Hasil Tangkapan Nelayan Trenggalek Anjlok, Produksi Turun hingga 70 Persen

Produksi ikan tangkap di Trenggalek turun drastis hingga 70 persen pada 2026. Hilangnya rumpon dan cuaca ekstrem jadi pemicu utama.

Hasil Tangkapan Nelayan Trenggalek Anjlok, Produksi Turun hingga 70 Persen

Tangkapan ikan di Trenggalek merosot drastis. KBRT/Zamz

Ringkasan

  • Produksi ikan tangkap Trenggalek turun hingga sekitar 2.016,9 ton pada pertengahan 2026.
  • Hilangnya rumpon dan cuaca ekstrem jadi penyebab utama turunnya hasil nelayan.
  • Harga ikan di pasaran ikut naik akibat pasokan yang menipis.

TRENGGALEK – Sektor perikanan tangkap di Kabupaten Trenggalek tengah berada dalam tekanan serius. Hingga pertengahan 2026, produksi ikan nelayan trenggalek lokal baru mencapai sekitar 2.016,9 ton, atau merosot tajam dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan ini tidak hanya berdampak pada nelayan, tetapi juga memicu berkurangnya pasokan ikan di pasar serta kenaikan harga sejumlah komoditas hasil laut.

Kepala UPT Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kabupaten Trenggalek, Syamsu Rijal, menyebut produksi nelayan memang mengalami penurunan sejak awal tahun. Hingga Mei 2026, hasil tangkapan baru berada di kisaran 1.500 ton.

Advertisement

“Nelayan memang masih mencatatkan hasil tangkapan yang minim dari Januari sampai Mei kemarin, baru sekitar 1.500-an ton. Jenis ikan petek dan tongkol lisong atau rengis masih mendominasi hasil tangkapan yang ada,” ujar Syamsu Rijal.

Tambahan produksi pada Juni hanya sekitar 639 ton, sehingga total akumulasi hingga pertengahan tahun mencapai 2.016,9 ton. Angka ini jauh di bawah capaian tahun 2025 yang mencapai sekitar 12 ribu ton.

Jika dibandingkan, produksi tahun ini hanya berada di kisaran 30 hingga 40 persen dari periode sebelumnya.

“Turunnya sangat banyak jika kita bandingkan dengan periode yang sama tahun kemarin. Hasil saat ini mungkin baru menyentuh sekitar 30 sampai 40 persen dari capaian tahun lalu,” jelasnya.

Rijal menjelaskan, penurunan hasil tangkapan tidak hanya dipicu cuaca ekstrem seperti gelombang tinggi dan perubahan suhu laut. Faktor lain yang cukup berpengaruh adalah hilangnya rumpon di perairan laut selatan Trenggalek.

Rumpon selama ini menjadi titik kumpul ikan yang membantu nelayan menentukan lokasi tangkapan. Namun, sebagian besar rumpon tersebut harus diangkat karena berada di jalur survei seismik dua dimensi Pertamina Hulu Energi pada akhir 2025.

“Akhir tahun 2025 kemarin, proyek survei seismik dua dimensi dari Pertamina Hulu Energi menggilas rumpon-rumpon milik nelayan. Petugas mengangkat seluruh rumpon tersebut karena posisinya tepat berada di jalur perlintasan kapal survei,” ungkapnya.

Kondisi itu membuat nelayan kini hanya mengandalkan pergerakan ikan yang melintas secara alami, seperti ikan layang, rengis, dan petek. Dampaknya, hasil tangkapan menjadi tidak menentu dan cenderung menurun.

Situasi ini juga membuat banyak nelayan memilih mengurangi aktivitas melaut. Mereka menahan diri karena biaya operasional, terutama solar, dinilai tidak sebanding dengan potensi hasil tangkapan.

Sebelum berangkat, sebagian nelayan bahkan memilih berkumpul di dermaga untuk memantau kondisi laut dan bertukar informasi terkait hasil tangkapan rekan mereka.

“Mereka biasanya memantau dulu rekan-rekannya yang nekat berangkat, dapat ikan atau tidak, dan bagaimana kondisi cuaca di tengah laut. Mereka saling bertukar informasi dan memilih menunggu datangnya musim ikan,” kata Rijal.

Dampak lanjutan dari turunnya produksi terlihat langsung di pasar. Berkurangnya pasokan membuat harga ikan, terutama tongkol lisong, mengalami kenaikan signifikan.

“Karena produksi tangkapan dari laut sangat tipis, harga jualnya otomatis meroket tinggi. Tongkol lisong yang biasanya bertengger di harga Rp12 ribu sampai Rp18 ribu per kilogram, sekarang melambung hingga menembus Rp30 ribu per kilogram,” jelasnya.

Hingga kini, UPT TPI Trenggalek belum dapat memastikan kapan kondisi perikanan tangkap akan kembali stabil. Dua faktor utama, cuaca dan keberadaan rumpon, masih menjadi tantangan yang belum bisa diprediksi.

Ikuti WhatsApp Channel

Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!

Join Channel

Advertisement

Artikel Terkait