Cak Kun dan Ambulans Gratis Si-Galing, Menjembatani Warga Kurang Mampu Menuju Pengobatan
Sugeng Kuncahyo atau Cak Kun menjalankan ambulans gratis Si-Galing untuk membantu warga kurang mampu menuju rumah sakit.
19 Aug 2026 • 18:08 WIB
Aksi sosial pak kun bersama ambulance menjadi jembatan warga kurang mampu. KBRT/Zamz
Ringkasan
- Cak Kun menjalankan Si-Galing sebagai layanan ambulans gratis bagi warga yang membutuhkan.
- Si-Galing mendampingi pasien berobat rutin hingga menempuh perjalanan ke luar daerah.
- Kini Si-Galing memiliki tiga armada dengan dua pengemudi aktif.
TRENGGALEK - Bagi pasien dari keluarga kurang mampu, perjalanan menuju rumah sakit rujukan bukan sekadar persoalan jarak. Biaya transportasi yang membengkak kerap menjadi tembok penghalang untuk mendapatkan layanan kesehatan.
Di tengah persoalan itu, Sugeng Kuncahyo atau yang akrab disapa Cak Kun memilih bergerak. Ia menjalankan layanan ambulans kemanusiaan Siaga Lingkungan (Si-Galing) secara mandiri dan swadaya.
Tidak ada tarif yang dipatok bagi warga yang membutuhkan pertolongan. Si-Galing melayani pengantaran pasien, termasuk mereka yang harus menjalani pengobatan secara rutin di fasilitas kesehatan.
Advertisement
Bagi Cak Kun, keterbatasan ekonomi tidak semestinya membuat seseorang berhenti berobat.
Prinsip itu pula yang membuat layanan Si-Galing tidak hanya berfokus pada kondisi darurat. Pasien dengan penyakit berat yang membutuhkan pengobatan berkala juga mendapatkan pendampingan.
Salah satunya Fandi, warga Desa Kedunglurah, Kecamatan Pogalan. Ia mengalami luka bakar parah di hampir seluruh tubuh setelah tersengat listrik bertegangan tinggi.
Kondisi tersebut membuat Fandi harus menjalani perawatan medis secara berkelanjutan. Si-Galing kemudian mengambil peran dengan menyediakan transportasi untuk memenuhi kebutuhan pengobatannya.
Pendampingan serupa diberikan kepada Sukadi, warga Kelurahan Sumbergedong, Kecamatan Trenggalek. Ia membutuhkan pengawalan medis secara berkala.
“Kami harus mendampingi beliau secara telaten sampai benar-benar sembuh,” kata Cak Kun.
Belum lama ini, Si-Galing juga menjemput Murjani, warga Desa Jatiprahu, Kecamatan Karangan. Ia mengalami infeksi berat pada bagian wajah dan membutuhkan pemeriksaan spesialis di rumah sakit rujukan.
Bagi tim Si-Galing, perjalanan membawa pasien tidak selalu berjarak dekat. Layanan tersebut bahkan telah menjangkau sejumlah kota di luar Kabupaten Trenggalek.
“Tim kami sudah sangat sering mengantar pasien ke Jakarta, Surabaya, Solo, dan kota-kota lain. Rute ke Malang juga paling sering kami tempuh,” ungkapnya.
Perjalanan antarkota tentu membutuhkan bahan bakar dan biaya operasional. Namun, kebutuhan tersebut tidak membuat Cak Kun menetapkan tarif kepada pasien.
Ia membangun Si-Galing bukan sebagai layanan komersial. Armada pertama dibelinya menggunakan uang tabungan pribadi. Ketika kendaraan tersebut mengalami kerusakan parah, ia kembali menggunakan uang sendiri untuk membeli mobil pengganti agar layanan tetap berjalan.
Seiring berjalannya waktu, dukungan masyarakat mulai datang. Seorang dermawan asal Surabaya memberikan satu unit mobil jenazah.
Dukungan juga datang dari Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Jawa Timur VII, Novita Hardini, yang memberikan satu unit ambulans pasien untuk memperkuat armada Si-Galing.
Kini, Si-Galing memiliki tiga unit armada. Dua unit digunakan untuk melayani pengangkutan pasien, sedangkan satu unit diperuntukkan mengangkut jenazah.
Namun, bertambahnya armada belum berarti kebutuhan operasional selesai. Bahan bakar, perawatan kendaraan, hingga perlengkapan medis tetap membutuhkan biaya.
Karena itu, Si-Galing membuka ruang bagi masyarakat yang ingin memberikan dukungan melalui donasi. Kendati demikian, bantuan tersebut tidak pernah dijadikan syarat bagi pasien untuk mendapatkan layanan.
“Jika keluarga pasien ingin membantu, kami hanya menerima bantuan seikhlasnya, dan itu pun sifatnya sangat kondisional,” tegas Cak Kun.
Keluarga pasien yang memiliki kemampuan finansial dapat memberikan bantuan secara sukarela untuk mendukung kebutuhan bahan bakar dan operasional. Sementara bagi keluarga yang benar-benar tidak mampu, tim Si-Galing justru berupaya mencarikan dukungan dari donatur.
Di balik tiga armada yang kini dimiliki, layanan sosial tersebut masih berjalan dengan sumber daya manusia yang terbatas. Si-Galing hanya mengandalkan dua pengemudi aktif, yakni Cak Kun sendiri dan seorang relawan anak yatim yang ia bina.
Keterbatasan personel tidak menghentikan mereka melayani warga. Perjalanan jauh, termasuk hingga luar provinsi, tetap ditempuh ketika ada pasien yang membutuhkan bantuan.
Bagi keluarga yang memiliki kemampuan ekonomi, ambulans mungkin hanya dipandang sebagai kendaraan untuk mengantar pasien. Namun, bagi keluarga kurang mampu, keberadaan ambulans gratis dapat menjadi jembatan agar pengobatan tetap bisa dilanjutkan.
Cak Kun memilih mempertahankan prinsip tersebut. Dari satu kendaraan yang dibeli menggunakan uang pribadi hingga kini memiliki tiga armada, ia terus menjalankan Si-Galing dengan satu keyakinan: jangan sampai warga berhenti berobat hanya karena tidak memiliki biaya untuk menuju rumah sakit.
“Saya tidak pernah menetapkan tarif rupiah untuk layanan ambulans kami,” ujarnya.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
TAGS
Advertisement
Artikel Terkait
Daftar Alamat Kantor Pos di 14 Kecamatan Trenggalek
Terpilih Aklamasi, Perempuan Asal Trenggalek Pimpin IKPI Kediri Periode 2026–2029