KBRT - Industri fashion telah menjadi salah satu kontributor utama terhadap kerusakan lingkungan global. Meskipun pakaian baru sering kali dilihat sebagai simbol gaya dan status, sedikit yang menyadari jejak lingkungan yang ditinggalkan oleh produksinya.
Dilansir dari buku Cerita di Balik Pakaian karya Amira D.P, dampak yang signifikan dari produksi fashion terhadap lingkungan, mulai dari jejak karbon yang membebani atmosfer hingga pencemaran tanah dan air yang mengancam ekosistem bumi.
Tidak dapat disangkal bahwa industri fashion merupakan salah satu industri paling konsumtif di dunia. Proses produksinya yang sangat intensif energi, mulai dari pengolahan bahan baku hingga manufaktur, menyebabkan jejak karbon yang substansial.
Setiap tahap dalam siklus hidup pakaian, mulai dari pertanian serat hingga distribusi akhirnya, menghasilkan emisi gas rumah kaca yang berkontribusi pada pemanasan global.
Dalam realitas dimana perubahan iklim semakin mendesak, penting untuk memahami bagaimana praktek produksi fashion berkontribusi pada krisis ini dan bagaimana kita dapat bergerak menuju model yang lebih berkelanjutan.
Namun, jejak karbon bukanlah satu-satunya masalah lingkungan yang dihadapi oleh industri fashion. Pencemaran tanah dan air juga menjadi dampak serius dari produksinya. Proses pewarnaan tekstil, penggunaan bahan kimia dalam produksi, dan pembuangan limbah cair semuanya berkontribusi pada degradasi kualitas tanah dan air di sekitar pabrik-pabrik produksi.
Akibatnya, ekosistem alami terganggu, spesies binatang terancam punah, dan kesehatan manusia terancam oleh paparan bahan kimia berbahaya.
Untuk memahami betapa parahnya dampak lingkungan dari industri fashion, kita juga perlu mengkaji dampak sosialnya. Banyak dari pabrik-pabrik produksi fashion terletak di negara-negara berkembang, di mana regulasi lingkungan dan perlindungan pekerja seringkali lemah.
Hal ini menyebabkan pekerja pabrik dan komunitas lokal menderita dampak langsung dari polusi lingkungan yang dihasilkan oleh industri tersebut. Dengan kata lain, model produksi fashion saat ini tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga memperkuat ketidaksetaraan global.
Dalam menghadapi tantangan ini, penting bagi industri fashion untuk mengambil langkah-langkah konkret menuju keberlanjutan. Ini tidak hanya melibatkan mengurangi emisi karbon dan mengurangi limbah, tetapi juga membangun sistem produksi yang lebih etis dan adil bagi semua pihak yang terlibat.
Berbagai inovasi telah diusulkan, mulai dari penggunaan bahan ramah lingkungan hingga praktik produksi yang lebih transparan dan bertanggung jawab. Tantangan terbesar mungkin terletak pada mengubah paradigma konsumen.
Kesadaran akan dampak lingkungan dari pilihan fashion kita perlu ditingkatkan. Konsumen harus didorong untuk memilih produk-produk yang diproduksi secara berkelanjutan dan mendukung merek-merek yang memprioritaskan keberlanjutan lingkungan dan sosial.
Dengan demikian, konsumen bukan hanya menjadi bagian dari masalah, tetapi juga bagian dari solusi. Perubahan tidak akan datang dengan mudah. Namun, dengan kesadaran yang meningkat dan tekanan yang bertambah dari konsumen, aktivis, dan pemangku kepentingan lainnya, ada harapan untuk menciptakan industri fashion yang lebih berkelanjutan secara lingkungan dan sosial.
Hal ini membutuhkan komitmen kolektif untuk melihat di luar kebutuhan dan keinginan pribadi kita dan memprioritaskan kesejahteraan planet kita dan semua makhluk yang menghuninya.
Kabar Trenggalek - Lingkungan
Editor:Zamz