Nobar Film "Tanah Runtuh" di Trenggalek Jadi Pengingat Pentingnya Menjaga Persatuan

Polres Trenggalek menggelar nobar film Tanah Runtuh bersama tokoh masyarakat. Film berlatar konflik Poso itu mengajak penonton menjaga persatuan dan kamtibmas.

Nobar Film "Tanah Runtuh" di Trenggalek Jadi Pengingat Pentingnya Menjaga Persatuan

Polres Trenggalek melangsungkan nonton bareng. KBRT/Zamz

Ringkasan

  • Nobar Film Tanah Runtuh digelar Polres Trenggalek sebagai rangkaian Hari Bhayangkara ke-80.
  • Film berlatar konflik Poso mengajak penonton merefleksikan pentingnya menjaga persatuan dan kamtibmas.
  • Tokoh masyarakat dan akademisi menilai pesan kemanusiaan dalam film relevan untuk menjaga kerukunan di Trenggalek

TRENGGALEK – Bukan sekadar menonton film bersama, kegiatan nonton bareng (nobar) Film Tanah Runtuh yang digelar Polres Trenggalek menjadi ruang refleksi tentang pentingnya menjaga persatuan dan keamanan di tengah masyarakat.

Kegiatan yang berlangsung di NSC Cinema Trenggalek itu diikuti puluhan personel Polres Trenggalek bersama tamu undangan dari berbagai unsur masyarakat sebagai rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80.

Film garapan sutradara Rudi Soedjarwo tersebut mengangkat kisah konflik kemanusiaan di Poso, Sulawesi Tengah, pada 2005. Cerita berpusat pada dua kakak beradik yang terpisah dari ibunya saat kerusuhan terjadi, lalu bertemu seorang anggota polisi yang memilih mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan di tengah situasi penuh konflik.

Advertisement

Alur cerita yang sarat pesan kemanusiaan membuat suasana studio bioskop beberapa kali berubah hening. Sejumlah penonton tampak larut dalam emosi hingga menitikkan air mata ketika film berakhir.

Ketua Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Trenggalek, Teguh Wahyudi, menilai film tersebut menyampaikan pesan kuat tentang pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan masing-masing.

"Dari film tadi menyiratkan untuk selalu menjaga Kamtibmas di wilayah masing-masing," kata Teguh Wahyudi usai pemutaran film.

Menurutnya, konflik yang terjadi dalam film menjadi pengingat bahwa kedamaian tidak bisa dianggap sepele. Ketika persatuan mulai luntur, dampaknya akan dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

"Sebab kalau tidak kita jaga, maka yang akan terjadi seperti itu, penyesalan yang terakhir," ujarnya.

Pandangan serupa juga disampaikan perwakilan STKIP PGRI Trenggalek, Lusnia Alin. Ia menilai film tersebut tidak hanya bercerita tentang konflik, tetapi juga menggambarkan besarnya peran keluarga dan aparat kepolisian dalam menjaga keutuhan bangsa.

"Dari film ini saya simpulkan bahwasanya kedua orang tua dan polisi itu sangat hebat sekali untuk memperjuangkan Indonesia maju," tuturnya.

Melalui kegiatan tersebut, Polres Trenggalek berharap pesan yang disampaikan dalam film tidak berhenti di layar bioskop, tetapi menjadi pengingat bersama bahwa menjaga persatuan, toleransi, dan keamanan merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.

Ikuti WhatsApp Channel

Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!

Join Channel

Advertisement

Artikel Terkait