Saat Musim Ikan Datang, Nelayan Prigi Justru Menepi: Gelombang Tinggi Paksa Kapal Berlabuh

Gelombang hingga 2,5 meter membuat nelayan Prigi menunda melaut meski musim ikan mulai tiba. Kapal-kapal kini hanya bersandar di pelabuhan.

Saat Musim Ikan Datang, Nelayan Prigi Justru Menepi: Gelombang Tinggi Paksa Kapal Berlabuh

Nelayan Prigi Trenggalek tidak berangkat melaut. KBRT/Zamz

Ringkasan

  • Nelayan Prigi menghentikan aktivitas melaut sementara waktu.
  • Gelombang tinggi dan angin kencang membuat penangkapan ikan berisiko.
  • Waktu jeda dimanfaatkan untuk memperbaiki jaring dan perlengkapan kapal.

TRENGGALEK – Biasanya bulan Juni menjadi momen yang ditunggu nelayan Pantai Prigi, Kecamatan Watulimo. Laut selatan mulai ramai ikan dan kapal-kapal berangkat hampir setiap hari. Namun pemandangan berbeda justru terlihat pekan ini.

Deretan kapal nelayan tampak lebih banyak bersandar di pelabuhan daripada berlayar ke tengah laut. Bukan karena ikan sedang sulit dicari, melainkan cuaca buruk dan gelombang tinggi yang membuat aktivitas melaut terlalu berisiko.

Gelombang di perairan selatan dilaporkan mencapai sekitar 2,5 meter disertai angin kencang. Kondisi tersebut membuat ratusan nelayan memilih menunda keberangkatan demi keselamatan.

Advertisement

"Bulan enam ini sebenarnya sudah mulai musim ikan, tetapi sementara ini nelayan terkendala masalah cuaca. Cuacanya agak buruk, gelombangnya besar, sehingga nelayan tidak bisa menangkap ikan. Jadi, sementara nelayan berhenti dulu," kata nelayan Prigi, Tarmuji, Senin (15/06/2026).

Situasi ini terasa ironis bagi para nelayan. Sebab, saat laut sedang menyimpan banyak ikan, mereka justru harus menahan diri untuk tidak berlayar.

Tarmuji menceritakan, dirinya bersama kru sempat mencoba melaut pada malam sebelumnya menggunakan tiga kapal. Mereka berharap masih bisa memanfaatkan musim ikan yang mulai datang.

Harapan itu pupus setelah kapal tiba di tengah laut. Ombak besar dan hembusan angin yang kuat membuat proses penangkapan ikan hampir mustahil dilakukan.

"Tadi malam itu kami coba dengan tiga kapal. Ternyata sampai di tengah kami tidak bisa menangkap ikan karena kendala gelombang tinggi mencapai 2,5 meter dan anginnya kencang," ujarnya.

Menurut nelayan yang telah belasan tahun bekerja di laut itu, gerombolan ikan sebenarnya sudah mulai muncul di sejumlah titik perairan. Namun kapal yang terus dihantam ombak membuat penebaran jaring menjadi sulit sekaligus berbahaya.

Akibatnya, hasil tangkapan jauh dari harapan. Dari tiga kapal yang berangkat, hanya satu yang berhasil membawa pulang ikan dalam jumlah terbatas.

"Terpaksa mengambil di tengah cuaca jelek itu, cuma dapat 2 kuintal untuk satu kapal. Sementara dua kapal lainnya sama sekali tidak mendapat hasil. Akhirnya kami rugi besar," ungkapnya.

Saat ini, jenis ikan yang mulai banyak ditemukan di perairan Prigi antara lain ikan teropong dan ikan banyar. Komoditas tersebut biasanya menjadi salah satu sumber pendapatan utama nelayan saat memasuki musim tangkap pertengahan tahun.

Para nelayan memperkirakan aktivitas melaut akan dihentikan sementara selama sekitar lima hari ke depan sambil menunggu kondisi cuaca membaik.

Dalam menentukan kapan kembali berlayar, mereka tidak hanya mengandalkan pengalaman membaca tanda-tanda alam, tetapi juga memantau informasi resmi dari BMKG.

"Kami memantau sendiri, tetapi kecenderungannya tetap merujuk pada informasi dari BMKG karena aslinya itu yang lebih akurat," kata Tarmuji.

Meski tidak melaut, pelabuhan Prigi tidak sepenuhnya sepi. Waktu yang biasanya digunakan mencari ikan kini dialihkan untuk merawat perlengkapan kapal.

Sejumlah nelayan terlihat duduk berkelompok di atas hamparan jaring berukuran besar. Dengan telaten mereka menjahit bagian yang sobek, memperbaiki tali, hingga mengecek kondisi mesin kapal agar siap digunakan saat cuaca kembali bersahabat.

"Kalau kapal selama ini standby di tempat. Selama istirahat total ini, aktivitas kami diisi dengan melakukan perawatan, seperti memperbaiki jaring-jaring yang sobek," pungkasnya.

Bagi nelayan Prigi, menunggu cuaca membaik bukan sekadar soal menunda pekerjaan. Di balik kapal yang terparkir rapi di pelabuhan, ada harapan agar musim ikan yang baru dimulai nanti masih bisa memberikan hasil ketika laut kembali aman untuk dilayari.

Ikuti WhatsApp Channel

Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!

Join Channel

Advertisement

Artikel Terkait