mendoakan kesempurnaan bagi para leluhur, pahlawan, dan nenek moyang yang telah memperjuangkan kemerdekaan. Agenda ini rencananya digelar tepat pada malam 17 Agustus.
Soal peta persebaran, Mbah Gito menyampaikan penganut Jowo Dipo sudah merata di 14 kecamatan se-Kabupaten Trenggalek, mulai dari Panggul, Munjungan, hingga Bendungan, meski tidak ada sistem pencatatan anggota secara administratif. Basis massa dengan antusiasme tertinggi, menurutnya, berada di Kecamatan Gandusari dan Kampak, sementara di Kecamatan Durenan sebagai pusat organisasi jumlahnya tergolong standar namun tetap banyak.
"Namun kalau warganya itu semua sudah semangat dalam pribadi. Ya sebagian sedikit sekali yang semangat tentang organisasi. Begitu lho," imbuhnya.
Mbah Gito juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten Trenggalek, baik berupa kehadiran fisik pejabat maupun bantuan anggaran melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Trenggalek.
"Kalau dukungan masalah keuangan ini itu malah ditentukan dua tahun sekali dari Kesbangpol begitu. Namun kalau yang dahulu-dahulu itu ya misalnya seperti bupati hadir, tetap ada dukungan," ujarnya.
Ia menekankan ajaran Jowo Dipo tidak pernah memberikan paksaan fisik kepada para penganutnya. Nilai utama yang ditanamkan adalah spiritualitas hati untuk senantiasa mengingat Sang Pencipta dalam kehidupan sehari-hari.
"Yang ditekankan ya cuma harus dirinya sendiri itu selalu belajar membiasakan melihat, selalu belajar membiasakan ingat. Selama hidup itu selalu melihat ingat kepada Tuhannya, selalu melihat, selalu ingat kepada Gusti Allah," pungkasnya.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
TAGS
Advertisement