Cengkeh Dijemur Pinggir JLS Trenggalek, Strategi Warga Saat Musim Panen Tiba
KBRT – Jika sedang melintas di Jalur Lintas Selatan (JLS) Pantai Cengkrong, Kecamatan Watulimo, bersiaplah terkejut dengan pemandangan tak biasa: hamparan cengkeh yang dijemur berjajar rapi di sisi jalan beraspal, seolah ikut menyapa para pengendara yang lewat.Ternyata, pemandangan itu bukan tanpa alasan. Musim panen cengkeh tiba, dan warga sekitar seperti Yunus (60), warga Desa Prigi, memanfaatka...
06 Jul 2025 • 12:00 WIB
Aktivitas warga trenggalek saat musim cengkeh. KBRT/Mirza
KBRT – Jika sedang melintas di Jalur Lintas Selatan (JLS) Pantai Cengkrong, Kecamatan Watulimo, bersiaplah terkejut dengan pemandangan tak biasa: hamparan cengkeh yang dijemur berjajar rapi di sisi jalan beraspal, seolah ikut menyapa para pengendara yang lewat.
Ternyata, pemandangan itu bukan tanpa alasan. Musim panen cengkeh tiba, dan warga sekitar seperti Yunus (60), warga Desa Prigi, memanfaatkan panas maksimal di sepanjang JLS Cengkrong untuk mengeringkan hasil panen dari kebunnya.
“Di sini panasnya seharian penuh. Kalau di rumah saya, banyak pohon sama bangunan, jadi gak bisa maksimal,” kata Yunus saat ditemui sambil menjaga jemurannya.
Advertisement
Setiap harinya, Yunus membawa sekitar satu kuintal cengkeh, hasil panen selama tiga hari. Proses penjemuran membutuhkan waktu sekitar tiga hari bila cuaca cerah. Tapi kalau matahari malu-malu, bisa sampai lima atau enam hari baru benar-benar kering.
“Kalau panasnya bagus, tiga hari cukup. Tapi kalau cuaca mendung, bisa sampai seminggu,” ujarnya sambil tersenyum.
Uniknya lagi, Yunus tak hanya menjemur—dia juga duduk menunggui jemurannya seharian penuh. Lokasi pinggir jalan memang strategis soal panas, tapi juga berisiko. Ia harus sigap kalau ada angin besar, hujan mendadak, atau orang iseng.
Bukan tanpa alasan Yunus melakukan ini semua. Ia berencana menyimpan cengkeh hingga harga jualnya naik. Kalau dijual saat musim panen, harganya jatuh. Tapi kalau disimpan dan dijual saat stok langka, untungnya bisa berlipat.
“Kalau dijual basah, uangnya nggak kumpul. Kalau dijual kering pas harganya bagus, bisa tiga sampai empat kali lipat lebih mahal,” jelasnya.
Tapi proses pengeringan juga punya ‘harga’. Cengkeh yang basah bisa menyusut volumenya jadi sepertiga saat kering. Satu kuintal cengkeh basah bisa jadi tinggal 30–35 kilogram saja saat benar-benar kering.
“Saya pernah simpan cengkeh kering sampai tiga tahun. Nggak masalah asal dibungkus plastik. Tapi kalau basah, sehari dua hari aja udah rusak,” katanya mantap.
Dari cerita Yunus dan cengkehnya, kita bisa belajar bahwa musim panen bukan hanya soal memetik hasil, tapi juga tentang strategi, kesabaran, dan membaca waktu yang tepat. Pemandangan unik di pinggir jalan JLS Watulimo ini pun jadi potret nyata bagaimana masyarakat menjaga nilai ekonominya lewat cara-cara sederhana namun cerdas.
Inilah salah satu alasan mengapa kita perlu makin tahu Indonesia—dari kehidupan petani kecil yang tanpa sorotan, tapi penuh makna.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
Advertisement
Artikel Terkait
Harga Cengkeh Anjlok, Petani Watulimo Terpaksa Jual Basah dan Panggang Sendiri
Gagang Cengkeh di Trenggalek Bisa Dijual, Harganya Tembus Rp10 Ribu per Kilo
Harga Cengkeh Trenggalek Fluktuatif, Petani Jual Murah Rp31.500
Petik Cengkeh Dapat Rp150 Ribu per Hari, Buruh di Trenggalek Jalani Pekerjaan Musiman dengan Risiko Tinggi
Petani di Watulimo Gencar Tanam Durian Premium, Ini Tips Perawatannya