Kabar Trenggalek - Tiga dari 10 orang Indonesia membuang baju yang baru sekali dipakai. Angka itu menjadi pintu masuk film dokumenter Menolak Punah untuk membaca persoalan yang lebih luas: kebiasaan konsumsi pakaian, limbah fesyen, terpuruknya industri sandang, hingga ancaman terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.
Film dokumenter ini merupakan kolaborasi Koperasi Ekspedisi Indonesia Baru, The Body Shop Indonesia, Sunspirit, dan Sejauh Mata Memandang. Disutradarai Aji Yahuti dan Dandhy Laksono, Menolak Punah menjadi bagian dari rangkaian Ekspedisi Indonesia Baru yang menelusuri persoalan kapas, tenun, limbah fesyen, dan masa depan sandang Indonesia.
Cerita film ini salah satunya bergerak dari pengalaman Aisyah Winna bersama komunitas “Bersi Bersi Lemari” di Jakarta. Mereka menerima donasi pakaian bekas dari masyarakat. Namun, jumlah pakaian yang masuk membuat rumah kontrakan mereka hampir penuh. Sebagian pakaian bahkan masih memiliki tag harga dan toko, tanda bahwa pakaian itu belum pernah digunakan.
Fenomena tersebut memperlihatkan perubahan cara manusia memperlakukan pakaian. Baju tidak lagi semata kebutuhan dasar, melainkan bagian dari siklus konsumsi yang cepat, murah, dan terus berganti mengikuti tren. Di titik inilah Menolak Punah mengajak penonton bertanya, apa yang membuat orang terus membeli pakaian sampai memenuhi lemari?
Film ini menempatkan persoalan itu dalam konteks fast fashion. Seperti fast food, fast fashion ditandai dengan produksi massal, harga murah, penggunaan bahan berbasis serat plastik, promosi belanja online, serta tren mode yang berubah dalam waktu singkat. Pakaian menjadi mudah dibeli, tetapi juga mudah dibuang.
Dampaknya tidak berhenti di lemari rumah. Sejak pakaian diproduksi, didistribusikan, digunakan, hingga berakhir di tempat pembuangan, ada rantai persoalan yang menyertai. Film ini menyoroti pencemaran air, polusi udara, emisi karbon, serta mikro dan nano-plastik yang dapat masuk ke sistem tubuh manusia.
Persoalan fast fashion juga bertemu dengan ironi industri sandang nasional. Di tengah konsumsi pakaian yang tinggi, sektor tekstil dan garmen justru menghadapi tekanan. Buruh tekstil dan garmen terus mengalami pemutusan hubungan kerja. Sementara itu, budaya produksi dan berpakaian slow fashion yang lebih sehat dan ramah lingkungan justru berada dalam ancaman.
Menolak Punah berangkat dari pertanyaan sederhana: apa yang terjadi dengan kapas Indonesia? Kapas selama ini hadir dalam lambang-lambang negara dan simbol kesejahteraan. Namun, film ini menyoroti kenyataan bahwa 99 persen kebutuhan kapas Indonesia justru dipenuhi dari impor.
Dari pertanyaan tentang kapas, film ini memperluas pembacaan terhadap sektor sandang. Ia tidak hanya membicarakan pakaian sebagai barang konsumsi, tetapi juga sebagai hasil dari rantai panjang produksi, tenaga kerja, tanah, air, budaya, dan pilihan hidup sehari-hari.
Kapas, tenun, limbah fesyen, dan fast fashion dalam film ini saling terhubung. Kapas menunjukkan ketergantungan bahan baku. Tenun mewakili pengetahuan lokal dan praktik sandang yang lebih lambat. Limbah fesyen memperlihatkan konsekuensi konsumsi berlebih. Sementara fast fashion menjadi sistem yang mempercepat produksi, pembelian, dan pembuangan pakaian.
Dokumenter ini tidak berhenti pada kritik. Menolak Punah juga merekam orang-orang yang berusaha melawan arus konsumsi cepat dan mempertahankan praktik sandang yang lebih berkelanjutan. Mereka hadir sebagai bagian dari upaya menjaga agar kapas, tenun, lingkungan, dan pengetahuan berpakaian yang lebih sehat tidak hilang.
Menolak Punah mengajukan pertanyaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, berapa banyak pakaian yang benar-benar kita butuhkan, dan apa akibat dari setiap pakaian yang kita beli, simpan, lalu buang?
Kabar Trenggalek - Mata Rakyat
Editor: Zamz





















