Sosial

Jelang Hari Jadi ke-832, Bupati Trenggalek Ziarah Makam Leluhur

Jelang Hari Jadi ke-832, Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin bersama Forkopimda ziarah makam leluhur dan tokoh sejarah Trenggalek.

Jelang Hari Jadi ke-832, Bupati Trenggalek Ziarah Makam Leluhur
Bupati Trenggalek ziarah leluhur menjelang hari jadi. KBRT/Zamz

Poin Penting

  • Bupati Trenggalek bersama Forkopimda ziarah ke sejumlah makam leluhur menjelang Hari Jadi Trenggalek ke-832.

  • Rangkaian ziarah mencakup makam Mbah Kawak, Raden Doemotaroeno, Menak Sopal, Kanjeng Jimat, hingga sejumlah bupati pendahulu Trenggalek.

  • Hari Jadi ke-832 mengusung tema “Hambeging Bumi”, yang dimaknai sebagai ajakan bekerja dengan ketulusan sekaligus menjaga harmoni dengan alam.

TRENGGALEK - Menjelang Hari Jadi ke-832 Kabupaten Trenggalek, Bupati Mochamad Nur Arifin bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Trenggalek melakukan ziarah ke makam para bupati pendahulu dan tokoh yang berjasa dalam perjalanan sejarah Kabupaten Trenggalek.

Ziarah makam leluhur tersebut merupakan tradisi yang rutin dijalankan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek menjelang peringatan Hari Jadi Trenggalek. Kegiatan ini menjadi momentum untuk mengenang sekaligus menghormati jasa para pendahulu.

Saat berziarah di Makam Menak Sopal, Kompleks Makam Bagongan, Kelurahan Ngantru, Jumat (28/8/2026), Mochamad Nur Arifin mengatakan jasa para pendahulu menjadi bagian penting yang perlu diteruskan.

"Rutin menjelang hari jadi, kita menghormati jasa para pendahulu. Semua bupati-bupati sebelum kita, semuanya punya jasa dan semoga hal-hal baik yang sudah dikerjakan bisa kita teruskan," ucapnya.

Rangkaian ziarah diawali di Makam Setono Galek, Kelurahan Ngantru. Di tempat tersebut dimakamkan Mbah Kawak, salah satu tokoh dalam penyebaran agama Islam di Trenggalek.

Dari Makam Setono Galek, rombongan melanjutkan ziarah ke Kompleks Makam Setono Gedong yang juga berada di Kelurahan Ngantru. Sejumlah tokoh besar Trenggalek dimakamkan di kompleks tersebut, di antaranya Raden Doemotaroeno yang tercatat sebagai Bupati Trenggalek pertama.

Ziarah kemudian dilanjutkan ke Makam Menak Sopal. Tokoh tersebut dikenal dalam sejarah Trenggalek sebagai sosok yang berperan dalam bidang pertanian dan pembangunan Dam Bagong.

Keberadaan Dam Bagong membuat aliran air dapat dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian. Hal tersebut turut mendukung perubahan sejumlah wilayah yang sebelumnya tandus menjadi lahan yang lebih produktif untuk pertanian.

Sebagai bentuk rasa syukur masyarakat petani atas aliran air dari Dam Bagong, hingga kini dikenal tradisi Nyadran Dam Bagong yang dilaksanakan pada bulan Selo dalam penanggalan Jawa.

Dari Kompleks Makam Bagongan, rombongan kemudian menuju Makam Kanjeng Jimat atau Mangun Negoro di Kompleks Makam Margo Ayu, Desa Ngulan Kulon, Kecamatan Pogalan.

Rangkaian ziarah dilanjutkan ke Makam Girilaya Kamulyan di Desa Kamulan, Kecamatan Durenan.

Ziarah terakhir dilakukan di Kompleks Makam Girimulyo, Desa Sumber, Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek. Di kompleks pemakaman tersebut dimakamkan Adipati Widjoyo Kusumo yang pernah menjabat sebagai Bupati Trenggalek pada 1894-1904.

Sebelum menjadi Bupati Trenggalek, Adipati Widjoyo Kusumo diketahui pernah menjabat sebagai Bupati Probolinggo.

Selain itu, di Kompleks Makam Girimulyo juga dimakamkan Adipati Ario Poerbonegoro yang menjabat sebagai Bupati Trenggalek pada 1904-1932.

Memaknai “Hambeging Bumi”

Peringatan Hari Jadi ke-832 Kabupaten Trenggalek tahun 2026 mengusung tema “Hambeging Bumi”.

Menurut Mochamad Nur Arifin, tema tersebut memiliki dua makna. Pertama, menjadi pengingat bagi aparatur pemerintah untuk bekerja dengan ketulusan dan tetap memberikan manfaat bagi masyarakat dalam berbagai kondisi.

"Tema hari jadi itu bermakna dua hal. Yang pertama dari sisi kita harus berlaku selayaknya bumi. Bumi itu kan diinjak, tapi itu kan menumbuhkan. Bagi aparatur itu sebenarnya itu ciri bagaimana kita ikhlas bekerja. Apapun kondisinya kita tetap bisa menumbuhkan sesuatu yang bermakna bagi masyarakat," terangnya.

Makna kedua berkaitan dengan hubungan manusia dengan lingkungan. Menurutnya, masyarakat perlu terus diberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga keseimbangan dan hidup berdampingan dengan alam.

"Tetapi di satu sisi lain kita tetap mengupayakan memberikan penyadaran kepada masyarakat, terkait pentingnya kita harmoni dengan alam," tutupnya.

Ziarah makam leluhur tersebut pun menjadi bagian dari rangkaian menuju peringatan Hari Jadi ke-832 Kabupaten Trenggalek. Selain mengenang perjalanan sejarah, momentum tersebut menjadi pengingat agar nilai-nilai baik yang ditinggalkan para pendahulu tetap dilanjutkan dalam pembangunan Trenggalek.

#Bupati Trenggalek #Hari Jadi Trenggalek

Komentar 0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Baca Juga