KBRT - Media sosial menjadi platform yang sangat bebas bagi setiap pengguna untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, dan identitas digital mereka. Tanpa memandang gender dan strata sosial, setiap orang bisa berinteraksi tanpa batasan. Namun, kebebasan ini juga memunculkan fenomena hiperrealitas, di mana realitas yang ditampilkan di media sosial sering kali dilebih-lebihkan atau bahkan direkayasa.
Dilansir dari buku "Media Sosial dan Budaya Baca Kita" karya Muhammad Syarif Bando, hiperrealitas adalah konsep yang diperkenalkan oleh Jean Baudrillard untuk menjelaskan bagaimana realitas dapat diciptakan oleh individu secara luas dan terang-terangan. Pengguna media sosial sering kali menciptakan citra diri yang tidak sepenuhnya mencerminkan realitas asli mereka. Dengan demikian, media sosial menjadi alat untuk membentuk realitas artifisial yang dikonstruksi oleh masyarakat luas.
Fenomena ini semakin berkembang dengan maraknya konten yang sengaja dibuat berlebihan. Khalayak dunia maya kerap kali percaya dan mengasosiasikan dirinya dengan realitas yang ditampilkan dalam konten tersebut. Akibatnya, media sosial menjadi ukuran status sosial yang sering kali tidak mencerminkan realitas yang sebenarnya.
Paradoks media sosial terletak pada bagaimana platform ini menciptakan dan memperkuat realitas imajinatif. Berbeda dengan media arus utama seperti televisi dan radio yang berlandaskan fakta, media sosial sering kali mengedepankan imajinasi dan konstruksi subjektif penggunanya. Konten yang dihasilkan tidak selalu mencerminkan kebenaran, tetapi justru lebih menonjolkan interpretasi atau manipulasi realitas.
Dampak pada Budaya Baca Generasi Muda
Fenomena hiperrealitas di media sosial juga berdampak pada budaya baca generasi muda. Saat ini, generasi milenial dan Gen Z lebih tertarik pada konten digital yang bersifat cepat, interaktif, dan mudah diakses dibandingkan dengan bacaan konvensional. Akibatnya, budaya membaca buku cetak mulai tergeser oleh konsumsi informasi instan melalui gawai.
Kemudahan akses terhadap internet telah mengubah pola belajar dan membaca. Aktivitas membaca yang dulunya dilakukan di perpustakaan atau sekolah kini beralih ke ruang-ruang privat seperti kafe dan co-working space, dengan gawai sebagai sumber utama informasi. Generasi muda lebih suka membaca dari layar digital dibandingkan buku fisik, karena dianggap lebih praktis dan dinamis.
Namun, ada sisi negatif dari pergeseran ini. Konsumsi konten instan di media sosial sering kali membuat pengguna kehilangan kemampuan berpikir kritis dan reflektif. Informasi yang beredar di media sosial tidak selalu melalui proses verifikasi yang ketat, sehingga mudah menyesatkan. Akibatnya, generasi muda rentan terhadap misinformasi dan hoaks.
Hiperrealitas dan Tantangan Literasi Digital
Paradoks media sosial juga membawa tantangan dalam literasi digital. Di satu sisi, media sosial menyediakan akses informasi yang luas dan dapat menjadi sarana edukasi. Namun, di sisi lain, banjir informasi yang tidak terfilter membuat pengguna kesulitan memilah mana yang benar dan mana yang manipulatif.
Hiperrealitas media sosial dapat mengurangi tingkat kekritisan pengguna dalam menyaring informasi. Mereka cenderung menerima informasi secara pasif tanpa melakukan verifikasi. Akibatnya, pemahaman terhadap suatu isu sering kali terdistorsi oleh bias informasi yang sengaja dikonstruksi oleh individu atau kelompok tertentu.
Fenomena hiperrealitas di media sosial merupakan tantangan besar bagi budaya membaca dan literasi digital. Generasi muda sebagai pengguna utama media sosial perlu dibekali dengan kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terpengaruh oleh realitas semu yang diciptakan di dunia maya. Literasi digital yang kuat menjadi kunci untuk menghadapi tantangan ini, sehingga media sosial dapat dimanfaatkan secara bijak tanpa mengorbankan budaya membaca yang mendalam dan reflektif.
Kabar Trenggalek - Edukasi
Editor:Zamz