Cerita Warga Soal Temuan Batu Kuno di Durenan Kamulan, Terungkap Setelah Puluhan Tahun

Warga Desa Kamulan, Trenggalek, mengaku sejak lama menemukan gerabah dan bata berukuran besar di sekitar permukiman yang kini diduga berkaitan dengan situs kuno.

Cerita Warga Soal Temuan Batu Kuno di Durenan Kamulan, Terungkap Setelah Puluhan Tahun

Penemuan struktur bata kuno di kamulan trenggalek. KBRT/Zamz

Ringkasan

  • Warga Kamulan mengaku sejak lama menemukan gerabah dan bata merah berukuran besar di sekitar permukiman.
  • Sebagian bata kuno bahkan pernah dihancurkan untuk campuran semen karena belum diketahui nilai sejarahnya.
  • Peninjauan ahli menemukan struktur bata yang diduga bagian dari sistem tata air kuno di kawasan Kamulan.

TRENGGALEKJauh sebelum struktur bata merah kuno muncul di dasar sungai Desa Kamulan, Kecamatan Durenan, warga sebenarnya sudah akrab dengan benda-benda yang tak biasa di sekitar kampung mereka.

Ada yang menemukan pecahan gerabah, ada yang melihat bata merah berukuran tidak lazim, bahkan sebagian material itu pernah dihancurkan untuk campuran semen karena dianggap hanya batu biasa.

Kini, setelah temuan struktur bata merah yang diduga merupakan Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) menjadi perhatian para peneliti, cerita lama warga kembali muncul ke permukaan.

Advertisement

Muhammad Najamudin Purnomo (32), warga RT 23 RW 04 Dusun Sendang Kamulyan, mengaku sejak kecil sering mendengar cerita dari orang tuanya tentang banyaknya pecahan gerabah dan bata merah yang ditemukan di sekitar kawasan tersebut.

"Dulu cerita dari abah saya, seingat saya di bawah rumah sekitar sini ada seperti gerabah, tetapi gerabah dari bata merah. Pecahan-pecahan itu banyak di sini," ujarnya.

Menurut pria yang akrab disapa Naja itu, ukuran bata yang pernah ditemukan warga jauh berbeda dibanding bata bangunan modern. Sebagian bahkan memiliki ukuran yang terbilang tidak masuk akal jika dibandingkan dengan bata yang digunakan saat ini.

"Apalagi di belakang sana dulu juga ada bata merah tetapi besar-besar, ada yang satu meter, ada yang setengah meter. Tebalnya mungkin sekitar 20 sentimeter dan lebarnya sekitar setengah meter," katanya.

Sayangnya, pada masa lalu warga belum memahami nilai sejarah benda-benda tersebut. Akibatnya, sebagian bata yang diduga berasal dari bangunan kuno itu justru dimanfaatkan untuk kebutuhan pembangunan rumah.

Naja mengaku pernah mendengar cerita bahwa sejumlah bata berukuran besar dihancurkan dan dicampur ke dalam adonan semen.

Kini ia menyesalkan hal tersebut, terlebih setelah berbagai temuan arkeologis mulai bermunculan di wilayah Kamulan.

Selain bata merah, warga juga pernah menemukan benda yang menyerupai piring berukuran panjang di sekitar lokasi penemuan struktur bata di aliran sungai.

Menurut Naja, struktur bata yang kini menjadi perhatian pemerintah sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar baru bagi warga sekitar. Hanya saja, sebagian besar konstruksi tersebut sebelumnya masih tertutup tanah sehingga tidak terlihat jelas.

"Dulu sudah ada, cuma kan belum kelihatan. Kalau itu kan seperti aliran gorong-gorong," jelasnya.

Ia menduga struktur tersebut merupakan bagian dari saluran air kuno yang dahulu menghubungkan sumber mata air di kawasan Sumberagung dengan area persawahan di sekitarnya.

Keberadaan struktur itu mulai terlihat setelah dinding sungai mengalami longsor akibat banjir dan aktivitas pengambilan pasir yang mengikis tanah di sekitarnya.

"Gara-gara ada banjir atau ada yang digerong diambil pasirnya, jadinya kelihatan melebar ya, ambrol kelihatan struktur batanya itu. Dulu pasti bersambung, cuma kan sudah diambilin warga buat semen juga, jadi tidak kelihatan," ungkapnya.

Temuan tersebut kemudian mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Trenggalek. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan bersama Komunitas Pegiat Sejarah Trenggalek (PESAT) dan tim ahli melakukan peninjauan lapangan untuk mengidentifikasi potensi nilai sejarah yang terkandung di lokasi tersebut.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek, Toni Widianto, mengatakan tim juga meninjau lokasi kedua yang berada sekitar 400 meter dari titik temuan awal.

Di lokasi tersebut ditemukan struktur bata pada sisi kanan dan kiri dasar aliran sungai yang diduga merupakan bagian dari sistem tata air kuno.

"Tim meninjau lokasi kedua yang berjarak sekitar 400 meter ke arah barat daya dari lokasi pertama. Pada lokasi ini ditemukan struktur bata yang berada pada sisi kanan dan kiri dasar alur sungai," kata Toni.

Menurutnya, temuan ini semakin memperkuat dugaan bahwa Kamulan merupakan kawasan penting yang menyimpan jejak peradaban masa lampau.

Sebelumnya, berbagai temuan bersejarah juga pernah ditemukan di wilayah tersebut, mulai dari Prasasti Kamulan, fragmen arca Durga Mahisasuramardini, lapik arca, batu pipisan, batu lumpang, fragmen gerabah, hingga artefak terakota.

Bagi warga Kamulan, temuan terbaru ini bukan sekadar soal bata merah yang muncul dari dasar sungai. Lebih dari itu, ada kemungkinan bahwa sebagian sejarah yang selama ini terkubur perlahan mulai menunjukkan dirinya kembali.

Ikuti WhatsApp Channel

Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!

Join Channel

Advertisement

Artikel Terkait