Warga Patungan Selamatkan Masa Depan SDN 1 Sengon Trenggalek, Donasi Sudah Rp127 Juta
Donasi pembelian lahan SDN 1 Sengon Trenggalek sudah mencapai Rp127 juta dari target Rp200 juta. Warga berharap status tanah sekolah segera jelas.
17 Jul 2026 • 14:00 WIB
Warga patungan beli lahan untuk selamatkan SDN 1 Sengon, Bendungan. KBRT/Zamz
Ringkasan
- Donasi pembelian lahan SDN 1 Sengon terkumpul Rp127 juta.
- Panitia masih membutuhkan Rp73 juta untuk mencapai target.
- Lahan sekolah akan diserahkan menjadi aset Pemkab Trenggalek.
TRENGGALEK – Upaya warga menyelamatkan keberlangsungan SD Negeri 1 Sengon terus berjalan. Penggalangan dana untuk membeli lahan sekolah yang selama ini digunakan untuk kegiatan belajar mengajar kini sudah terkumpul Rp127 juta dari target Rp200 juta.
Gerakan donasi tersebut muncul setelah diketahui lahan yang digunakan SDN 1 Sengon bukan merupakan aset pemerintah, melainkan milik warga. Masyarakat kemudian berinisiatif mengumpulkan dana agar tanah tersebut bisa dibeli dan status sekolah memiliki kepastian hukum.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Trenggalek, Agus Dwi Karyanto, mengatakan proses penggalangan dana masih berlangsung. Ia berharap dukungan masyarakat terus mengalir hingga kebutuhan pembelian lahan dapat terpenuhi.
Advertisement
"Alhamdulillah, untuk pengumpulan donasi sudah terus berjalan. Kemarin saya koordinasi dengan panitia itu sudah terkumpul Rp127 juta. Mudah-mudahan nanti ada masyarakat yang terus bisa ikut memberikan dukungannya, baik berupa materi maupun pemikiran-pemikiran supaya usaha masyarakat untuk segera membeli tanah SDN 1 Sengon bisa segera terealisasi," ujar Agus.
Harga yang ditetapkan pemilik lahan mencapai Rp200 juta. Dengan dana yang sudah terkumpul, panitia masih membutuhkan sekitar Rp73 juta agar proses pembelian bisa dilakukan.
"Kemarin dari pemilik tanah itu minta harga Rp200 juta. Mudah-mudahan tinggal sedikit lagi, doanya saja," katanya.
Agus menjelaskan, rencana penjualan lahan tersebut berasal dari keinginan pemilik tanah yang membutuhkan dana untuk kebutuhan keluarga. Pemerintah daerah, kata dia, tidak melihat persoalan ini sebagai konflik, melainkan upaya menyelesaikan status kepemilikan tanah sekolah.
"Ya sebenarnya bukan sengketa sih. Ini penyelesaian statusnya," ujarnya.
Penggalangan dana ini tidak hanya berasal dari masyarakat sekitar sekolah. Sejumlah alumni SDN 1 Sengon dan berbagai pihak lain turut memberikan dukungan agar sekolah tersebut memiliki lahan sendiri.
"Dari berbagai kalangan, dari masyarakat sekitar, ada yang dari alumni SDN Sengon 1, kemudian ada juga dari teman-teman langsung. Jadi berbagai pihak," jelas Agus.
Jika pembelian lahan berhasil dilakukan, tanah tersebut nantinya direncanakan menjadi aset Pemerintah Kabupaten Trenggalek. Dengan status tersebut, pengembangan fasilitas sekolah di masa depan dinilai akan lebih mudah dilakukan.
"Karena nanti untuk dilakukan pengembangan selanjutnya kalau menjadi milik Pemda kan lebih mudah," katanya.
Agus memastikan persoalan serupa tidak ditemukan di sekolah lain di Trenggalek. Menurutnya, kasus SDN 1 Sengon berbeda dengan sengketa lahan karena fokusnya adalah memastikan kepastian status tanah yang digunakan untuk pendidikan.
"Yang lainnya insyaallah sampai hari ini tidak ada, mudah-mudahan tidak ada. Terakhir kemarin kan SD Parakan itu," ujarnya.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
TAGS
Advertisement