Jalur Trenggalek-Ponorogo Belum Aman, Polisi Pasang Peringatan Longsor di KM 16
Satlantas Polres Trenggalek memasang spanduk peringatan di jalur nasional Trenggalek-Ponorogo setelah kembali terjadi guguran batu di kawasan rawan longsor.
02 Jun 2026 • 14:00 WIB
Pemasangan banner di KM 16 upaya peringatan bagi kendara. KBRT/Satlantas Polres Trenggalek
Ringkasan
- Polisi memasang empat spanduk peringatan di jalur rawan longsor Trenggalek-Ponorogo.
- Guguran batu di KM 16 Desa Nglinggis sebelumnya sempat menyebabkan jalan ditutup total.
- Sistem buka tutup masih diberlakukan karena kondisi tebing dinilai belum sepenuhnya aman.
TRENGGALEK – Pengendara yang melintas di jalur nasional Trenggalek-Ponorogo diminta meningkatkan kewaspadaan. Pasalnya, kawasan KM 16 Desa Nglinggis, Kecamatan Tugu, masih berstatus rawan longsor dan guguran batu setelah insiden yang sempat memaksa penutupan total jalan beberapa waktu lalu.
Sebagai langkah antisipasi, Satlantas Polres Trenggalek memasang sejumlah spanduk peringatan di sekitar lokasi. Imbauan tersebut ditujukan agar pengguna jalan lebih waspada saat melintasi jalur pegunungan yang dikenal rentan mengalami longsor saat cuaca buruk.
Kasatlantas Polres Trenggalek AKP Sony Suhartanto mengatakan pemasangan spanduk dilakukan setelah kembali terjadi guguran material batu di kawasan tersebut.
Advertisement
"Iya betul. Jadi kemarin terjadi guguran material berupa batu di KM 16 sehingga sempat ditutup total untuk menghindari jatuhnya korban. Oleh sebab itu, sebagai salah satu upaya pencegahan kita pasang spanduk agar pengguna jalan bisa lebih berhati-hati," ujarnya.
Sedikitnya empat spanduk bertuliskan "Jalur Rawan Longsor, Hati-hati Berkendara" dipasang di beberapa titik sebelum dan sesudah lokasi kejadian. Posisinya sengaja dipilih agar mudah terlihat oleh pengendara dari arah Trenggalek maupun Ponorogo.
Menurut Sony, peringatan tersebut penting terutama bagi pengguna jalan dari luar daerah yang belum familiar dengan kondisi medan di jalur pegunungan selatan Jawa Timur itu.
Meski material longsor yang menutup badan jalan telah dibersihkan, kondisi tebing di sekitar lokasi masih terus dipantau. Sejumlah batu yang berada di lereng atas dinilai berpotensi jatuh apabila terjadi hujan deras atau pergerakan tanah.
Karena itu, petugas gabungan masih menerapkan sistem buka tutup lalu lintas untuk mengurangi risiko terhadap pengguna jalan.
Selain mengatur arus kendaraan, aparat juga bersiaga di lokasi guna mengantisipasi kemungkinan longsor susulan yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
"Saat ini masih diberlakukan sistem buka tutup. Namun jika kondisi kontijensi, hujan deras ataupun terjadi longsor susulan kita akan tutup total kembali," kata Sony.
Jalur Trenggalek-Ponorogo selama ini menjadi salah satu akses utama yang menghubungkan kedua kabupaten. Namun karakteristik medan yang berada di kawasan perbukitan membuat ruas jalan tersebut cukup rentan terhadap bencana geologi, terutama saat curah hujan tinggi.
Karena itu, pengendara diimbau tidak memaksakan perjalanan apabila cuaca memburuk. Pengguna jalan juga diminta mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, dan tidak berhenti terlalu lama di area yang berdekatan dengan tebing.
Pemasangan spanduk peringatan memang menjadi pengingat visual bagi pengguna jalan. Namun hingga kondisi lereng benar-benar stabil, kewaspadaan pengendara tetap menjadi faktor utama untuk menghindari risiko kecelakaan akibat longsor maupun guguran batu.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
TAGS
Advertisement
Artikel Terkait
Peringatan Kewaspadaan Cuaca Ekstrem BMKG di Jawa Timur, Termasuk Trenggalek
Tak Masuk Desil 1 dan 2? Anak Miskin di Trenggalek Tetap Punya Peluang Masuk Sekolah Rakyat
Dua Bulan Menjabat, Direktur Perumda Tirta Wening Petakan Titik Lemah Layanan Air di Trenggalek
Generasi Muda Unjuk Gigi, Turnamen Free Fire Trenggalek Lahirkan Bintang Baru
Kalah Besar dari Sapi Impor, Sapi Galekan Justru Punya Keunggulan yang Sulit Ditandingi