Drone Semprot Padi di Trenggalek, Petani Kerja Lebih Ringan
Petani di Trenggalek kini cukup mengawasi dari pinggir sawah saat drone menyemprot padi hanya dalam hitungan menit, lebih presisi dan hemat tenaga.
16 Jul 2026 • 08:00 WIB
Petani Trenggalek semprot lahan sawah menggunakan alat drone. KBRT/Zamz
Ringkasan
- Drone menyelesaikan penyemprotan satu petak lahan 100 ru hanya dalam 4-6 menit.
- Jasa drone dari PT Maxxi Tani Teknologi mematok tarif Rp100 ribu per ru.
- Penyemprotan lahan bengkok Desa Karanganom seluas sekitar 700 ru (3-4 hektare).
TRENGGALEK - Petani asal Desa Karanganom, Kecamatan Durenan, Trenggalek, tampak santai dari kejauhan. Ia hanya menyiangi padi yang mulai bergulir, sementara satu unit drone yang dikemudikan seorang pilot terbang rendah menyemprotkan obat ke petak sawahnya.
Hanya dalam hitungan 4 hingga 6 menit, drone itu sudah menyelesaikan penyemprotan satu petak lahan seluas 100 ru — sebutan masyarakat desa untuk luas 1.444 meter persegi.
Lahan yang digarap Senin hari itu merupakan tanah bengkok milik kepala desa, dengan total luasan sekitar 700-an ru yang disemprot menggunakan teknologi drone.
Advertisement
Sebelumnya, Senin harus bersusah payah menyemprot secara manual memakai tangki. Kini prosesnya jauh lebih mudah, cepat, dan presisi.
"Kalau menggunakan drone hanya tinggal melihat, lebih mudah serta murah," ujarnya.
Pria berkumis ini menerangkan, lahan di sebelah timur yang ia garap baru pertama kali memakai teknologi ini, sementara lahan di sebelah barat sudah pernah disemprot dengan drone sebelumnya.
Helper Pilot Drone Maxxi Tani wilayah Trenggalek, Muhammad Fadlika, menjelaskan pengerjaan kali ini dilakukan atas inisiatif dan pengajuan langsung dari Kepala Desa Karanganom, Muntingah.
"Kalau ini tadi pengajuan dari Bu Lurah. Bu Lurah Karanganom meminta tolong untuk di-drone-kan lahannya," ujar Fadlika saat ditemui di lokasi.
Ia menyebut target luasan lahan persawahan yang disemprot hari itu mencapai sekitar 700 ru, atau setara 3 hingga 4 hektare, dengan target rampung dalam satu hari. Menurutnya, durasi pengerjaan sangat bergantung pada karakteristik geografis lahan yang digarap.
"Kurang lebih satu hari, soalnya kan lahannya pindah-pindah juga," imbuhnya.
Pemanfaatan fasilitas dari PT Maxxi Tani Teknologi ini menggunakan sistem kerja sama yang fleksibel dan diklaim tidak memberatkan petani di awal musim tanam. Fadlika memaparkan, paket jasa yang ditawarkan sudah mencakup operasional alat sekaligus penyediaan obat-obatan pertanian.
Menariknya, sistem pembayaran bisa dilakukan dengan skema tunda, yakni dibayar setelah masa panen tiba.
"Sistemnya ini kerja sama. Jadi jasa sama obat itu dari saya. Nanti petani itu bayarnya panen. Dibayar di depan boleh, dibayar di belakang juga boleh," terangnya.
Soal tarif, perusahaan menerapkan sistem hitung per ru dengan biaya Rp100 ribu per ru. Menurut Fadlika, skema ini transparan karena nominal pembayaran langsung dikalikan dengan total luasan lahan milik petani.
Fadlika mengakui kehadiran teknologi drone memberikan dampak positif bagi efektivitas kerja petani di lapangan. Proses penyemprotan menjadi jauh lebih presisi dibandingkan metode konvensional, sekaligus menghemat tenaga fisik petani.
"Sangat mudah, soalnya sudah dibantu dengan obatnya juga, dengan alatnya juga. Jadi petani tinggal di pinggir sambil melihat saja," akuinya.
Dalam satu musim tanam, intensitas penyemprotan drone disesuaikan secara dinamis dengan perkembangan kondisi tanaman, biasanya membutuhkan frekuensi dua hingga tiga kali penyemprotan agar hasilnya maksimal.
Adapun cairan yang disemprotkan melalui drone meliputi kombinasi nutrisi tanaman, fungisida (anti-jamur), serta insektisida (anti-serangga) untuk mencegah serangan hama.
"Seluruh pasokan obat pertanian tersebut dipastikan murni berasal dari produk kami tanpa adanya unsur subsidi," tutupnya.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
Advertisement