Bukan Cuma Batu Kuno, Prasasti Kamulan Simpan Jejak Lahirnya Identitas Trenggalek

Arkeolog Mudzakir Dwi Cahyono mengungkap Prasasti Kamulan bukan sekadar penanda Hari Jadi Trenggalek, tetapi juga menyimpan jejak identitas dan peradaban yang bertahan hampir seribu tahun.

Bukan Cuma Batu Kuno, Prasasti Kamulan Simpan Jejak Lahirnya Identitas Trenggalek

Sejarawan trenggalek ungkap soal prasasti kamulan. KBRT/Zamz

Ringkasan

  • Prasasti Kamulan disebut sebagai dokumen sejarah penting Trenggalek.
  • Kawasan Kamulan menyimpan banyak temuan arkeologi dari masa Kerajaan Kadiri.
  • Nama Kamulan diperkirakan telah bertahan hampir 1.000 tahun hingga sekarang.

TRENGGALEK – Banyak orang mengenal Prasasti Kamulan sebagai dasar penetapan Hari Jadi Kabupaten Trenggalek. Namun di balik batu bertulis itu, tersimpan kisah panjang tentang identitas sebuah wilayah yang diyakini telah bertahan hampir seribu tahun.

Hal itu diungkap arkeolog sekaligus dosen sejarah Universitas Negeri Malang (UM), Dr. Mudzakir Dwi Cahyono, dalam forum diseminasi kebudayaan bertajuk Prasasti Kamulan dalam Ingatan Kolektif: Visualisasi dan Diskursus Identitas Trenggalek.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian produksi film dokumenter Sunghai yang didukung Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur melalui pendanaan Kementerian Kebudayaan.

Advertisement

Menurut Mudzakir, Prasasti Kamulan tidak hanya berfungsi sebagai penanda sejarah, tetapi juga menjadi bukti tertulis mengenai perjalanan sebuah kawasan yang pernah memiliki peran penting pada masa Kerajaan Kadiri.

"Prasasti Kamulan ini punya alasan yang sangat kuat bahwa lokasi asalnya di satu tempat yang bernama Kamulan," kata Mudzakir.

Ia menjelaskan, kawasan Kamulan yang kini berada di Kecamatan Durenan bukan hanya menyimpan satu prasasti. Berbagai tinggalan arkeologi lain juga ditemukan di sekitarnya, mulai dari bangunan penampung air kuno di Semarum, Candi Brongkah di Kedunglurah, hingga berbagai situs di wilayah Kendalrejo.

Tak hanya itu, para peneliti juga menemukan beragam artefak yang menunjukkan kawasan tersebut pernah menjadi pusat aktivitas masyarakat pada zamannya.

"Kita juga menemukan sejumlah temuan baik itu berupa benda-benda dari logam ya, entah itu perunggu, bahkan logam mulia ataupun mata uang-mata uang kepeng," jelasnya.

Selain logam dan mata uang kuno, ditemukan pula arca Ganesha, arca Durga Mahisasuramardini, saluran air bawah tanah, hingga keramik asing. Rangkaian temuan itu memperkuat dugaan bahwa Kamulan pernah berkembang sebagai kawasan perkotaan dengan peradaban yang maju.

Dalam paparannya, Mudzakir mengisahkan bahwa Kamulan memiliki posisi strategis pada masa akhir Kerajaan Kadiri di bawah pemerintahan Raja Kertajaya atau Dandang Gendis.

Saat kerajaan menghadapi ancaman dari berbagai wilayah, masyarakat Kamulan disebut tetap menunjukkan kesetiaan kepada kerajaan. Sebagai bentuk penghargaan, wilayah tersebut kemudian dijadikan benteng pertahanan untuk mengamankan jalur dari arah selatan Ponorogo.

Atas jasa itu pula, Raja Kertajaya pada tahun 1194 Masehi (1116 Saka) menganugerahkan status sima atau desa perdikan kepada Kamulan, sehingga memperoleh hak-hak istimewa, termasuk pembebasan dari kewajiban pajak tertentu.

Salah satu hal yang menurut Mudzakir paling menarik adalah nama Kamulan yang tetap digunakan hingga sekarang. Menurutnya, keberlangsungan nama sebuah wilayah selama hampir satu milenium merupakan fenomena yang jarang ditemukan.

Ia juga menyampaikan hipotesis mengenai kemungkinan Kamulan pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Hasin, kerajaan bawahan Mataram Kuno yang tercatat dalam sejumlah sumber sejarah.

Hipotesis itu muncul karena adanya kemiripan bunyi antara nama Hasin dengan Sungai Ngasinan, sungai yang membelah kawasan Trenggalek.

"Kamulan yang memiliki jejak-jejak perkotaan di masa lalu itu boleh dipertimbangkan untuk melokasikan pusat pemerintahan atau kadatuan Hasin itu di tempat yang kemudian kita kenal dengan nama Kamulan," terangnya.

Meski masih berupa kajian ilmiah, dugaan tersebut memperkaya pemahaman mengenai posisi strategis Kamulan dalam sejarah Jawa Timur.

Mudzakir juga mengulas perjalanan Prasasti Kamulan yang sempat berada di luar Trenggalek. Saat wilayah Durenan masih menjadi bagian administrasi Tulungagung, prasasti tersebut disimpan di Pendapa Kabupaten Tulungagung sebelum akhirnya dipindahkan ke Museum Wajakensis, yang kini menjadi Museum Daerah Tulungagung.

Beberapa tahun lalu, prasasti bertarikh 31 Agustus 1194 itu akhirnya dikembalikan ke Trenggalek karena memiliki keterkaitan historis yang kuat dengan lokasi asalnya.

Kini, Prasasti Kamulan bukan hanya menjadi koleksi benda cagar budaya, tetapi juga menjadi penanda penting perjalanan sejarah sekaligus identitas Kabupaten Trenggalek yang terus dikenalkan kepada generasi muda melalui berbagai medium, termasuk film dokumenter.

Ikuti WhatsApp Channel

Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!

Join Channel

Advertisement

Artikel Terkait