KBRT - Makam Mbah Nur Musdhalifah yang terletak di Dusun Santren, Desa Rejowinangun, menjadi salah satu tujuan utama peziarah yang ingin menengok makam sesepuh dan tokoh penyiar agama di Trenggalek. Pada momen Hari Raya Idulfitri, jumlah peziarah biasanya meningkat.
Namun, berdasarkan pengakuan Imam Asrofi, jumlah peziarah tahun ini mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Imam Asrofi merupakan warga yang tinggal tepat di sebelah timur kompleks pemakaman Mbah Nur Musdhalifah, tepatnya di RT/RW 08/03, Kelurahan Rejowinangun.
"Tahun-tahun sebelumnya, sebelum Lebaran, bau bunga dan wewangian dari peziarah makam masih tercium di rumah saya. Namun, tahun ini saya merasa jumlah peziarah menurun, sehingga aroma tersebut tidak lagi tercium dari rumah," ujarnya.
Asrofi kemudian menceritakan secara singkat sejarah Mbah Nur Musdhalifah. Menurutnya, sejarah tokoh ini memiliki banyak versi, bahkan jika dicari di internet, akan muncul berbagai informasi yang berbeda.
"Versi yang beredar di masyarakat berbeda-beda. Bahkan di kalangan warga Santren sendiri terdapat pendapat yang berbeda pula. Ada yang meyakini beliau berasal dari Kediri, Banyuwangi, hingga Cirebon," ungkapnya.
Ia menambahkan, konon Mbah Nur Musdhalifah merupakan salah satu prajurit Pangeran Diponegoro yang berpencar saat sang pangeran diasingkan. Beliau disebut-sebut sebagai prajurit yang sampai di Trenggalek dan menjadi salah satu pendahulu yang memulai pembukaan daerah ini sekaligus menyebarkan agama Islam.
"Dalam cerita yang beredar, setiap daerah yang dibuka oleh prajurit Pangeran Diponegoro, termasuk Mbah Nur Musdhalifah, selalu didirikan musala dan ditandai dengan penanaman pohon sawo di sekitarnya," jelasnya.
Asrofi juga mengungkapkan bahwa garis keturunan Mbah Musdhalifah diyakini masih ada, khususnya di sekitar makamnya. Ia sendiri mengaku sebagai keturunan ketujuh dari Mbah Musdhalifah. Selain itu, di daerah Santren masih terdapat keturunan yang berada pada urutan kelima.
"Kalau nasab atau garis keturunan ke bawah masih bisa dirunut dengan jelas. Namun, untuk nasab ke atas, banyak versi yang simpang siur. Tetapi, saya meyakini beliau merupakan keturunan asli dari Cirebon," tandasnya.
Kabar Trenggalek - Sosial
Editor:Lek Zuhri