Pokmaswas Rembeng Raya Trenggalek Sulap Bambu dan Tempurung Kelapa Jadi Rumah Ikan Endemik

Pokmaswas Rembeng Raya di Pantai Mutiara Trenggalek konsisten transplantasi terumbu karang sejak 2023, ikan endemik mulai bermunculan kembali.

Pokmaswas Rembeng Raya Trenggalek Sulap Bambu dan Tempurung Kelapa Jadi Rumah Ikan Endemik

Konservasi di Pantai Mutiara Trenggalek. KBRT/Zamz

Ringkasan

  • Pokmaswas Rembeng Raya Pantai Mutiara Trenggalek transplantasi terumbu karang sejak 2023, kini masuk tahun keempat lewat event MUF ON.
  • Terumbu karang buatan tumbuh 5–7 cm per tahun, memakai media bambu (eco fish), besi berbentuk hati berisi tempurung kelapa untuk tempat karang bertelur, dan rumah ikan bambu (ecofish house).
  • Ikan endemik yang sempat hilang mulai bermunculan lagi, dengan total karang yang sudah ditransplantasikan mencapai ribuan unit selama 4 tahun terakhir.

 

TRENGGALEK – Ikan-ikan endemik yang sempat hilang dari perairan Pantai Mutiara kini perlahan bermunculan lagi. Ini buah dari konsistensi Pokmaswas (Kelompok Masyarakat Pengawas) Rembeng Raya dalam mentransplantasi terumbu karang buatan selama beberapa tahun terakhir.

Terumbu karang buatan itu tumbuh 5 sampai 7 sentimeter per tahun. Seiring itu, ikan-ikan endemik mulai kembali menghuni kawasan tersebut.

Ketua Pokmaswas Rembeng Raya Pantai Mutiara Trenggalek, Kacuk Wibisono, mengatakan hal ini lewat event Mutiara Under Festival and Conservation (MUF ON). Menurutnya, MUF ON bukan sekadar acara seremonial, melainkan aksi nyata untuk terus melestarikan biota bawah laut.

Advertisement

“Upaya konservasi terumbu karang MUF ON ini sudah sejak tahun 2023. Berarti kita 2026 ini MUF ON keempat. Alhamdulillah mulai kita transplantasi 2023,” beber Kacuk Wibisono.

Kacuk bercerita, pihaknya rutin mengobservasi dan memantau pertumbuhan terumbu karang buatan itu dari waktu ke waktu. Hasilnya terbilang bagus.

“Kita mulai itu perkembangan setiap tahunnya untuk yang kita transplantasi sekitar pertumbuhan 5 sampai 7 centimeter,” akuinya.

Untuk media eco fish, Kacuk membuat rangka dari bambu—bahan yang mudah didapat di wilayahnya dan diyakini lebih cepat mengundang ikan masuk ke lingkungan eco fish.

Sementara untuk media berbentuk hati atau love, yang disebut terumbu karang biorefteek cinta, ia memadukan rangka besi dengan tempurung kelapa sebagai tempat karang ditransplantasikan.

“Kemudian kita padukan dengan besi sebagai penyangganya. Kita masukkan tempurung kelapa dengan tujuan untuk di besi sebagai tempat transplantasi karang,” ulasnya.

Tempurung kelapa itu, kata Kacuk, berfungsi sebagai media tempel telur karang. Karang yang ditransplantasikan di media besi berkembang dan bertelur, sehingga jarak telur karang dengan media tempel jadi lebih dekat.

Adapun untuk ecofish house, bahan bakunya juga dari bambu berbentuk model rumah, yang sekaligus dipakai sebagai tempat transplantasi karang.

“Lalu untuk ecofish house berbahan alami dari bambu. Itu model rumah jadi, itu juga kita kasih transplantasi karang. Jadi kalau di ecofish kita lebih cenderung rumah ikan plus transplantasi karang,” ujarnya.

Kacuk mengatakan begitu terumbu karang tumbuh, plankton akan muncul dengan sendirinya, diikuti ikan kecil dan ikan besar.

“Kemudian ikan kecil muncul dan ikan besar muncul. Sehingga nelayan dengan harapan ketika cuaca di sini tidak bagus maka memancing di dalam teluk mudah mudahan bisa mendapatkan hasil,” imbuhnya.

Kacuk mengaku belum bisa memastikan total karang yang sudah ditransplantasikan ke laut selama ini karena jumlahnya sudah mencapai ribuan.

“Dengan penambahan 100 ini selama 4 tahun ya sudah ribuan lupa. Sudah ribuan yang berada di dalam,” kata dia.

Ikuti WhatsApp Channel

Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!

Join Channel

Advertisement

Artikel Terkait