Santri Trenggalek Ubah Kamus Arab Legendaris Jadi Aplikasi Digital, Dikerjakan Saat Senggang dari Bertani
Ahmad Aly Musyafa’ dari Durenan Trenggalek mengubah Kamus Al-Munawwir menjadi aplikasi digital demi menjaga tradisi keilmuan pesantren.
30 May 2026 • 08:00 WIB
Santri Trenggalek rubah kamus digital dengan cara manual. KBRT/Zamz
Ringkasan
- Warga Durenan Trenggalek membuat aplikasi digital Kamus Al-Munawwir
- Proses penulisan ulang ribuan kosakata memakan waktu 13 bulan
- Aplikasi dibuat gratis dan dipakai kalangan pesantren
DURENAN, TRENGGALEK – Di tengah gempuran aplikasi modern dan kecerdasan buatan, seorang santri asal Kabupaten Trenggalek memilih jalan sunyi: mengetik ulang ribuan kosakata Arab demi menjaga warisan kitab klasik tetap hidup di era digital.
Namanya Ahmad Aly Musyafa’ (51), warga Desa Kamulan, Kecamatan Durenan. Selama sekitar 13 bulan, ia pelan-pelan mengubah Kamus Al-Munawwir karya KH Ahmad Warson Munawwir ke dalam bentuk aplikasi digital yang bisa dipakai lewat ponsel.
Menariknya, proses itu tidak dikerjakan di ruang kerja modern atau kantor teknologi. Musyafa’ mengerjakannya di sela aktivitas sehari-hari sebagai masyarakat desa.
Advertisement
“Saya buat 13 bulan. Saya tulis santai kalau ada pekerjaan saya bekerja, kalau nganggur saya mengetik. Misalkan tidak ada sampingan lainnya bisa cepat lagi,” ujar Musyafa’ saat ditemui di rumahnya.
Bagi Musyafa’, aplikasi itu bukan sekadar proyek teknologi. Ia menyebut digitalisasi kamus tersebut sebagai cara sederhana santri untuk tetap melanjutkan tradisi berkarya di lingkungan pesantren.
Menurutnya, dunia pesantren sejak dulu dibangun dari tradisi ilmu yang diwariskan melalui tulisan dan kitab-kitab ulama terdahulu.
“Maka santri harus tetap berkarya semampunya. Kalau tidak mampu menyaingi ulama-ulama yang dulu-dulu ya bisannya menjiplak mengembangkan dari buku ke digital. Kalau bisanya itu ya itu yang kita lakukan,” katanya.
Musyafa’ mengaku tantangan terbesar selama menyusun aplikasi bukan soal coding atau pemrograman, melainkan menjaga konsistensi. Kesibukannya sebagai warga agraris membuat proses pengetikan sering terhenti, terutama saat musim panen tiba.
“Ya kadang kita sewaktu panen, itu sudah tidak bisa kontinu mengetik. Tidak bisa, ya harus libur beberapa hari karena kesibukan-kesibukan seperti itu,” ujarnya.
Pria yang pernah mondok di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri dan Mojosari Nganjuk itu juga berusaha menjaga etika akademik dan tradisi takzim kepada penulis asli kamus.
Ia sempat datang ke Yogyakarta untuk sowan ke keluarga KH Ahmad Warson Munawwir. Namun saat itu sang muallif sudah wafat, sehingga ia hanya sempat berziarah ke makam beliau.
Musyafa’ juga berniat menemui Gus Fairuz, putra KH Ahmad Warson Munawwir. Namun rencana itu belum terlaksana karena Gus Fairuz sedang menghadiri acara keluarga di Kediri.
Meski kini banyak aplikasi kamus digital beredar, Musyafa’ tidak terlalu memikirkan persaingan fitur. Ia justru lebih fokus pada tujuan dari aplikasi yang dibuatnya.
“Sama saja, kalau aplikasi itu ada plus minusnya. Cuma tinggal niat atau tujuan dari aplikasi itu dibuat untuk apa, itu saja yang membedakan,” tuturnya.
Saat ini aplikasi Kamus Al-Munawwir digital tersebut masih digunakan di lingkungan terbatas, terutama kalangan pesantren dan pengajar kitab.
Menurut Musyafa’, tidak semua alumni pondok masih membutuhkan kamus Arab setelah kembali ke masyarakat. Biasanya aplikasi itu tetap dipakai mereka yang masih aktif mengajar kitab kuning.
“Sehingga tidak lagi membutuhkan kamus tersebut. Artinya, mereka yang masih aktif mengajarkan kitab di rumah yang rata-rata masih menggunakannya,” jelasnya.
Ia juga belum berniat mempromosikan aplikasi itu secara besar-besaran. Musyafa’ memilih membiarkan aplikasinya berkembang secara alami dari sesama santri ke santri lain.
“Bahasa Jawanya sak mlakune. Kami belum begitu berani. Artinya, saya sendiri tidak berusaha memviralkan juga tidak,” imbuhnya.
Di balik tampilannya yang sederhana, Musyafa’ menyimpan harapan besar. Ia ingin aplikasi tersebut menjadi amal jariah ilmu yang terus bermanfaat untuk generasi berikutnya.
“Sebagaimana ulama-ulama terdahulu yang selalu meninggalkan karya berharga bagi generasi penerusnya,” katanya.
Saat ini aplikasi Kamus Al-Munawwir buatannya belum tersedia di Google Play Store. Namun masyarakat tetap bisa mengunduhnya secara gratis melalui tautan Google Drive yang dibagikan lewat blog resmi PC LFNU Trenggalek.
Musyafa’ memastikan aplikasi itu bisa digunakan tanpa biaya. “Masyarakat dapat mengunduh dan menggunakannya secara cuma-cuma tanpa dipungut biaya,” katanya.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
Advertisement
Artikel Terkait
Bukit Tunggangan Durenan Diserbu Wisatawan, Sunrise Jadi Daya Tarik Utama
Meski Diklaim Jumlahnya Turun, Balon Udara Masih Ada Saat Lebaran Ketupat Trenggalek
H-4 Lebaran, Lalu Lintas Perbatasan Trenggalek–Tulungagung Masih Ramai tapi Lancar