Longsor KM 16 Trenggalek-Ponorogo, Sawah di Lereng Jadi Perhatian Wagub Jatim
Wagub Jatim Emil Dardak menilai keberadaan sawah di atas lereng menjadi faktor risiko longsor di KM 16 jalur Trenggalek–Ponorogo.
06 Mar 2026 • 10:00 WIB
Wakil Guberrnur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak. KBRT/Zamz
Ringkasan
- Struktur batuan muda membuat tebing mudah rontok dan rawan jatuhan batu.
- Pemprov Jatim menyiapkan pemetaan wilayah terdampak dan perbaikan sistem drainase.
TUGU, TRENGGALEK – Keberadaan sawah di atas lereng menjadi salah satu perhatian dalam penanganan longsor di Kilometer 16 jalur nasional Trenggalek–Ponorogo, tepatnya di Desa Nglinggis, Kecamatan Tugu. Hal ini disampaikan Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, saat meninjau kondisi kawasan yang beberapa hari terakhir terdampak longsor.
Menurut Emil, karakter sawah yang memang dirancang untuk menahan air berpotensi memperbesar risiko pergerakan tanah di lereng yang memiliki struktur batuan rapuh.
“Meskipun irigasinya dialihkan, sawah itu memang didesain untuk menyimpan air. Kondisi ini tidak kompatibel dengan upaya menjaga stabilitas lereng, apalagi di atas batuan vulkanik muda yang mudah rontok sehingga berpotensi menimbulkan rock fall dan bidang licin atau sliding line,” ujar Emil.
Advertisement
Ia menjelaskan, kondisi geologi di kawasan tersebut membuat potensi longsor tidak bisa dianggap sederhana. Batuan vulkanik muda yang menyusun tebing mudah terlepas, terlebih jika tanah di atasnya jenuh air.
Karena itu, keberadaan sawah di bagian atas lereng dinilai perlu mendapat perhatian serius. Selain berisiko bagi pengguna jalan di bawah, potensi bahaya juga bisa mengancam warga yang tinggal di area atas lereng.
“Adanya sawah di atas lereng ini perlu disikapi serius karena berbahaya bagi warga yang berada di bawah, bahkan juga bagi yang tinggal di atas lereng. Kita tidak ingin kejadian seperti ini terulang kembali,” katanya.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur kini mulai melakukan pemetaan wilayah yang terdampak untuk mengetahui seberapa besar dampak longsor terhadap masyarakat di sekitar lokasi.
Langkah ini mencakup pendataan warga yang tinggal di sekitar area rawan, termasuk kemungkinan dampak terhadap sumber penghidupan mereka.
“Kita sudah meminta segera dilakukan delineasi agar diketahui berapa warga yang terdampak secara domisili maupun penghidupan, sehingga langkah penanganan bisa segera dilakukan untuk meminimalkan risiko,” jelas Emil.
Selain itu, Emil juga menyoroti pentingnya pengaturan aliran air di kawasan tersebut. Menurutnya, air yang meresap ke dalam tanah di sekitar lereng bisa memicu retakan dan mempercepat terjadinya longsor.
Karena itu, sistem drainase dinilai menjadi salah satu kunci untuk mengurangi risiko di masa depan.
“Air harus diberi jalan melalui drainase atau cross drain agar tidak meresap ke bawah. Jika air masuk ke dalam tanah di sekitar badan jalan, retakan bisa terjadi tiba-tiba dan memicu longsor,” kata dia.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
Advertisement
Artikel Terkait
Wagub Jatim Emil Dardak Kunjungi Lokasi Longsor KM 16 Trenggalek-Ponorogo: Penanganan Harus Hati-hati
Batu Raksasa Penutup Jalur Trenggalek–Ponorogo Berhasil Dievakuasi