Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini

Press ESC / Click X icon to close

Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini
LoginKirim Artikel

Harga Kedelai Naik, Pengrajin Tahu di Trenggalek Terpaksa “Kempeskan” Ukuran Dagangan

Kenaikan harga kedelai di Trenggalek membuat pengrajin tahu memperkecil ukuran produksi agar usaha tetap bertahan.

Poin Penting

  • Pengrajin tahu di Durenan Trenggalek memperkecil ukuran tahu akibat harga kedelai naik.
  • Harga kedelai kini mencapai Rp10.500 per kilogram atau naik sekitar Rp2.000.
  • Pedagang makanan kecil juga mulai mengurangi porsi tahu dan tempe untuk menekan biaya.

DURENAN, TRENGGALEK - Naiknya harga kedelai mulai bikin pelaku usaha kecil di Trenggalek putar otak. Bukan menaikkan harga jual, sebagian pengrajin justru memilih “mengecilkan” ukuran tahu supaya pelanggan tidak kabur.

Situasi itu dialami Masrur, pengrajin tahu asal Dusun Bakalan, Desa Sumbergayam, Kecamatan Durenan. Sudah lebih dari 15 tahun ia menjalankan usaha produksi tahu bersama tujuh pekerjanya.

Namun beberapa bulan terakhir, biaya produksi terus naik setelah harga kedelai ikut melonjak imbas melemahnya nilai tukar rupiah.

“Kalau harga dinaikkan di pasar susah, jadi jalan keluarnya ya ukuran tahunya dikurangi,” ujar Masrur, Kamis (21/5/2026).

Biasanya, satu kali produksi memakai sekitar 14 kilogram kedelai. Kini jumlahnya dikurangi menjadi 12 kilogram agar pengeluaran tetap bisa ditekan.

Akibatnya, ukuran tahu yang dijual ikut berubah. Masrur mengatakan ukuran tahu sekarang lebih kecil sekitar setengah sentimeter dibanding sebelumnya.

Setiap hari, ia membutuhkan sekitar 150 sampai 200 kilogram kedelai untuk memenuhi produksi tahu mentah dan tahu matang. Bahan baku tersebut dibeli dari wilayah Aloha Trenggalek.

Dalam satu kali produksi, Masrur mampu menghasilkan sekitar 230 biji tahu mentah yang dijual Rp1.000 per buah. Proses memasak bahkan bisa dilakukan hingga 12 kali dalam sehari.

ADVERTISEMENT

Tahu hasil produksinya kemudian dipasarkan ke Pasar Bandung sejak dini hari. Dari sana, dagangan dibeli pedagang keliling atau ethek untuk dijual kembali ke warga.

Perubahan ukuran tahu sempat memicu protes pelanggan. Namun menurut Masrur, konsumen perlahan mulai memahami kondisi harga bahan baku yang terus naik.

“Awalnya memang banyak yang komplain, tapi setelah dijelaskan mereka akhirnya mengerti,” katanya.

Saat ini harga kedelai mencapai sekitar Rp10.500 per kilogram. Angka itu naik sekitar Rp2.000 dibanding sebelumnya yang masih berada di kisaran Rp8.500 per kilogram.

Dampak kenaikan harga juga dirasakan pedagang makanan kecil. Komsiyah, penjual rujak sayur dan nasi pecel di Desa Karanganom, mengaku ikut mengurangi porsi tahu dan tempe dalam dagangannya.

“Mau tidak mau pemberian tahu untuk rujak kami kurangi,” ujarnya.

Pelaku usaha kecil berharap harga kedelai bisa kembali stabil agar usaha rumahan tetap bertahan di tengah naiknya biaya produksi.

Kabar Trenggalek - Ekonomi

Editor: Zamz