Pulang ke Trenggalek, Hery Haryanto Azumi Minta Restu Orang Tua Sebelum Masuk Bursa Ketum PBNU

Tokoh Nahdliyin asal Trenggalek, Hery Haryanto Azumi, menyatakan siap maju sebagai calon Ketua Umum PBNU periode 2026-2031 setelah meminta restu orang tua.

Pulang ke Trenggalek, Hery Haryanto Azumi Minta Restu Orang Tua Sebelum Masuk Bursa Ketum PBNU

Pulang ke Trenggalek, Hery Haryanto Azumi Minta Restu Orang Tua. KBRT/Jaz

Ringkasan

  • Hery Haryanto Azumi resmi menyatakan siap maju sebagai calon Ketua Umum PBNU 2026-2031.
  • Langkah awal pencalonan diawali dengan pulang ke Trenggalek untuk meminta restu kedua orang tua.
  • Hery mengusung penguatan tata kelola organisasi dan peran NU di tingkat global.

TRENGGALEK – Suasana haru menyelimuti sebuah rumah di Dusun Rejosari, Desa Salamrejo, Kecamatan Karangan, Trenggalek. Di tempat itulah Hery Haryanto Azumi memilih memulai langkah politik organisasinya menuju bursa Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031.

Bukan dengan deklarasi mewah atau panggung besar, tokoh Nahdliyin asal Trenggalek tersebut justru memulai perjalanannya dengan pulang kampung dan bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya untuk meminta doa restu.

Hery mengatakan, keputusan maju dalam kontestasi pemilihan Ketua Umum PBNU bukan langkah yang diambil secara tiba-tiba. Menurutnya, dorongan dari para kiai sepuh dan sejumlah sahabat menjadi salah satu alasan dirinya siap ikut dalam proses tersebut.

Advertisement

"Hari ini saya pulang kampung khusus untuk sowan kepada orang tua dan memohon doa restu secara resmi. Atas perintah para kiai sepuh dan dorongan para sahabat, saya menyatakan diri siap maju sebagai Calon Ketua Umum PBNU periode 2026–2031," ujar Hery.

Bagi Hery, meminta izin kepada orang tua bukan sekadar formalitas. Ia mengaku sejak kecil selalu menjadikan restu ayah dan ibunya sebagai bagian penting sebelum mengambil keputusan besar dalam hidup.

"Sejak kecil, setiap kali saya ingin mengambil langkah atau keputusan apa pun, saya wajib meminta izin kepada orang tua terlebih dahulu. Saya membutuhkan doa, nasihat, dan dukungan tulus mereka sebelum melangkah," katanya.

Pria kelahiran Trenggalek, 29 April 1977 itu merupakan putra sulung pasangan H. Suharso dan Hj. Sumarmi. Masa kecil hingga pendidikan dasar dan menengah pertama ia jalani di Trenggalek sebelum melanjutkan perjalanan pendidikan dan aktivitas organisasinya di luar daerah.

Di lingkungan Nahdlatul Ulama, nama Hery bukan sosok asing. Ia pernah menjabat Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) periode 2005-2007, kemudian dipercaya menjadi Wakil Sekretaris Jenderal PBNU periode 2015-2018. Saat ini, ia juga aktif sebagai Ketua Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU).

Menariknya, pengalaman organisasi Hery tidak hanya terbentang di tingkat nasional. Sejak era reformasi, ia telah banyak terlibat dalam komunikasi dengan media internasional, akademisi, hingga berbagai pihak luar negeri yang ingin memahami perkembangan NU dan gerakan mahasiswa Indonesia.

"Saat reformasi, banyak wartawan asing mencari kader NU yang fasih berbahasa Inggris. Rekan-rekan sering meminta saya membantu menerjemahkan dan menjelaskan dinamika gerakan mahasiswa serta perkembangan NU," kenangnya.

Jaringan internasional yang dibangun selama bertahun-tahun itu, menurut Hery, membentuk cara pandangnya mengenai posisi NU dalam percaturan global.

"Pengalaman itu menempa saya dan memperluas cakrawala berpikir tentang bagaimana NU bisa ikut mewarnai perdamaian dan peradaban di tingkat internasional," ujarnya.

Menjelang pelaksanaan Muktamar NU, Hery mengungkapkan timnya telah melakukan komunikasi intensif dengan sejumlah pengurus dan tokoh NU di berbagai wilayah Indonesia. Konsolidasi disebut terus berjalan melalui silaturahmi dengan pengurus wilayah, pengurus cabang, hingga para kiai sepuh.

"Kami sudah menemui pimpinan wilayah dari berbagai pulau dan juga bersimpuh memohon petunjuk kepada para kiai sepuh. Alhamdulillah, mayoritas beliau memberikan doa serta dukungan konkret," katanya.

Meski demikian, ia belum bersedia membeberkan daerah-daerah yang telah memberikan dukungan secara tertulis. Hery menilai dinamika menjelang Muktamar masih terus berkembang.

Dalam pandangannya, NU ke depan menghadapi tantangan yang semakin kompleks, baik di tingkat nasional maupun internasional. Karena itu, ia membawa gagasan penguatan tata kelola organisasi serta pembaruan semangat gerakan sebagai salah satu fokus yang akan diperjuangkan.

"Para kiai menaruh harapan besar agar NU menghadirkan pembaruan sistem dan spirit baru. Tujuannya agar jam’iyah ini semakin kokoh dan lincah menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks," tuturnya.

Di tengah agenda besar tersebut, momen paling emosional justru terjadi saat Hery bertemu kembali dengan ibunya. Setelah lama disibukkan berbagai aktivitas organisasi di dalam dan luar negeri, kepulangannya ke Trenggalek menjadi kebahagiaan tersendiri bagi keluarga.

"Alhamdulillah, akhirnya bisa ketemu langsung," ucap Hj. Sumarmi.

Sang ibu mengaku sudah mengetahui rencana pencalonan putranya melalui percakapan telepon sebelum Hery pulang ke rumah.

"Mudah-mudahan Allah meridai jalannya dan menjadikan ia sebagai pemimpin yang saleh serta amanah," harapnya.

Usai meminta restu keluarga di Trenggalek, Hery dijadwalkan mengikuti sejumlah agenda penting Nahdlatul Ulama, mulai Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU di Kediri hingga forum PCINU se-Dunia yang membahas penguatan peran NU di tingkat internasional.

Ikuti WhatsApp Channel

Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!

Join Channel

Advertisement

Artikel Terkait