Bukit Tunggangan Durenan Diserbu Wisatawan, Sunrise Jadi Daya Tarik Utama
Bukit Tunggangan Trenggalek ramai dikunjungi saat akhir pekan, tawarkan view sunrise hingga “negeri di atas awan”.
04 May 2026 • 14:00 WIB
Kondisi bukit tunggangan trenggalek yang eksotis. KBRT/Zamz
Ringkasan
- Bukit Tunggangan dipadati ratusan pengunjung tiap akhir pekan
- Akses mudah dan tanpa tiket masuk jadi daya tarik
- Sunrise dan panorama awan jadi favorit wisatawan
DURENAN, TRENGGALEK - Wana wisata Bukit Tunggangan Paralayang di Desa Kendalrejo, Kecamatan Durenan, Trenggalek, masih jadi magnet wisata akhir pekan. Sejak subuh, ratusan pengunjung sudah memadati area bukit untuk berburu pemandangan pagi, terutama momen matahari terbit.
Lokasinya yang tidak jauh dari jalur nasional Trenggalek–Tulungagung membuat akses menuju tempat ini relatif mudah dijangkau.
Selain akses utama yang dekat, jalur menuju puncak paralayang setinggi sekitar 300 meter di atas permukaan laut (mdpl) juga sudah dilapisi cor beton. Sementara untuk titik tertinggi, yakni Puncak 5 Condro Geni di ketinggian sekitar 750 mdpl, pengunjung masih harus berjalan melalui jalur setapak.
Advertisement
Menariknya, pengunjung tidak dikenakan tiket masuk. Mereka hanya perlu membayar parkir, yakni Rp2 ribu untuk sepeda motor dan Rp5 ribu untuk mobil.
Salah satu pengunjung, Rista Vidya Titazahra, mengaku memilih Bukit Tunggangan karena menawarkan pemandangan pegunungan tanpa harus pergi jauh.
"Kenapa memilih Minggu pagi di sini, karena bisa melihat kayak siluet siluet pagi hari. Termasuk sunrise ya, serta ada view-view menarik ala pegunungan," ujarnya saat ditemui di lokasi, Minggu (3/5/2026).
Ia juga menyebut suasana alam yang masih asri menjadi alasan lain untuk datang, sekaligus mencari udara segar.
"Kesini selain menghabiskan akhir pekan seperti orang-orang yang apa ya, mencari udara segar kak," katanya.
Rista menilai kondisi akses saat ini jauh lebih baik dibanding beberapa tahun lalu, sehingga cocok untuk pemula yang ingin mencoba aktivitas ringan seperti jalan santai atau mendaki ringan.
"Mungkin dulu jalannya masih masih apa ya kurang prefer gitu. Terus kalau sekarang udah bagus banget dan layak banget untuk dikunjungi," tandasnya.
Di balik ramainya kunjungan, Bukit Tunggangan punya perjalanan panjang sebelum dikenal luas. Pengurus Kelompok Tani Hutan (KTH) Wono Asri, Muyajid, menjelaskan lokasi ini mulai dilirik sejak 2016 saat dilakukan survei oleh Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) untuk mencari spot paralayang.
"Jadi ada teman yang anggota Fasi di ya survei Kabupaten Trenggalek. Ternyata daerah sini yang paling bagus di untuk paralayang," paparnya.
Popularitasnya mulai naik sejak 2018 setelah digunakan untuk event paralayang. Sempat sepi saat pandemi Covid-19, kawasan ini kembali ramai sejak 2023 setelah digelar kejuaraan nasional paralayang yang diikuti ratusan peserta, termasuk dari luar negeri.
"Saat itu event besar pesertanya dari yang dari Malaysia, Thailand, Kanada juga. Masyarakat ikut mendapatkan berkah, karena banyak yang mencari penginapan di rumah-rumah warga sekitar," bebernya.
Saat ini, kunjungan wisatawan masih terbilang tinggi, terutama di hari libur.
"Alhamdulillah saat ini kalau hari Minggu atau tanggal merah ramai. Parkir motor penuh sekitar 300an kendaraan. Berarti untuk hari libur atau Minggu sekitar 600an pengunjung," ungkapnya.
Pengelola membatasi jam operasional hingga pukul 18.00 WIB. Di atas jam tersebut, pengunjung yang tetap berada di lokasi akan dikenakan aturan khusus untuk kegiatan berkemah.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
Advertisement
Artikel Terkait
Santri Trenggalek Ubah Kamus Arab Legendaris Jadi Aplikasi Digital, Dikerjakan Saat Senggang dari Bertani
Meski Diklaim Jumlahnya Turun, Balon Udara Masih Ada Saat Lebaran Ketupat Trenggalek
H-4 Lebaran, Lalu Lintas Perbatasan Trenggalek–Tulungagung Masih Ramai tapi Lancar
Trenggalek Kirim Satu Keluarga Ikut Program Transmigrasi Jatim 2025