Darurat Sampah Trenggalek? Produksi Harian Capai 0,4 Kg per Orang
Produksi sampah warga Trenggalek capai 0,4 kg per hari per orang. DLH dorong pengelolaan dari rumah untuk tekan beban TPA.
21 Apr 2026 • 10:00 WIB
Per orang di Trenggalek menghasilkan sampah 0,4 Kilogram. KBRT/Zamz
Ringkasan
- Produksi sampah warga Trenggalek mencapai 0,4 kg per orang per hari
- Volume sampah naik dari 33.469 ton (2024) menjadi 37.427 ton (2025)
- DLH dorong pengelolaan sampah dari rumah untuk tekan beban TPA
TRENGGALEK - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Trenggalek mencatat produksi sampah masyarakat mencapai rata-rata 0,4 kilogram per orang per hari. Angka ini merujuk pada Standar Nasional Indonesia (SNI) dan menjadi gambaran kondisi timbulan sampah di daerah dengan karakteristik kota kecil seperti Trenggalek.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Bahan Berbahaya dan Beracun DLH Trenggalek, Fahmi Rizab Syamsudi, menyebut peningkatan volume sampah juga terjadi dari tahun ke tahun. Pada 2024 tercatat 33.469 ton, lalu naik menjadi 37.427 ton pada 2025.
“Setiap orang itu kalau berdasarkan penelitian dari SNI, menghasilkan sampah sekitar 0,4 kilogram per hari,” jelas Fahmi.
Advertisement
DLH mendorong masyarakat mulai mengelola sampah dari rumah untuk menekan volume yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Fahmi menjelaskan, mayoritas sampah berasal dari aktivitas rumah tangga, seperti sisa makanan dan kemasan plastik. Karena itu, pengelolaan dari sumbernya dinilai jadi langkah paling efektif.
“Harapannya, sampah itu tidak keluar rumah. Sampah organik bisa dikomposkan atau dijadikan pakan ternak, sedangkan sampah anorganik dipilah dan dijual ke bank sampah,” ujarnya.
Jika pola ini diterapkan secara konsisten, DLH memperkirakan hanya sekitar 20 persen sampah yang benar-benar berakhir di TPA.
“Kalau dari 0,4 kilogram itu bisa dipilah dan diolah, maka yang masuk ke TPA hanya sekitar 20 persen saja,” katanya.
Peningkatan volume sampah di Trenggalek dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari lonjakan aktivitas masyarakat saat momen tertentu seperti Ramadan dan Lebaran, hingga pertumbuhan sektor perdagangan dan UMKM.
“Budaya praktis sekarang ini, seperti makanan dan minuman berkemasan, termasuk layanan pesan antar, turut menambah volume sampah,” jelas Fahmi.
DLH juga menyoroti penggunaan plastik sekali pakai yang dinilai sulit didaur ulang. Beberapa di antaranya seperti kantong kresek, styrofoam, sedotan plastik, hingga kemasan mika.
“Plastik kresek nilai ekonominya sangat rendah, styrofoam tidak bisa didaur ulang dan berbahaya bagi kesehatan, sedangkan sedotan plastik dan mika juga sulit diolah kembali,” paparnya.
Sebagai langkah pengendalian, DLH rutin mengeluarkan imbauan agar masyarakat dan pelaku usaha beralih ke alternatif ramah lingkungan, seperti sedotan bambu dan kemasan guna ulang.
“Kami terus menyampaikan melalui surat edaran setiap tahun agar penggunaan plastik sekali pakai yang tidak memiliki nilai manfaat bisa dibatasi,” ujarnya.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
TAGS
Advertisement