Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini

Press ESC / Click X icon to close

Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini
LoginKirim Artikel

Sekali Berlayar Bisa Habis Rp 45 Juta, Nelayan Prigi Mulai Khawatir Harga Solar

Kenaikan harga solar industri bikin nelayan Pantai Prigi Trenggalek waswas. Sekali melaut, biaya BBM kini bisa tembus puluhan juta rupiah.

Poin Penting

  • Harga solar industri naik jadi Rp 30.550 per liter
  • Nelayan kapal besar di Prigi mulai khawatir biaya operasional
  • Pendapatan ABK terancam ikut menurun

WATULIMO, TRENGGALEK — Aktivitas di kawasan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi, Watulimo, masih terlihat biasa. Beberapa nelayan tampak memperbaiki jaring sambil menunggu musim ikan datang. Namun di balik suasana itu, ada keresahan baru yang mulai dirasakan pemilik kapal besar: harga solar industri naik.

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi itu mulai bikin nelayan menghitung ulang ongkos melaut. Terutama bagi kapal berkapasitas di atas 30 gross ton (GT) yang tidak lagi menggunakan solar subsidi.

Salah satu nelayan Prigi, Dayak (52), mengaku biaya operasional kapal kini makin berat setelah harga solar industri naik dari Rp 28.150 menjadi Rp 30.550 per liter.

Dalam sekali berlayar selama sekitar 10 hari, kapal miliknya bisa menghabiskan hingga 1.500 liter solar.

Kalau dihitung dengan harga terbaru, biaya BBM sekali melaut kini bisa mencapai sekitar Rp 45 juta lebih.

“Kalau hari ini harga ikan masih agak bagus sedikit. Tidak tahu nanti besok-besoknya kalau ikan harganya lebih anjlok, ya sudah tidak bisa melaut,” ujar Dayak.

Nelayan asal Pati, Jawa Tengah, yang kini tinggal di Watulimo itu mengatakan kondisi saat ini masih relatif aman karena stok solar lama masih tersedia.

Ia mengaku sebelumnya sempat membeli BBM dalam jumlah besar sebelum harga naik. “Masih bisa untuk beberapa kali berlayar, stoknya masih ada,” katanya.

Menurut Dayak, penggunaan BBM kapal sebenarnya juga tergantung musim ikan. Saat hasil tangkapan sedang ramai, konsumsi bahan bakar otomatis ikut naik karena kapal melaut lebih lama dan lebih jauh.

“Kalau lagi musim ikan banyak, habisnya bisa 1.500 liter. Kadang juga sekitar seribu liter,” bebernya.

Meski aktivitas melaut belum berhenti, Dayak mulai khawatir jika harga ikan turun sementara biaya operasional terus naik. Sebab kondisi itu bakal berdampak langsung pada penghasilan anak buah kapal (ABK).

ADVERTISEMENT

Dalam satu kapal, jumlah ABK bisa mencapai hampir 30 orang. Jika sebelumnya satu ABK bisa membawa pulang sekitar Rp 1 juta sekali melaut, kini pendapatan mereka berpotensi turun.

“Kalau sekarang mungkin bisa cuma sekitar Rp 600 ribu,” ucapnya.

Karena itu, ia berharap ada penyesuaian harga solar industri agar nelayan kapal besar tidak semakin terbebani.

“Harapannya kalau bisa solar industri ini diturunkan,” pintanya.

Sementara itu, Katimja Kesyahbandaran PPN Prigi, Tri Aspriadi Noviyanto, mengatakan dampak kenaikan harga BBM non subsidi sejauh ini memang belum terlalu terlihat di lapangan.

Menurutnya, jumlah kapal di PPN Prigi yang menggunakan solar industri masih terbatas.

“Yang pakai BBM non subsidi atau industri di sini baru sekitar tiga kapal,” jelas Tri.

Beberapa kapal tersebut juga disebut belum aktif melaut dalam waktu dekat. Ada kapal yang masih docking di Cilacap, sementara kapal lainnya masih bersandar di kawasan pelabuhan.

Karena itu, pihak syahbandar mengaku belum menerima banyak keluhan resmi dari nelayan. “Sementara ini saya belum dapat keluhan karena memang belum ada rencana keberangkatan,” katanya.

Pantauan di sekitar PPN Prigi, sejumlah kapal besar masih berjajar di pelabuhan. Sebagian nelayan memilih menunggu musim ikan membaik sambil menyiapkan perlengkapan melaut.

Di tempat pelelangan ikan, beberapa nelayan tampak sibuk menjahit jaring yang rusak untuk persiapan melaut berikutnya.

Kabar Trenggalek - Ekonomi

Editor: Zamz