Askab PSSI Trenggalek Batalkan Piala Presiden, SSB Permata Kampak Protes: Tak Masuk Akal
SSB Permata Kampak memprotes keputusan Askab PSSI Trenggalek yang membatalkan Turnamen Piala Presiden 2026 karena dinilai bertolak belakang dengan daerah lain.
02 Jul 2026 • 16:00 WIB
Owner SSB Permata Kampak, Nanok Duwi Piyarko. KBRT/Zamz
Ringkasan
- SSB Permata Kampak memprotes pembatalan Piala Presiden 2026 oleh Askab PSSI Trenggalek.
- Manajemen SSB menilai alasan legalitas surat Asprov PSSI Jawa Timur tidak konsisten dengan pelaksanaan di daerah lain.
- Askab PSSI Trenggalek menyebut polemik kewenangan Plt Asprov dan belum aktifnya akun SIAP klub menjadi alasan pembatalan.
Kabartrenggalek.com - Keputusan Askab PSSI Trenggalek tidak menggelar Turnamen Piala Presiden 2026 menuai protes dari pelaku sepak bola usia dini. Manajemen Sekolah Sepak Bola (SSB) Permata Kampak menilai alasan pembatalan kompetisi tersebut tidak logis, mengingat sejumlah Askab di Jawa Timur tetap melaksanakan turnamen kelompok umur itu.
Owner SSB Permata Kampak, Nanok Duwi Piyarko, mengatakan dirinya telah meminta penjelasan langsung kepada jajaran pengurus Askab PSSI Trenggalek melalui grup WhatsApp resmi organisasi.
Dalam upaya meminta klarifikasi, Nanok turut melampirkan surat edaran resmi Asprov PSSI Jawa Timur yang berisi mandat pelaksanaan Piala Presiden 2026. Namun, menurutnya, Askab PSSI Trenggalek beralasan tidak dapat menyelenggarakan kompetisi karena surat tersebut hanya ditandatangani oleh Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Asprov PSSI Jawa Timur.
Advertisement
“Ketua Askab berargumen bahwa surat itu hanya mendapat tanda tangan dari Plt Ketua Asprov. Menurut penilaian beliau, seorang Plt tidak memiliki kewenangan legal untuk menggulirkan kompetisi. Namun bagi kami, jawaban itu sangat tidak masuk akal,” kata Nanok.
Nanok mempertanyakan konsistensi kebijakan Askab PSSI Trenggalek. Berdasarkan informasi yang dihimpunnya, sejumlah Askab di Jawa Timur tetap menggelar Piala Presiden 2026 meski di tingkat Asprov PSSI Jawa Timur masih terjadi polemik kepengurusan.
Ia mencontohkan Askab PSSI Tulungagung dan Askab PSSI Kediri yang tetap menjalankan turnamen kelompok usia tersebut.
“Kabupaten terdekat yang berbatasan dengan Trenggalek seperti Tulungagung dan Kediri saja sanggup melaksanakan Piala Presiden 2026. Padahal, kami di Permata Kampak sudah menyiapkan tim dengan sangat matang untuk menyongsong turnamen ini,” ujarnya.
Menurut Nanok, perbedaan kebijakan tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan klub sepak bola di Trenggalek mengenai alasan sebenarnya di balik keputusan Askab PSSI Trenggalek.
“Pertanyaan besar kami, sebenarnya ada apa dengan internal Askab PSSI Trenggalek? Kami sangat menyayangkan keputusan ini karena argumen pengurus belum bisa kami terima secara logis. Jika Askab daerah lain mampu menggelar turnamen, mengapa Trenggalek tidak bisa?” tegasnya.
Bagi SSB Permata Kampak, Turnamen Piala Presiden menjadi wadah penting bagi pemain usia dini untuk menguji kemampuan, menambah pengalaman bertanding, sekaligus mematangkan kesiapan menghadapi kompetisi resmi PSSI. Pembatalan turnamen dinilai membuat pemain kehilangan kesempatan memperoleh pengalaman bertanding yang kompetitif.
Sebelumnya, Ketua Askab PSSI Trenggalek, Puguh Purnomo, menjelaskan keputusan tidak menggelar Piala Presiden 2026 diambil untuk menghindari potensi persoalan hukum dan administrasi. Menurutnya, polemik mengenai kewenangan Plt Ketua Asprov PSSI Jawa Timur masih belum selesai sehingga berisiko terhadap pelaksanaan turnamen.
Selain itu, Puguh menyebut sebagian besar klub di Trenggalek juga belum mengaktifkan akun Sistem Informasi dan Administrasi PSSI (SIAP). Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi salah satu faktor yang membuat penyelenggaraan kompetisi belum memungkinkan.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
TAGS
Advertisement