Geopark Trenggalek Disiapkan Jadi Mesin Ekonomi Baru, Sekaligus Benteng Kawasan Kars

Pemkab Trenggalek menyiapkan Geopark Nasional menuju UNESCO sebagai penggerak ekonomi baru sekaligus upaya melindungi kawasan kars dan sumber air.

Geopark Trenggalek Disiapkan Jadi Mesin Ekonomi Baru, Sekaligus Benteng Kawasan Kars

Trenggalek proses-pengusulan geoprak. KBRT/Zamz

Ringkasan

  • Trenggalek menyiapkan Geopark Nasional sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.
  • Kajian bersama BRIN menemukan banyak potensi geopark berada di kawasan kars.
  • Pengajuan Geopark Nasional ditargetkan dilakukan pada 2027 sebagai langkah menuju UNESCO.

TRENGGALEK – Di tengah kebutuhan meningkatkan pendapatan daerah tanpa merusak lingkungan, Pemerintah Kabupaten Trenggalek mulai menyiapkan langkah jangka panjang yang tak biasa. Bukan lewat eksploitasi sumber daya alam, melainkan dengan mengangkat kekayaan geologi, budaya, dan alam menjadi kawasan geopark.

Konsep ini diproyeksikan bukan hanya mendatangkan wisatawan, tetapi juga menjadi alasan kuat untuk menjaga kawasan-kawasan yang selama ini memiliki fungsi penting sebagai penyangga lingkungan dan sumber air masyarakat.

Saat ini, proses pengusulan Geopark Trenggalek tengah berjalan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Program tersebut bahkan telah masuk dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah hingga tahun 2029.

Advertisement

Kepala BPPRIN Kabupaten Trenggalek, Ratna Sulistyowati, mengatakan geopark merupakan konsep taman bumi yang menggabungkan kekayaan geologi, budaya, dan keanekaragaman hayati dalam satu kawasan yang terintegrasi.

"Geopark ini adalah taman bumi yang merupakan gabungan dari tiga komponen utama, yaitu kekayaan batu atau mineral, kebudayaan, dan kekayaan alam. Kabupaten Trenggalek beruntung karena memiliki ketiga komponen tersebut sekaligus," ujar Ratna, Rabu (03/06/2026).

Menurut Ratna, modal tersebut membuat Trenggalek memiliki peluang besar untuk mengembangkan destinasi berbasis geopark yang mampu menarik wisatawan sekaligus memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Optimisme itu muncul setelah Pemkab Trenggalek mempelajari keberhasilan pengelolaan geopark di Kabupaten Kebumen yang telah memperoleh pengakuan UNESCO. Di daerah tersebut, konsep wisata yang menggabungkan unsur geologi, budaya, dan alam terbukti mampu mendatangkan ratusan pengunjung setiap hari.

"Di Kebumen, mereka membuat galeri yang menampilkan tiga komponen tadi; batuan, alam, dan budaya. Ternyata itu menarik kunjungan wisata yang luar biasa. Dalam satu hari, kunjungannya minimal mencapai 250 hingga 300 orang," paparnya.

Ratna menilai pendekatan serupa berpotensi diterapkan di Trenggalek karena daerah ini memiliki banyak aset yang belum dikembangkan secara maksimal.

Dari sisi budaya, terdapat Turonggo Yakso, tradisi Ngetung Batih, hingga Kupatan Durenan yang telah dikenal masyarakat luas. Sementara dari sektor alam dan hayati, Trenggalek memiliki durian ripto, komoditas cengkih, nilam, alpukat, kawasan bambu Dilem Wilis, hingga wisata bawah laut yang mulai berkembang.

Potensi geologinya juga tidak kalah beragam. Mulai dari Goa Lowo, Gunung Linggo, hingga Gua Ngerit yang selama ini menjadi bagian dari kekayaan bentang alam Trenggalek.

"Kita punya Goa Lowo, Gunung Linggo, dan Gua Ngerit. Potensi-potensi ini ada, namun memang saat ini dirasa masih belum optimal pengembangannya," lanjutnya.

Di sisi lain, kajian geopark juga membawa dampak penting bagi kebijakan lingkungan daerah. Berdasarkan identifikasi awal yang dilakukan BRIN, sebagian besar wilayah yang selama ini disebut memiliki potensi tambang berada di kawasan kars.

Temuan tersebut memperkuat pandangan Pemkab Trenggalek bahwa kawasan kars memiliki fungsi ekologis yang tidak bisa dipandang sebelah mata, terutama sebagai penyimpan cadangan air bawah tanah.

"Kemarin dari BRIN mengidentifikasi, ternyata wilayah yang disebut tambang di Trenggalek itu hampir semuanya ada di kawasan kars," ungkap Ratna.

Menurutnya, eksploitasi kawasan tersebut berisiko mengganggu keseimbangan lingkungan dan memperparah ancaman kekeringan yang beberapa kali dialami sejumlah wilayah di Trenggalek.

"Nah, kalau itu dieksplorasi, sumber air kita bisa habis. Wong belum dieksplorasi saja sekarang Trenggalek sudah sering kekeringan. Jadi, jika itu diizinkan dan dieksplorasi, selesai sudah (lingkungan kita)," tandasnya.

Saat ini, pengembangan Geopark Trenggalek masih memasuki tahap awal berupa pengumpulan data dan penyusunan kajian. Pemerintah daerah menargetkan proses tersebut rampung pada 2026 sebelum mengajukan status Geopark Nasional pada 2027.

Apabila seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, Geopark Trenggalek akan menjadi salah satu pintu menuju pengakuan UNESCO sekaligus membuka peluang lahirnya sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berbasis konservasi dan keberlanjutan lingkungan.

Ikuti WhatsApp Channel

Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!

Join Channel

Advertisement

Artikel Terkait