Rupiah Melemah, Harga Elektronik di Trenggalek Berangsur Naik

Pelemahan rupiah hingga Rp18.021 per dolar AS mulai berdampak pada harga elektronik di Trenggalek. Pedagang mengaku harus lebih sering menyesuaikan harga dan menambah modal usaha.

Rupiah Melemah, Harga Elektronik di Trenggalek Berangsur Naik

Marwan (tengah) sedang melayani customer di toko komputer miliknya (MCC) yang terletak di Plaza Kharisma Trenggalek. KBRT/Trigus

Ringkasan

  • Pelemahan rupiah membuat harga elektronik di Trenggalek naik.
  • Pedagang lebih sering memperbarui harga akibat perubahan kurs.
  • Harga laptop Core i3 disebut naik dari Rp5,7 juta menjadi Rp9,2 juta.

TRENGGALEK — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai berdampak pada harga barang elektronik di Kabupaten Trenggalek. Sejumlah penjual mengaku harus menyesuaikan harga karena biaya pengadaan barang terus meningkat.

Marwan, pemilik MCC Komputer di Plaza Kharisma Trenggalek, mengatakan perubahan kurs yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir membuat pelaku usaha lebih sering memperbarui daftar harga.

"Kami kepayahan karena terus melakukan update perubahan harga," kata Marwan saat ditemui, Kamis (4/6/2026).

Advertisement

Menurut dia, fluktuasi nilai tukar sangat memengaruhi harga elektronik yang dijual di pasaran. Sebab, sebagian besar produk maupun komponennya berasal dari luar negeri.

"Soal elektronik pasti 100 persen impor," ujarnya.

Marwan mencontohkan harga laptop dengan prosesor Intel Core i3 yang sebelumnya berada di kisaran Rp5,7 juta kini telah mencapai sekitar Rp9,2 juta.

"Yang kenaikannya paling terasa itu laptop dan penyimpanan data. Tapi laptop juga tidak semua merek sama. Untuk Core i3 merek terkenal sekarang sudah di kisaran Rp8,5 juta sampai Rp9,2 juta," kata Marwan.

Ia menambahkan, kenaikan harga juga terjadi pada perangkat penyimpanan data seperti hard disk eksternal, SSD, flashdisk, dan microSD yang sebagian besar masih bergantung pada pasokan impor.

"Yang paling terasa laptop dan penyimpanan data. Kalau CCTV naiknya sekitar 25 persen," kata Marwan.

Kenaikan harga tersebut, kata dia, juga berdampak pada kebutuhan modal usaha. Meski margin keuntungan tidak berubah, dana yang harus disiapkan untuk membeli stok barang menjadi lebih besar.

"Labanya sama, modalnya tambah," katanya.

Selain kenaikan harga, Marwan juga melihat perubahan pola belanja masyarakat. Dalam kondisi ekonomi normal, penjualan biasanya mulai meningkat setelah tanggal 23 setiap bulan, kemudian bertahan hingga sekitar tanggal 13 atau 14 bulan berikutnya sebelum kembali menurun setelah pertengahan bulan.

Namun pola tersebut tidak terlihat dalam beberapa pekan terakhir. Menurut dia, peningkatan penjualan yang biasanya terjadi menjelang akhir bulan justru tidak muncul.

"Biasanya setelah tanggal 23 penjualan naik sampai awal bulan berikutnya. Tapi sekarang setelah tanggal 23 sampai akhir bulan justru turun. Sampai hari ini, 4 Juni, belum ada tanda-tanda masyarakat belanja secara masif," ujarnya.

Berdasarkan pantauan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada Kamis (4/6/2026) berada di level Rp18.021 per dolar AS. Pelemahan rupiah tersebut meningkatkan biaya impor dan berimbas pada harga berbagai produk elektronik di pasaran.

Ikuti WhatsApp Channel

Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!

Join Channel

Advertisement

Artikel Terkait