Libur Sekolah Dapur MBG Trenggalek Tutup, Relawan Kembali Cari Nafkah dari Pekerjaan Lama

Operasional dapur MBG di Trenggalek berhenti selama libur sekolah. Relawan kembali bekerja di sektor lain karena insentif ikut terhenti.

Libur Sekolah Dapur MBG Trenggalek Tutup, Relawan Kembali Cari Nafkah dari Pekerjaan Lama

MBG Libur, Pemuda Trenggalek yang jadi relawan MBG ini kembali tekuni pekerjaan lama. KBRT/Zamz

Ringkasan

  • Dapur MBG di Trenggalek berhenti beroperasi selama masa libur sekolah.
  • Relawan kembali bekerja di sektor lain karena insentif sementara tidak dibayarkan.
  • Tidak ada PHK massal, namun sejumlah relawan disebut memilih mengundurkan diri.

TRENGGALEK – Libur sekolah bukan hanya membuat ruang kelas kosong. Dampaknya juga terasa hingga ke dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Trenggalek yang kini berhenti beroperasi sementara.

Sejak distribusi makanan dihentikan mengikuti kalender pendidikan, puluhan relawan dapur MBG kembali menjalani aktivitas lama mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Salah satunya Ahmad Baha'uddin, relawan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ngadisuko, Kecamatan Durenan.

Menurut Baha'uddin, operasional dapur MBG saat ini memang dihentikan sementara selama masa libur sekolah yang diperkirakan berlangsung sekitar tiga pekan.

Advertisement

"Kalau kondisinya saat ini SPPG tidak beroperasi ya. Artinya memang runningnya tidak dijalankan karena memang distop dulu. Kalau di pengumuman itu sekitar tiga minggu sampai masuk sekolah kembali," ujar Baha'uddin saat dikonfirmasi.

Berhentinya aktivitas dapur membuat para relawan otomatis tidak menerima insentif. Karena itu, mereka kembali mengandalkan pekerjaan yang sebelumnya telah digeluti.

Baha'uddin mengaku dirinya kembali bekerja di sektor konveksi yang selama ini menjadi pekerjaan sampingannya.

"Kembali melakukan aktivitas saya sehari-hari. Alhamdulillah masih ada pekerjaan sampingan saya, yaitu kerja di konveksi," ungkapnya.

Tak hanya relawan, penghentian sementara program MBG juga berdampak pada rantai kegiatan yang selama ini menopang operasional dapur. Mulai dari pemasok bahan pangan, mitra kerja, hingga penerima manfaat untuk sementara tidak lagi menerima layanan seperti saat sekolah aktif.

Di SPPG Ngadisuko sendiri, jumlah penerima manfaat mencapai sekitar 1.700 orang yang terdiri dari pelajar, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Meski demikian, Baha'uddin menepis isu adanya pemutusan hubungan kerja atau PHK massal akibat dapur berhenti beroperasi.

"Kalau diPHK sejauh ini belum ada ya. Cuma mungkin ada yang resign memang. Adanya relawan yang resign, kalau untuk PHK tidak ada," tegasnya.

Selama masa libur, aktivitas di dapur tidak sepenuhnya kosong. Berdasarkan informasi yang diterimanya, kepala dapur dan petugas keamanan tetap menjalankan tugas untuk memastikan kebersihan serta keamanan fasilitas SPPG.

"Ini selama libur tidak dapat gaji, karena ya tidak bekerja. Kalau dari informasi yang saya ketahui, yang tetap masuk itu sebatas kepala dapurnya sama keamanan atau satpamnya," jelasnya.

Baha'uddin menambahkan, tidak ada instruksi khusus yang diberikan kepada relawan menjelang penghentian operasional. Informasi yang diterima hanya berupa pemberitahuan bahwa layanan MBG akan berhenti sementara selama masa libur sekolah.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Mitra MBG Trenggalek Imam Waldy mengatakan penghentian operasional tersebut mengacu pada Surat Edaran Nomor 12 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Pada Saat Periode Hari Libur dalam Penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis Tahun Anggaran 2026.

"Mengikuti menyongsong kegiatan hari libur sekolah itu untuk proses memasak atau distribusi kita libur total," ujar Imam Waldy.

Menurut pria yang akrab disapa Kimpling itu, seluruh kelompok penerima manfaat juga ikut terdampak penghentian sementara program, termasuk peserta didik, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Di SPPG Karangsoko yang dikelolanya, jumlah penerima manfaat tercatat mencapai 2.064 orang setiap hari. Selama operasional dihentikan, para relawan juga tidak menerima bayaran karena tidak ada aktivitas produksi maupun distribusi makanan.

"Selama hari libur untuk relawan juga libur total dan tidak menerima insentif atau bayaran," katanya.

Meski dapur berhenti beroperasi, kepala dapur dan petugas keamanan tetap menjalankan tugas rutin. Mereka bertanggung jawab menjaga kebersihan fasilitas serta memastikan kondisi dapur tetap aman hingga program kembali berjalan setelah libur sekolah berakhir.

Ikuti WhatsApp Channel

Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!

Join Channel

Advertisement

Artikel Terkait