POGALAN, TRENGGALEK - Momen Iduladha ternyata bukan cuma bikin penjual hewan kurban sibuk. Pengrajin tusuk sate di Trenggalek juga ikut panen orderan. Di Desa Pogalan, Kecamatan Pogalan, suara mesin pembuat tusuk sate nyaris tak berhenti sejak pagi. Permintaan yang biasanya masih bisa santai, kini naik drastis mendekati Hari Raya Kurban.
Salah satu pengrajin, Herno Nurmanto, mengaku produksi tusuk sate saat ini hampir dua kali lipat dibanding hari biasa.
“Menjelang Iduladha ini permintaan banyak sekali, mas. Kurang lebih sekitar 7 kuintalan habis per harinya itu,” ujar Herno saat ditemui di rumah produksinya.
Padahal di hari normal, produksi bersama enam pekerjanya rata-rata hanya berkisar 3 sampai 4 kuintal per hari. Lonjakan permintaan itu bahkan membuat pria yang akrab disapa Nur tersebut harus memilih pelanggan yang diprioritaskan.
Ia mengaku sementara hanya melayani pembeli lama karena kapasitas produksi belum mampu menutup seluruh permintaan pasar. “Cuma yang saya cover cuma pelanggan lama saja. Soalnya permintaan hampir dua kali lipat dari hari biasa,” katanya.
Menariknya, meski order meningkat tajam, stok bahan baku bambu di Trenggalek masih relatif aman. Menurut Nur, wilayah pegunungan di Trenggalek membuat pasokan bambu cukup melimpah.
Bambu untuk produksi biasanya didatangkan dari sejumlah kecamatan seperti Dongko, Munjungan, Kampak, hingga Sendang di Tulungagung.

Nur sengaja mengambil bahan dari beberapa lokasi sekaligus untuk mengantisipasi keterlambatan pasokan. Soal kualitas, ia punya standar tersendiri. Tidak semua jenis bambu dianggap cocok untuk tusuk sate.
“Kalau sebenarnya semua bambu bisa, tapi yang paling bagus itu bambu petung sama jenis ori,” ungkapnya.
Dari rumah produksinya di Pogalan, tusuk sate buatan Nur tak cuma beredar di Trenggalek. Produknya juga dikirim ke Tulungagung, Kediri, Nganjuk, bahkan sampai Jawa Tengah melalui jasa ekspedisi.
Di balik bentuknya yang sederhana, proses pembuatan tusuk sate ternyata cukup panjang. Dari bambu yang dipotong, masuk mesin pencetak, lalu dihaluskan lagi menggunakan beberapa mesin berbeda.
Kemudian bagian depan rumah produksi, bambu yang sudah dipotong dimasukkan ke mesin pembentuk awal hingga keluar menyerupai tusuk sate kasar. Setelah itu, tusuk masuk ke mesin irat dan slicer agar teksturnya lebih rapi dan halus sebelum dipotong sesuai ukuran kebutuhan.
“Nah, setelah kita potong, baru kita masukkan ke mesin poles supaya hasilnya halus,” ujar dia.
Kabar Trenggalek - Ekonomi
Editor: Zamz





















