Hadapi Cuaca Ekstrem, Trenggalek Aktifkan EWS dan CCTV Deteksi Dini Bencana
BPBD Trenggalek memasang EWS dan CCTV bersirine di titik rawan untuk kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem Desember 2025.
13 Dec 2025 • 12:00 WIB
CCTV pemantauan bencana di Trenggalek. KBRT/Zamz
KBRT – Menyambut puncak musim hujan akhir 2025, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek mulai memperkuat sistem peringatan dini di sejumlah titik rawan bencana. Pemasangan Early Warning System (EWS) dilakukan untuk mengantisipasi potensi banjir, tanah longsor, hingga angin kencang.
Menurut prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Trenggalek berpeluang mengalami hujan intensitas sedang hingga tinggi sepanjang Desember. Kondisi tersebut disebut dapat memicu berbagai bencana hidrometeorologi.
“Dari 14 kecamatan di Kabupaten Trenggalek semua berpotensi terjadi banjir, pohon tumbang, gelombang tinggi hingga tanah longsor,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, Stefanus Triadi.
Advertisement
Sebagai langkah antisipasi, BPBD menggandeng beberapa sektor untuk memperkuat kesiapsiagaan. Salah satunya melalui perampingan pohon yang dinilai berbahaya bagi pengguna jalan, serta pemasangan EWS di lima titik rawan sesuai pemetaan risiko.
“EWS kami pasang di wilayah yang berpotensi terjadi tanah longsor. Selain itu kami bersama Kominfo juga memasang CCTV dilengkapi sirine untuk memantau peningkatan air sungai,” jelas Stefanus.
Selain penguatan alat peringatan dini, BPBD juga mendorong peningkatan kapasitas masyarakat melalui pembentukan kecamatan tangguh bencana. Langkah ini dinilai penting agar tiap wilayah dapat merespons cepat saat bencana terjadi.
“Bahkan beberapa desa juga dibentuk Destana atau Desa Tangguh Bencana,” katanya.
Upaya kesiapsiagaan juga menyasar dunia pendidikan. Berdasarkan Permendikbud Nomor 33 Tahun 2019 tentang SPAB, BPBD rutin mendatangi sekolah-sekolah untuk memberikan pelatihan mitigasi. Kegiatan tersebut menyasar siswa dan guru agar memahami langkah dasar menghadapi situasi darurat.
“Setiap satu minggu sekali, kami turun ke sekolah untuk melaksanakan mitigasi bencana, untuk melatih siswa dan guru untuk kesiapsiagaan apabila terjadi bencana,” paparnya.
Trenggalek juga memiliki tim reaksi cepat penanggulangan bencana yang tersebar di seluruh wilayah. Saat ini tercatat 107 tim aktif, ditambah forum pengurangan risiko bencana yang bertugas melakukan koordinasi lintas desa.
“Setiap desa sudah memiliki peta rawan bencana. Jadi jika terjadi bencana mereka bisa melakukan mitigasi dan pengurangan risiko bencana alam,” kata dia.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
TAGS
Advertisement
Artikel Terkait
Hujan Deras Picu Longsor di Munjungan, Tebing 20 Meter Ambrol di Samping Rumah Warga
Penanganan Berlanjut, Jalur Trenggalek–Ponorogo Tunggu Kepastian Aman
Potensi Kemarau Panjang 2026, Bupati Trenggalek Mulai Petakan Wilayah Rawan
Hujan Deras Picu Longsor di Suruh Trenggalek, Jalan Antar Dusun Putus Total
Jalur Trenggalek–Ponorogo di KM 16 Kembali Dibuka, Kendaraan Besar Masih Bergiliran